Ada yang menarik dari akhir Jember Fashion Carnaval International 2018 bertema Asia Light yakni dengan tampilnya parade seniman Bila Lian atau seni mengubah wajah ala drama kuno Tiongkok yang sangat pupuler. Seni mengubah wajah dilakukan berkali-kali dalam hitungan semenit dengan gerakan sangat cepat sekali.
Para pemain Bila Lian biasanya mengecat wajahnya dengan warna menyolok semacam topeng didukung kostum yang dikenakan. Saat pertunjukkan, seniman Bila Lian menunjukkan ekspresi senang, marah, gelisah dan sebagainya, sesuai lakon yang diperankan. Mereka bersalin wajah dengan gerakan cepat mengalahkan pandangan mata penonton yang berusaha mengikuti proses perubahannya.

Bila Lian menjadi pertunjukkan menarik dalam opera Sichuan di Cheng Du, Provinsi Sichuan, Tiongkok. Dalam sejarah, seni Bila Lian dikenal sejak 300 tahun lalu di masa Dinasty Qing pada pemerintahan Kaisar Qianlong. Bila Lian dipertunjukkan sebagai tradisi keluarga.
Menariknya, dulunya seni Bila Lian hanyalah pertunjukkan jalanan di Sichuan. Seniman jalanan menggunakan kemampuan tersebut untuk mencari nafkah dan menarik perhatian penonton. Kemudian seni drama menggabungkan Bila Lian menjadi bagian terpentingnya.
Teknik Bila Lian pada masa lalu diajarkan secara turun temurun dalam keluarga. Bila Lian pun mulai dikenal luas pada tahun 1920 an yang lantas menyebar ke seluruh daratan Tiongkok. Bila Lian dianggap seni tingkat tinggi dalam salin rupa, ada tiga teknik yang bisa dilakukan yakni menghembuskan wajah, mengusap wajah dan menarik wajah.

Bila Lian kini mulai populer di tanah air, masyarakat pun menikmati seni mengubah wajah dalam hitungan menit dengan terkagum-kagum. Bila Lian dipentaskan di berbagai acara di banyak kota oleh seniman asli tanah air. Seperti di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta 2018 juga menampilkan seni Bila Lian yang membuat hadirin terus bertepuk tangan.
Pernah pula Bila Lian dikombinasikan dengan budaya Cirebon. Saat itu, Defanya Aprechita dan Charlene membawakan tarian Bila Lian di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan Cirebon . Keduanya menggabungkan seni Bila Lian dengan topeng-topeng Cirebon. Kolaborasi dua budaya Cirebon Tiongkok sebagai rasa menumbuhkan menghargai seni budaya dunia, tutur Sunan Sepuh Cirebon.
Dalam perhelatan Jember Fashion Carnaval 2018 turut dipopulerkan seni Bila Lian kepada masyarakat. Seniman Bila Lian berparade dengan kostum menarik serta mengecat wajahnya berwarna warni. Mereka pun tersenyum kepada penonton lalu dengan gerakan cepat berganti wajah.
Menteri Pariwisata Arif Yahya memuji event JFC 2018 yang menjadi trending topik nasional karena keistimewaanya bahkan mengalahkan topik Pilihan Presiden (Pilpres). Arif Yahya juga mengucapkan selamat kepada Jember yang dinobatkan sebagai kota karnaval terbaik nasional pada 2017 sekaligus membawa nama baik Indonesia di ajang internasional. JFC telah memenangkan 11 national costum di ajang internasional.
Bupati Jember Faida turut mempromosikan JFC kepada tamu tujuh negara yang datang. Faida mengatakan JFC adalah karnaval pemersatu yang tidak melupakan karya budaya daerah. Selain Indonesia, JFC yang berakhir 12 Agustus lalu dimeriahkan oleh kontingen budaya Thailand, Jepang, Arab, India dan Korea. (AV)