Weather , , 0°C

Harian Inhua Online

BERITA INHUA

 Breaking News

Kalimat Penolakan yang Membuat Trauma

Kalimat Penolakan yang Membuat Trauma
February 15
12:10 2018

Prakoso (23), seorang fotografer lepas, masih ingat betul kalimat yang terlontar dari kekasihnya saat SMA dulu. Dari kalimat itu pula kisah asmara keduanya yang berlangsung hampir setahun akhirnya tak berlanjut.

Alfi kebingungan, karena kalimat tersebut terasa amat janggal. Sebagai anak SMA yang mulai mencari uang sendiri, kala itu dia berpikir harus memberikan yang terbaik yang dia bisa lakukan kepada pasangannya. Dia ingat bagaimana momen saat menonton film di bioskop, mengajak makan bersama, memberi bunga di hari valentine, dan menghadiahi boneka beruang yang memeluk hati berwarna ungu di hari ulang tahun sang pacar. Dia mengusahakan yang dia mampu untuk sang pujaan.

“Dengan kalimat itu, dia pede-pede aja (putus), terus gue penasaran. Sekalinya mencoba ngulik kenapa jawabannya itu, akhirnya sakit hati berkepanjangan, bertahun-tahun. Kan gawat,” ucapnya.

Apa yang dialami Alfi sudah lazim dalam hubungan asmara kaum remaja. Ungkapan penolakan semacam itu seakan-akan menjadi kalimat langganan yang sering terucapIra Mirawati, Dosen Program Studi Manajemen Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dan pengelola situs konseling remaja sobatmu.com, perempuan cenderung memakai kalimat itu demi menjaga hubungan terdahulu sebelum penyataan cinta atau hubungan terjalin bisa tetap baik. Terlebih ada nilai sosial berbeda di antara laki-laki dan perempuan dalam lika-liku percintaan.

Perempuan bisa menggunakan kalimat itu untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya, misalnya menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Bagaimanapun kalimat tersebut sekadar alasan, bukan berarti orang tersebut enggan mendapatkan pasangan yang terbaik untuknya.  Namun alangkah penting menyampaikan apa yang sebenarnya secara asertif, kemampuan berkomunikasi dengan jujur tanpa merugikan orang lain.

Menyampaikan kebaikan orang lain dalam percakapan secara jujur dan tidak dibuat-buat memainkan peran krusial dalam momen tersebut. Sekalipun mengungkapkan penolakan, tapi jangan sampai kalimat menghina dan merendahkan yang malah keluar.“Dari sisi komunikasi, upaya membuat penolakan tetap berakhir dengan ujung yang indah itu tetap lebih baik,” ungkap Ira.

Ucapan ‘baik’ yang secara umum dipersepsikan sebagai kesopansantunan, kehangatan, kecermatan, dan rasa hormat, untuk menyangkut minat romantis ternyata dimaknai berkebalikan seperti membosankan, tidak menarik, mudah tertebak.

Kalimat Penolakan yang Membuat Trauma

Penulis buku Improving Your Relationship for Dummies, Paula Hall meyakini ‘terlalu baik’ di sini hadir disebabkan laki-laki kurang merangsang perempuan secara mental saat memadu kasih. Sederhananya, hubungan terlalu menjemukan. Kemampuan mengelola konflik diyakini menjadi variabel penting bagi pasangan mempertahankan dan merasa bangga atas hubungan. Memang banyak tafsiran di balik kalimat “Kamu terlalu baik buat aku”. Dr. Miro Gudelsky, terapis seks asal Manhattan, memberi pernyataan yang hampir senada.

Dia menyebutkan perempuan sebetulnya mengucapkannya karena menginginkan kisah asmara yang sedikit lebih menantang dan menyajikan risiko, ketimbang mengatakan blak-blakan kalau laki-laki tersebut tidak mengundang ketertarikan seksual. Bisa juga memang terucap karena meyakini sang kekasih pantas mendapatkan pasangan yang lebih baik daripada dirinya. Seorang pelatih kencan di Laguna Niguel, California, Christine Baumgater meyakini masa lalu yang kurang menyenangkan memungkinkan seseorang pesimistis bisa layak mendapati kekasih yang baik untuknya.

