Bedug hingga Ngarak Posong menyambut Cap Go Meh

0 179

Lagu “Indonesia Raya” berkumandang di Vihara Dhanagun, Suryakencana, Bogor pada Jumat siang (2/3/2018). Rupanya ada acara Bogor Street Festival yang diadakan untuk menyambut perayaan Cap Go Meh.

Saat itu, awan mendung tampak menggelayuti langit di Kota Hujan. Benar saja, baru bait pertama lagu kebangsaan dinyanyikan, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Ribuan orang yang tadinya memenuhi sepanjang Jalan Suryakencana tampak berlarian mencari tempat berteduh, kecuali para polisi dan tentara.

“Cap Go” berasal dari dialek Hokkian yang berarti angka 15, sementara “Meh” maksudnya malam. Sebagai wujud syukur atas berkah dari tahun sebelumnya, Cap Go Meh adalah puncak dari perayaan Imlek dan digelar 15 hari setelah Tahun Baru khas Tionghoa itu. Dengan kata lain, bulan purnama pertama setelah Imlek yang tahun ini jatuh pada 16 Februari 2018.

“Belakangan ini, ada yang ingin membentuk opini bahwa kita bangsa intoleran, radikal, dan bisa diadu dan dipecah belah. Saya mengajak kalian jadi pelopor melawan aksi seperti itu. Mari bangun Bogor sebagai model dan pelopor untuk memperkuat persatuan di antara kita,” ujar Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, saat membuka acara.

Selesai pidato, politisi kelahiran Lampung itu memukul bedug tanda dimulailah acara. Rangkaian acara pun digelar, dimulai dari pawai marching band dari para prajurit TNI, dilanjutkan barisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka Kota Bogor.

Para prajurit TNI turut berpesta dengan marching band yang menambah semarak suasana.
Para prajurit TNI turut berpesta dengan marching band yang menambah semarak suasana.

Cap Go Meh telah menjadi milik semua lapisan masyarakat. Tak hanya orang keturunan Tionghoa yang merayakannya. Itulah kesan dari ajang Bogor Street Festival kali ini. Meski hujan sesekali turun cukup deras, tak mengikis antusiasme penonton.

Beberapa kelompok kesenian pun menampilkan berbagai tarian tradisional dari Tanah Sunda seperti Gerakan Nyere (Genye) dari Purwakarta, Ngarak Posong dari Cianjur, dan Bebegig Baladewa dari Ciamis.

Tak ketinggalan beragam kesenian asal Kalimantan, Jawa Tengah, Madura, Sumatera Barat, dan suguhan budaya Betawi. Juga Ogoh-Ogoh dari Bali. Patung yang melambangkan roh jahat pengganggu ketenteraman manusia itu turut diarak dari area depan Vihara Dhanagun hingga ke arah dalam Jalan Suryakencana.

Penari tarian adat Jawa Barat menari di daerah panggung depan hotel 101, Bogor pada Jumat (2/3/2018).
Penari tarian adat Jawa Barat menari di daerah panggung depan hotel 101, Bogor pada Jumat (2/3/2018).

Tentu saja tradisi Tionghoa juga muncul. Belasan vihara di Bogor dan sekitarnya mengirimkan perwakilan masing-masing. Ada barongsai berbentuk singa yang beratraksi tepat di depan mata masyarakat yang hadir di tepi jalan.

Liong (naga) pun menguasai langit Bogor. Ukurannya beragam, dari yang kecil hingga berpuluh-puluh meter. Semuanya dihias semenarik mungkin, lengkap dengan lampu berwarna-warni.

Terakhir dan terpenting, para perwakilan vihara juga mempersiapkan semacam kelenteng mini untuk diarak sepanjang pawai berlangsung. Tradisi ini disebut Gotong Toa Pek Kong.

Toa Pek Kong adalah nama lain Dewa Hok Tek atau Hok Tek Tjeng Sin, alias dewa pembawa berkah dari kepercayaan Konghucu. Oleh karena itu biasanya dalam acara Cap Go Meh, sebentuk rupang/patung perwujudan Dewa Hok Tek membentuk kelenteng mini, untuk diarak dengan tandu berkeliling kota sebagai lambang menebar berkah kepada semua anggota masyarakat.

Patung perwujudan Dewa Hok Tek membentuk kelenteng mini, untuk diarak dengan tandu berkeliling kota sebagai lambang menebar berkah kepada semua anggota masyarakat.
Patung perwujudan Dewa Hok Tek membentuk kelenteng mini, untuk diarak dengan tandu berkeliling kota sebagai lambang menebar berkah kepada semua anggota masyarakat. | Indra Rosalia /Beritagar.id

Beberapa umat Konghucu tampak meminta berkah saat rupang Toa Pek Kong berhenti. “Minta berkah pada Kongco (leluhur, red.),” bisik seorang perempuan paruh baya yang tengah berdoa.

BERITAGAR

Leave A Reply

Your email address will not be published.