Tradisi pengurus Masjid Cheng Hoo Surabaya menggelar halal bihalal setiap tahun mendapat apresiasi masyarakat, terbukti hampir seribu tamu undangan selalu memenuhi tempat duduk yang disediakan panitia. Bahkan para ulama dan habaib Jatim menyempatkan hadir setiap tahun mendukung acara halal bihalal yang penuh kekeluargaan tersebut.

Nurawi Ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) pada kesempatan itu melaporkan perkembangan dan keberadaan fasilitas yang dimiliki Masjid Cheng Hoo salah satunya sekolah TK Istana Balita didirikan 14 tahun lalu dan SD Cheng Hoo berdiri dua tahun lalu. Kedua sekolah tersebut mengajarkan selain pendidikan umum juga kecakapan berbahasa Indonesia, Mandarin, Inggris dan Arab.
“Para murid di kedua sekolah kami banyak mengukir prestasi baik tingkat Surabaya maupun Jatim,” jelas Nurawi.
Setiap kegiatan yang digelar YHMCHI – PITI Jatim pun selalu menampilkan kemampuan murid-murid di kedua sekolah baik tarian, nyanyian, drama hingga puisi empat bahasa. Seperti saat acara halal bihalal murid SD Cheng Hoo menyapa para hadirin dengan bahasa Mandarin lalu melantunkan pujian bahasa Arab.
Malam itu Ketua Dewan Penasihat YMCHI Jos Soetomo yang juga pendiri Masjid Cheng Hoo Samarinda menyempatkan hadir dan meminta masyarakat selalu menjaga NKRI, karena dalam Islam bekerjasama dalam hal kebaikan dan mempererat tali persaudaraan sangat dianjurkan dan diajarkan.
Halal bi halal bukanlah kalimat bahasa Arab, tapi istilah yang digagas Presiden Soekarno untuk mengatasi situasi politik di tanah pada 1948. Kemudian KH. Wahab Chasbullah yang dipanggil Soekarno memberi masukan dengan kata ‘Halal bi halal’ yakni saling memaafkan, saling menghalalkan dan bertemu duduk satu meja untuk elit politik yang bertengkar serta tidak mau bertemu dalam satu forum.
Dari saran KH. Wahab Chasbullah itulah kemudian Bung Karno pada Idul Fitri mengundang semua tokoh politik datang ke Istana Negara menghadiri silaturrahmi yang diberi judul “Halal bi Halal’. Akhirnya mereka duduk satu meja sebagai babak baru menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak itu pula orang pemerintahan menyelenggarakan ‘Halal bi Halal’ yang kemudian diikuti masyarakat biasa.
Namun kegiatan Halal bi Halal sebelumnya telah menjadi agenda rutin Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyawa, setelah Idul Fitri sebagai pertemuan raja dengan punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Halal bi halal yang dicetuskan KH. Wahab Chasbullah sebagai jalan mencari penyelesaian masalah mencari keharmonisan hubungan dengan cara saling memaafkan.
Zahrul Azhar Asad dari Ponpes Darul Ulum Jombang yang bertindak sebagai penceramah malam itu juga menjelaskan arti Islam Nusantara yang sering menjadi polemik. “Islam Nusantara itu cara pandang Islam di tanah air. Seperti selamatan, makan kupat, halal bi halal dan sebagainya yang sudah dilakukan masyarakat dalam keseharian. Konsep Islam Nusantara cara berislam yang asyik,” terangnya.
Dalam Halal bi Halal YHMCHI-PITI Jatim hadir Indah Kurnia anggota DPR RI Komisi XI, perwakilan instansi, TNI Polri, konjen, perwakilan berbagai agama dan masyarakat. (AV)






