The news is by your side.

Kelompok Pembela HAM Meminta Tentara Indonesia untuk Menghentikan Tes Keperawanan

81

Jakarta, Indonesia. Militer dan kepolisian di Indonesia masih menjalankan tes keperawanan kepada calon pegawainya walaupun Badan Kesehatan Internasional PBB WHO telah mendeklarasikan bahwa tes keperawanan tidak valid secara, tutur salah satu kelompok pembela HAM internasional hari Rabu kemarin.

Human Rights Watch (HRW) atau Pengawas HAM menuturkan bahwa petugas kepolisian dan tentara Indonesia masih mewajibkan ‘tes yang kejam dan penuh diskriminasi’ itu, yang dilakukan dengan kedok sebagai tes psikologis untuk kesehatan mental dan uji moralitas.

“Pemerintah Indonesia yang terus mentolerir uji keperawanan yang abusif ini di lingkungan penegak hukum di Indonesia menunjukkan kurangnya kepedulian politis pemerintah untuk melindungi wanita di Indonesia,” tutur Nisha Varia, seorang aktivis HAM yang juga direktur HRW.

Kelompok ini meminta presiden RI, Bapak Jokowi untuk menghentikan para petugas militer dan kepolisian untuk melanjutkan tindakan ini.

Tes ini dilakukan dengan standar “uji 2 jari” untuk menentukan apakah para pelamar wanita masih perawan atau tidak. Padahal WHO di tahun 2014 secara resmi telah menerbitkan panduan klinikalnya bahwa tes keperawanan dengan cara seperti ini adalah sebuat tindakan kekerasan seksual dan tidak berdasar pada dasar ilmiah apapun.

Pihak tentara Indonesia tidak merespon dalam hal ini. Tiga tahun lalu ujian ini dilakukan untuk mempertahankan moralitas institusi.

Humas Kepolisian RI, Setyo Wasisto mengatakan bahwa institusi sudah menghentikan uji keperawanan 3 tahun yang lalu. Baru-baru ini ia mengatakan tes kesehatan untuk pria dan wanita hanya untuk mengecek adanya kelainan pada kelamin dan pengujian untuk wanita juga dilakukan oleh petugas kesehatan wanita.

HRW memaparkan bahwa mereka menemukan para pelamar yang tidak lulus uji keperawanan memang tidak diberikan pinalti atau hukuman apapun, tapi mereka mengaku bahwa ujian itu sudah membuat mereka trauma, malu dan sangat menyakitkan.

HRW juga mendokumentasikan penggunaan uji keperawanan yang dilakukan di Mesir, Indoa, dan Afganistan dan mengkritisi uji keperawanan yang sempat akan dilakukan di Indonesia.

Mereka berkata bahwa selain memaksakan ujia ini selama bertahun-tahun, tentara Indonesia juga memberlakukan untuk menikah dengan sesama angkatan di tentara.

Leave A Reply

Your email address will not be published.