Jadi, apapun yang dilakukan pasangan barunya bisa mencapai dosis ‘terlalu’ dalam pandangannya. Ada idiom dalam bahasa Inggris berbunyi, ‘Nice guys finish last’ yang berkaitan dengan kalimat iniLaki-laki yang baik hanya finis belakangan, karena selalu menempatkan pasangannya di posisi pertama. Geoffrey C. Urbaniak dan Peter R. Kilmann dalam penelitiannya berjudul Physical Attractivenes and the ‘Nice Guy Paradox”: Do Nice Guy Really Finish Last?” didasari asumsi perempuan memang menginginkan laki-laki yang baik, tapi kerap kali sikapnya justru berkebalikan.

Penelitian Urbaniak dan Killman menyimpulkan bahwa kebaikan dan ketertarikan fisik memang memengaruhi perempuan memilih pasangan dan tingkat kepuasan mereka atas laki-laki yang diidamkan. Kebaikan yang tidak dibuat-dibuat menjadi faktor kunci yang muncul kalau berbicara menjalin hubungan serius.

Sementara faktor fisik menjadi lebih penting dalam konteks hubungan yang santai. Dengan kriteria tertentu, kedua peneliti menggambarkan sosok seorang “Todd baik” (sopan, penuh perhatian, dan ekspresif), “Todd biasa” (netral & biasa-biasa saja), dan “Todd nakal” (tidak peka, egois, & macho) yang dibandingkan dengan sosok Michael yang cenderung punya karakter ketiga Todd .

Hasilnya, 48 responden memilih “Todd baik” untuk berkencan, menjadi kekasih, dan berkomitmen dalam pernikahan. “Todd baik” kurang dipilih sebagai rekan cinta satu malam, karena “Todd biasa” dengan karakteristiknya lebih dipilih responden.

Apakah baik sudah cukup? Penelitian L.A. Jensen-Campbell, dkk. dengan judul Dominance, Prosocial orientation, and female preferences: Do Nice guys really finish last? menjawab tidak sepenuhnya tepat. Memang, bersikap baik kemudian memengaruhi daya tarik fisik, daya tarik seksual, dan hasrat berkencan bagi laki-laki di hadapan perempuan, tapi itu diikuti dengan bukti dominasi sosial. Sementara dominasi tanpa dilatari sikap baik, hanya menghasilkan kesia-siaan.

Sikap baik nyatanya menjadi fondasi karakter laki-laki yang memengaruhi preferensi perempuan. Ira Mirawati menekankan, sekalipun diberikan kalimat seperti itu, jangan sampai membuat patah arang dalam berbuat baik atau malah bersikap berkebalikan secara drastis.  Selagi memang kebaikan itu datang dasar hati, bukan sesuatu yang artifisial. Kebaikan palsu hanya memunculkan kesan pamrih untuk setiap pemberian.

Mencari tahu alasan sebenarnya tentu sah-sah saja. Tidak melulu harus kepada si pengucap kalimat, teman dekat bisa menjadi pilihan sumber informasi. Bagaimanapun jodoh harus diyakini sebagai salah satu takdir Tuhan, sehingga tidak perlu trauma atas penolakan sekalipun tanpa disertai alasan jujur.

“Kalau tidak ada (yang perlu diperbaiki) jangan memaksa untuk berubah, karena harus diakui orang bakal dipertemukan jodoh yang tepat untuknya,” tegas Ira.

Rasanya juga penting untuk menghayati ucapan pakar psikoanalisis Sigmund Freud, “Kita benar-benar hanya tahu sedikit sekali tentang cinta”.

TIRTO

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment