Chao Hun Fan Wujud Kasih Sayang Kepada Arwah Telantar

0 2

InhuaOnline, Singkawang – Chao Hun Fan adalah sebuah tradisi spiritual masyarakat Tionghoa yang perlu dirawat dan dilestarikan. Dalam tradisi ini, kekuatan yin dan yang diselaraskan dengan kehidupan umat manusia.

Ini adalah tradisi yang dilaksanakan setiap tanggal 15, bulan ke 7 penanggalan Kalender Imlek. Suasana di kompleks pemakaman Tionghoa, Jalan Pulau Natuna, Kelurahan Pasiran, Singkawang Barat Minggu 22 Agustus 2021 terlihat tidak seperti biasanya.

Sekilas terlihat seperti atraksi Tatung pada Festival Cap Go Meh, tetapi sebenarnya itu adalah Chao Hun Fan, salah satu ritual peninggalan masyarakat Tionghoa yang hingga saat ini masih terus dijaga dan dipertahankan.

Chao Hun Fan merupakan salah satu warisan budaya Tionghoa yang setiap tahunnya dilaksanakan pada bulan 7 tanggal 15 penanggalan kalender Tiongkok. Ritual ini bertujuan untuk memberikan dana persembahan makanan dan minuman kepada Leluhur, kerabat keluarga yang telah meninggal dunia,seeta roh-roh yang tidak terurus oleh anggota keluarga yang masih hidup di dunia.

Dalam upacara pemberkatan Chao Hun Fan ini, berbagai macam sesaji dipersiapkan. Diantaranya berupa Nasi, mie, beraneka ragam masakan dan minuman, serta buah-buahan yang semuanya itu, khusus dipersembahkan kepada Leluhur dan Arwah Telantar.

Setelah semua persembahan siap, kemudian digelar diatas meja, dengan di pimpin oleh seorang Tatung yang melaksanakan ritual sembahyang dan berdoa dengan khusyuk untuk memanggil nama Leluhur dan mengundang Arwah Telantar untuk menikmati hidangan yang disajikan.

 

Ritual mengundang arwah untuk menikmati persembahan dana makanan seperti ini, boleh punah di beberapa daerah di Indonesia, namun tidak sama dengan Kota Seribu Kelenteng Singkawang yang hingga saat ini masih tetap mempertahankan dan melestarikan ajang yang memiliki potensi menarik kunjungan wisatawan itu.

Kelenteng Tho Fab Shen Kiun yang terletak di Jalan Pulau Belitung, Kelurahan Pasiran, Kecamatan Singkawang Barat, Kota Singkawang adalah salah satunya yang masih peduli pada pelaksanaan upacara-upacara peninggalan warisan leluhur.

Mereka masih meyakini akan manfaat dari pelaksanaan upacara persembahan dana makanan yang sudah terselenggara sejak zaman dahulu, sehingga mereka masih melestarikan Ritual Zhao Hun Fan. Upacara pemanggilan arwah diiringi bunyi-bunyian musik gong, chaim, dan tambur dipimpin oleh seorang Suhu Spritual atau Tatung yang membacakan
paritta suci atau keng pemberkatan para arwah gentayangan.

Ada kepercayaan masyarakat Tionghoa yang mempercayai bahwa pada moment sembahyang Shi Ku, pintu akherat terbuka lebar dan pada saat itu arwah-arwah yang berada di alam akherat diberi kesempatan keluar dan turun ke dunia.

Moment tersebut dimanfaatkan oleh manusia yang masih hidup di dunia, menyiapkan ritual khusus untuk memberikan pemberkatan dan persembahan kepada arwah yang terlantar tersebut. Selain dana makanan, juga disediakan uang-uangan kertas, pakaian, obat- obatan, rumah-rumahan serta perabot rumah tangga yang terbuat dari kertas. Barang-barang tersebut setelah pelaksanaan ritual sembahyang, akan dibakar untuk dipersembahkan kepada para arwah.

“Pada upacara Zhao Hun Fan ini, kita melakukan upacara pemanggilan arwah untuk menuju ke tempat yang telah kita sediakan yang sudah tersedia berbagai jenis persembahan dana makanan. Tindakan ini kita lakukan sebagai suatu perwujudan rasa cinta kasih kepada sesama makhluk.

Upacara Chao Hun Fan ini merupakan kegiatan rutin yang kami laksanakan setiap tahun, pada tanggal 15, bulan 7 penanggalan kalender Imlek. Upacara ini sudah kami laksanakan selama 62 tahun secara turun temurun,” kata Suhu Chi Su Fan yang dinaungi Dewa Nam Shan Nyi Fab, dikonfirmasi koran HarianInHua.

Disampaikannya, dalam upacara Chao Hun Fan, pihaknya mempersiapkan sebanyak 35 meja yang dipenuhi berbagai macam masakan yang khusus dipersembahkan kepada arwah.
Ia menjelaskan, setiap meja dipersiapkan sembilan jenis bahan masakan yang dilengkapi dengan peralatan makan seperti piring, mangkok, sendok, sumpit, dan gelas.

“Selain itu kami juga membakar berbagai perlengkapan sembahyang, termasuk uang-uangan kertas dengan tujuan mengantarkan persembahan kepada arwah dan mengeratkan hubungan antar sesama makhluk sembari menunggu ritual sembahyang Shi Ku yang merupakan puncak dari acara sembahyang Zhong Yuan,” ujarnya.

Dikatakannya, Chao Hun Fan merupakan ritual penghormatan berupa persembahan makanan dan minuman kepada Leluhur dan Arwah Telantar. Saya sangat mendukung ritual sepeti ini. Apalagi seiring perkembangan zaman, ritual ini mulai diitinggalkan.

“Kita sangat berharap ke depan, ritual Chao Hun Fan seperti ini, bisa terus dijaga dan dilestarikan, didukung Pemerintah Kota Singkawang, untuk turut mempromosikannya” harapnya.

Chao Hun Fan juga sebagai ungkapan cinta kasih dan welas asih kepada arwah telantar yang tidak disembahyangi keluarga, dengan harapan agar mengetahui perbuatan baik yang dilakukan, kemudian ikut berbahagia atas perbuatan baik yang dilakukan sehingga dapat terlahir di alam Sukawati.

Ritual Chao Hun sebenarnya bisa diagendakan dan dikemas dengan baik, dan harus bersinergi dengan Pemerintah agar jadi bahan pembelajaran tentang kebudayaan Tionghoa yang ada di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, dan Indonesia.

Chao Hun Fan merupakan upacara pemberkatan terakhir dari Perayaan Sembahyang Zhong Yuan untuk menghantarkan arwah Leluhur, kerabat keluarga, dan Arwah Telantar Kembali ke Alam Akhirat (Rio Dharmawan)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.