Kabar pemecatan pada Mayjen TNI dokter Terawan Agus Putranto dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) karena pelanggaran kode etik menjadi sorotan publik. Pemecatan itu memunculkan banjir dukungan dan testimoni mengenai terapi “cuci otak” yang selama ini menjadi ciri dokter Terawan.
Dalam surat IDI yang beredar, pemecatan sementara terhadap Terawan sebagai anggota IDI berlaku selama 12 bulan, yaitu 26 Februari 2018-25 Februari 2019. Selain diberhentikan sementara, rekomendasi izin praktik Terawan juga dicabut.
Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prijo Sidipratomo mengungkapkan, pemberhentian sementara dilakukan karena Terawan dianggap melakukan pelanggaran kode etik kedokteran.
“Pelanggaran kode etik itu yang pasti kami tidak boleh mengiklankan, tidak boleh memuji diri, itu bagian yang ada di peraturan etik. Juga tidak boleh bertentangan dengan sumpah dokter,” ujar Prijo dalam wawancara yang ditayangkan Kompas TV, Selasa (3/4/2018).
Dokter Terawan saat ini menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Dokter spesialis radiologi itu pernah menjadi bagian dari Tim Dokter Kepresidenan pada 2009.
Pada 2013, dokter yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Asean Association of Radiology tersebut menemukan metode baru untuk penderita stroke yang dijadikan sebagai studi doktoralnya di Universitas Hassanuddin. Metode itu diistilahkan dengan cuci otak.
Penyakit stroke disebabkan oleh terhambatnya aliran darah ke otak lantaran penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah karena plak (biasanya berupa lemak).
Terapi cuci otak yang dilakukan Terawan menggunakan obat heparin untuk menghancurkan plak tersebut.
Heparin dimasukkan lewat kateter yang dipasang di pangkal paha pasien, menuju sumber kerusakan pembuluh darah penyebab stroke di otak. Inilah yang disebut metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA (Digital Subtraction Angiogram).
Heparin dikenal sebagai antikoagulan (anti-pembekuan darah), agen anti-inflamasi, dan anti-oksidan.Penggunaan heparin juga menjadi kontroversi karena sudah lama zat ini diminta untuk tidak digunakan lantaran akan memberi efek secara klinis.
Dengan terobosan terapi cuci otak itu, nama dokter Terawan menjadi perbincangan banyak orang. Orang-orang pun berbondong-bondong datang ke RSPAD Gatot Subroto.
Dilansir Kompas.com, Terawan menyiapkan dua lantai ruangan di rumah sakit tersebut untuk menangani pasien stroke. Nama ruangannya CVV (Cerebro Vascular Center). Bagian ini setiap hari bisa menangani sekitar 35 pasien. