Minggu lalu, CEO Facebook, Mark Zuckerberg hadir di Washington, AS, untuk memberikan kesaksian kepada anggota kongres mengenai kebocoran data 87 juta pengguna Facebook dunia.
Pada sesi tanya jawab dengan anggota legislatif tersebut, Zuckerberg tampil formal mengenakan setelan jas dan dasi biru senada dengan warna khas platform media sosial miliknya.
Penampilan Zuckerberg ini sangat jauh berbeda dengan gaya busananya dalam keseharian.
Zuckerberg dikenal gemar mengenakan pakaian yang kasual dan tidak formal. Padu padan andalannya setiap hari adalah kaus abu-abu, celana jeans, dan sepasang sneakers.Terkadang, dia mengganti kaus abu-abu tersebut dengan jaket hoodie berwarna sama.
Namun, jangan menyangka bahwa kaus abu-abu Mark Zuckerberg itu sama sekali tidak istimewa.
Sebab, kaus abu-abu yang dikenakan Zuckerberg setiap hari tersebut merupakan koleksi label busana papan atas asal Italia, Brunello Cucinelli, yang semuanya dipesan secara customized .
Seluruh kaus rancangan Cucinelli terbuat dari 100 persen kasmir. Jadi, sudah barang pasti dibanderol dengan harga yang terbilang mahal.
Kaus abu-abu yang selalu dikenakan Zuckerberg ditawarkan di butik Cucinelli dengan harga satuan sebesar $300 AS atau setara dengan Rp4,2 juta.
Kemudian, untuk jaket hoodie yang juga sering dikenakan oleh ayah dua anak ini diperkirakan memiliki harga jual sekitar $2000 AS atau lebih kurang Rp28 juta.
Oleh karena semua kaus dan hoodie yang dikenakan oleh Zuckerberg merupakan pesanan khusus, maka bisa jadi harganya lebih mahal daripada harga pasaran.
Zuckerberg pernah mengatakan bahwa kebiasaannya mengenakan baju yang sama setiap hari telah membuat hidupnya lebih baik dan meningkatkan kinerjanya.
“Saya tidak ingin membuat terlalu banyak keputusan karena dalam pekerjaan saya telah banyak dihadapkan pada pengambilan keputusan. Saya sangat beruntung bisa memberikan servis kepada miliaran orang di dunia. Jadi, saya tidak ingin hal kecil merusaknya. Memilih baju yang berbeda setiap hari bisa sangat melelahkan, saya tidak ingin menghabiskan energi untuk hal seperti itu,” urai Zuckerberg, seperti dilansir GQ.
Pilihan Zuckerberg untuk mengurangi pilihan agar tidak banyak mengambil keputusan ini merupakan salah satu kebiasaan kebanyakan jenius yang berkutat dalam bidang teknis dan analisis.
Pada tahun 2015 silam, sebuah studi yang dipublikasikan oleh jurnal Psychologicaland Personality Science, mengungkapkan, lama waktu yang dibutuhkan untuk memilih baju bisa memengaruhi kinerja dan nilai akademis seseorang.
Pada studi ini kelompok peneliti melakukan lima eksperimen terhadap 60 responden mahasiswa lanjutan di Amerika Serikat.
Seluruh responden diminta untuk menilai penampilan mereka sendiri dan setelahnya harus menjawab pertanyaan.
Pertanyaan yang diajukan memiliki dua jenis jawaban, abstrak dan konkret. Keduanya tidak ada yang salah, tetapi bisa menunjukkan karakter dan cara berpikir responden.
Hasilnya, para responden yang berpenampilan baik, kebanyakan memilih jawaban abstrak. Peneliti menggambarkan bahwa mereka memiliki karakter diri yang berpikir secara umum.
Kemudian, responden yang menilai penampilan mereka lebih santai karena hanya mengenakan kaus, celana training, dan sepatu olahraga, memilih jawaban konkret. Peneliti menilai mereka berpikir secara detil dan konseptual.
Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa responden yang tidak terlalu memikirkan penampilan dan pilihan baju mereka, mendapatkan nilai matematika yang lebih tinggi, cerdas mempelajari sains, dan teknik.