The news is by your side.

Inilah Mengapa Investor Cina Gemar Menanam Modal di Indonesia

13

Sudah bukan rahasia lagi bahwasanya banyak investor dari Cina yang gemar menanamkan modal di Indonesia. Berbagai bidang, mulai dari mediae-commerce, hingga virtual realitymenjadi lahan yang menggiurkan untuk digarap. Ini memunculkan pertanyaan, sebenarnya mengapa sih mereka begitu berminat berinvestasi di Indonesia? Apa spesialnya Indonesia dibanding negara-negara lain?

Empat praktisi investasi dari Cina umembeberkan alasan di balik minat tersebut. Mereka adalah Founder Convergence Ventures Adrian Li , Founder 01VC Ian Goh , Tony Qu (managing partnerATM Capital), serta Partner AppWorks Ventures Joseph Chan. Apa kata mereka, mari simak di bawah.


Potensi dan kekurangan investasi di Indonesia

Berbicara potensi di Indonesia, tentu kita sudah paham bahwa jumlah rakyat Indonesia yang sangat besar merupakan pasar potensial. Tapi kelebihan kita tidak hanya itu. Salah satu hal menarik di Indonesia adalah bahwa selama empat hingga lima tahun belakangan, data sudah menunjukkan siapa saja “pemain” yang keluar sebagai pemenang. Artinya memilih perusahaan apa yang patut diinvestasi bukan hal sulit.

Pemerintah Indonesia juga terus aktif melakukan regulasi terhadap pergerakan ekonomi digital, terutama di sisi fintech. Saat ini para investor Cina memang sedang giat berekspansi ke wilayah Asia Tenggara, dengan dua sektor sebagai fokus yaitu e-commerce serta dompet digital. Iklim regulasi Indonesia yang cenderung bersahabat ini sejalan dengan visi mereka.

China Investors | Photo 1

Dari kiri ke kanan: Adrian Li, Ian Goh, Joseph Chan, dan Tony Qu

Menurut mereka, suburnya fintech di negara ini disebabkan oleh dua hal, yaitu:

  • Buruknya kondisi perbankan di Indonesia
  • Tingginya minat kawula muda terhadap teknologi.

Transaksi bank di Indonesia tergolong tidak efektif, bahkan lambat. Jadi di kalangan muda yang tech savvy, layanan alternatif akan disambut dengan gembira, baik itu di ranah B2B, B2C, ataupun C2C.

Bukan berarti Indonesia tidak punya hambatan. Kendala klasik yang hingga kini masih perlu kita benahi adalah masalah infrastruktur. Tapi hambatan ini pun bisa dipandang sebagai oportunitas. Para investor Cina berminat untuk membawa teknologi masuk ke Indonesia untuk meningkatkan kualitas internet di sini.


Indonesia dan Cina punya banyak kemiripan

Para investor Cina mengincar wilayah Asia Tenggara sebagai sasaran ekspansi, tapi Indonesia punya alasan khusus yang membuatnya menarik. Ini karena Indonesia memiliki kemiripan dengan Cina di zaman dulu. Kondisi Indonesia di tahun 2017 mirip dengan Cina di tahun 2004, atau dengan India di tahun 2007.

Apa saja yang kemiripannya?

  • Banyaknya startup yang bermunculan dengan penuh semangat.
  • Minat terhadap e-commerce yang sangat tinggi.
  • Kondisi teknologi yang mobile-first.
  • Jumlah modal yang berputar di industri digital Indonesia masih tergolong kecil.
read also

Ketika Cina berada pada kondisi yang sama dulu, para investor dari Silicon Valley berbondong-bondong datang untuk membawa modal. Hasilnya, industri digital Cina pun berkembang sangat pesat. Sama seperti itu, Cina sekarang ingin menjadi “Silicon Valley-nya Indonesia”.


Menghormati kekuatan pemain lokal

Meski getol melakukan penetrasi ke Indonesia, para investor asing ini juga paham bahwa Indonesia memiliki pemain-pemain lokal yang hebat. Justru mereka merasa perusahaan lokal Indonesialah yang akan menjadi penguasa di sini. Raksasa-raksasa digital Indonesia masih terus tumbuh, dan kelak akan menjadi raksasa di tingkat regional Asia Tenggara.

Kekuatan lokal yang solid ini tumbuh karena berbagai faktor. Salah satunya adalah pengetahuan tentang medan. Orang-orang Indonesia lebih tahu apa yang diinginkan oleh pasar Indonesia. Contohnya, di sini media dan entertainment sangat populer, tapi dua hal itu tidak begitu besar di Amerika dan Cina.

GO-JEK | Photo 1

Perusahaan seperti GO-JEK telah mengubah pipeline logistik di Indonesia | Sumber Gambar: Formation Group

Masalah logistik juga bukan sesuatu yang bisa dikuasai dalam waktu singkat. Raksasa-raksasa e-commerce di Indonesia tidak hanya menjual barang. Mereka juga menjual pipeline (alur kerja) logistik. Ini hanya bisa didapatkan bila kita sudah “bermain” untuk waktu yang lama.


Yang mereka inginkan dari Indonesia

Ketika ditanya tentang apa sektor yang paling penting digarap di startup Indonesia, keempat investor memberikan jawaban yang berbeda-beda. Adrian Li beranggapan bahwa yang terpenting adalah grit alias keteguhan hati. Menjadi entrepreneur merupakan pekerjaan sangat berat, dan kita tidak bisa menyuruh seseorang untuk mengerjakan sektor ini atau sektor itu. Kita harus menuruti kata hati, lalu dari situ mencari founder market fit.

Ian Goh di sisi lain menganggap bahwa sektor mobilitas/logistik, fintech, serta B2B adalah sektor terpanas saat ini. Ia ingin sektor-sektor ini lebih digalakkan di Indonesia. Selain itu, startup butuh passion dan kemampuan untuk membentuk tim yang hebat. Kita tidak boleh menjadi “lone ranger”.

Sementara itu Joseph Chan berpendapat simpel saja: just go online. Apa pun yang kamu kerjakan, yang terpenting kamu harus menyelesaikan sebuah masalah yang nyata. Manfaatkan internet untuk menciptakan solusi, maka investor akan membuka pintu untuk bekerja sama dan mengubah pasar.

Terakhir, Tony Qu merasa bahwa hal terpenting yang perlu dilakukan adalah menjalin persahabatan dengan pemain lokal. Untuk melakukan ini, Tony Qu siap berpindah domisili ke Jakarta, bahkan mempelajari bahasa Indonesia dalam waktu dekat. Ia yakin, di antara para pegiat startup Indonesia, ada seseorang yang akan menjadi Jack Ma berikutnya. (TechInAsia)

Leave A Reply

Your email address will not be published.