Kegiatan edukasi itu dilakukan sekaligus dalam rangka menyambut peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2020.

Sesi edukasi berlangsung virtual dengan membahas tren kesehatan mental remaja saat ini dan juga berbagi tips praktis.

“Kami percaya bahwa melindungi hak anak, termasuk dalam menjaga kesehatan mental mereka merupakan kunci keberhasilan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas,” kata VP Marketing Halodoc Felicia Kawilarang, dalam siaran persnya, Kamis.

Dia menjelaskan bahwa inisiatif edukasi ini dilakukan mengingat masih tingginya statistik yang mengindikasi maraknya gangguan mental pada anak, khususnya di usia remaja. Di Indonesia.

Berdasarkan hasil Riskesdas 2018 menemukan bahwa prevalensi gangguan mental emosional remaja usia di atas 15 tahun meningkat menjadi 9,8 persen dari yang sebelumnya 6 persen di tahun 2013. Organisasi kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat 15 persen anak remaja di negara berkembang berpikiran untuk bunuh diri.

“Gangguan mental pada usia anak hingga remaja dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka termasuk menyebabkan masalah pada perilaku, gangguan emosional dan sosial, gangguan perkembangan dan belajar, gangguan perilaku makan dan kesehatan, hingga gangguan relasi dengan orang tua,” ujar Psikolog Anak Annelia Sari Sani.

Masih tingginya stigma negatif bagi pengidap gangguan mental dan keterbatasan kapasitas tenaga profesional, serta fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan khusus kesehatan mental masih menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Untuk itu, diharapkan dengan kehadiran telemedicine seperti ini dapat menjadi salah satu solusi atas keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan mental di Indonesia.

Pemanfaatan telemedicine juga menjadi salah satu solusi deteksi dan konsultasi gangguan mental pada anak secara lebih mudah, aman, dan terjangkau dengan privasi yang tetap terjaga.