Beijing) – Tombol jeda atau “pause button” proyek kerja sama dalam kerangka Prakarsa Sabuk Jalan (BRI) tidak akan ditekan meskipun terjadi pandemi COVID-19, demikian penegasan Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

Dalam memimpin pertemuan daring pejabat tinggi negara-negara anggota BRI di wilayah Asia-Pasifik, Rabu (23/6), Wang menyatakan bahwa kerja sama BRI telah mengalami kemajuan dan memiliki pertahanan yang kuat dalam menghadapi badai pandemi.

Ia menyebutkan 140 negara telah menandatangani kesepakatan dengan China melalui kerangka BRI lebih dari delapan tahun sejak 2013.

Total nilai perdagangan antara China dan mitra kerja samanya di BRI telah mencapai 9,2 triliun dolar AS dan perusahaan-perusahaan China juga telah berinvestasi di negara mitra BRI tersebut hingga mencapai 130 miliar dolar AS, sebut Wang yang juga anggota Dewan Negara atau semacam menteri koordinator tersebut.

“BRI telah menjadi platform paling luas dan berskala terbesar dalam kerja sama internasional yang membawa peluang dan manfaat bagi negara-negara di seluruh dunia,” ujarnya.

Wang menggarisbawahi bahwa kerja sama saling yang menguntungkan, terbuka, dan inklusif telah menjadi prinsip dasar BRI.

“Meskipun diinisiasi oleh China, BRI memberikan kesempatan dan manfaat bagi semua peserta,” ucapnya.

Informasi yang dihimpun Antara Beijing dari Kementerian Luar Negeri China, pertemuan pada Rabu itu menghasilkan enam konsensus yang di antaranya terkait dengan peningkatan kerja sama di tengah pandemi, distribusi vaksin yang lebih merata, pembangunan Jalur Sutera Hijau, liberalisasi perdagangan dan investasi, dan percepatan implementasi agenda pembangunan berkelanjutan 2030.

Ada dua konsensus lain yang ditekan para peserta pertemuan tersebut, yakni kerja sama internasional di bidang penelitian, pengembangan, dan distribusi vaksin COVID-19 dan program pembangunan infrastruktur rendah karbon yang berkelanjutan.