Dia menyarankan penghematan penggunaan vaksin dan memberikan prioritas kepada orang-orang yang lebih membutuhkan, seperti penduduk setempat yang bekerja di negara berisiko tinggi atau petugas kesehatan yang sehari-hari bersinggungan dengan wabah tersebut.
“Karena sebelumnya tidak ada pengembangan vaksin COVID-19, maka kasus ini menjadi hal yang utama dalam tataran ilmu pengetahuan. Ada kemungkinan vaksin itu menimbulkan efek ADE yang pertama kali akan kami hadapi,” ujar Gao dikutip beberapa media di China.
Kasus ADE atau antibody-dependent enhancement pernah terjadi pada vaksinasi demam berdarah tahun 2017 sehingga salah satu negara menarik peredaran vaksin tersebut setelah ditemukan seorang anak sangat sensitif terhadap virus penyakit lain setelah disuntik vaksin tersebut.
“Meskipun belum ada laporan pernah terjadi pada vaksin COVID-19, kami tetap mewaspadai efek ADE pada pengembangan vaksin ini,” kata Gao.