The news is by your side.

Bekraf Populerkan Soto dan Kopi Sebagai Ikon Kuliner Indonesia Bersaing di Kancah Internasional

35

Sejak tahun lalu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menjadikan kuliner Soto dan Kopi sebagai ikon Indonesia bersaing di kancah internasional. Bahkan sejak 2016, Soto didorong menjadi tema makanan Indonesia, karena lebih mudah dipromosikan. Begitu banyaknya nama dan jenis makanan di tanah air, sehingga terlalu sulit konsumen internasional mengingatnya.

Bekraf memperkenalkan Soto ke ajang pameran di New York, Korea, dan Jerman bekerjasama dengan Diaspora Indonesia dalam membuat restoran Indonesia mengangkat  menu andalan Soto. “Ada 75 varian Soto yang ada di tanah air dan itu terus berkembang, demikian pula dengan kopi di berbagai daerah ada banyak jenisnya,” jelas Triawan Munaf, Ketua Bekraf, saat menjelaskan di hadapan 2000 pelaku UMKM Surabaya.

Kopi giling lokal menjadi tren bagi masyarakat sehingga mengangkat industri kopi olahan di Indonesia. Bekraf mendorong dan meningkatkan komoditi kopi lokal bukan sekedar komoditi tapi gaya hidup bagi pecinta kopi.

“Kopi yang kita banggakan telah diekspor biji olahannya. Diharapkan banyak kafe berdiri. Mau memakai nama luar negeri boleh saja. Seperti salah satu outlet roti terkenal di dunia tapi berasal dari Korea memakai nama Perancis dengan pelayanan sangat bagus,” jelas Triawan Munaf menginformasikan Bekraf akan memberikan sertifikat untuk para barista profesional sehingga tenaga asing tidak mengisi bidang pekerjaan tersebut.

Lebih lanjut, Triawan mengatakan ekonomi Indonesia didominasi 3 subsektor yakni kuliner 411,69 persen, fesyen 18,155 persen dan kriya 115,70 persen. Kuliner terdiri dari restoran, warung makanan, kedai, penyedia makanan keliling, jasa boga untuk even tertentu atau katering, bar, kelab malam, kafe, pujasera, dan industri makanan. 94, 43 persen pelaku usaha subsektor kuliner menggunakan modal sendiri sebagai pendanaan. 92,79 persen pelaku usaha kuliner menggunakan kandungan lokal, dan nilai ekspor kuliner pada 2015 mencapai 1,1 Miliar USD serta menyerap 46 persen tenaga kerja.

Pada 2016, fesyen menjadi gaya hidup, berpenampilan, mencerminkan identitas diri atau kelompok. 24 persen TK Ekraf nasional bekerja di subsektor fesyen dan 154, 694 Miliar Rupiah memberikan kontribusi PDB pada 2015. Adapun pengekspor fesyen terbesar di Indonesia adalah Jabar, 42,52%, DKI Jakarta 9,97%, Kepulauan Riau 1,17% disusul Sumut, Jatim, Bali, Jateng dan seterusnya.

“Indonesia menjadi kiblat busana muslim. Di Timur Tengah mengiblat Jakarta Fashion Style,” tutur Triawan Munaf.

Bekraf adalah lembaga pemerintah non kementrian  bertanggung jawab di bidang ekonomi kreatif mempunyai tugas membantu Presiden RI merumuskan, menetapkan, mengoordinasi dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukkan, seni rupa, dan televisi radio. (Avr)

Leave A Reply

Your email address will not be published.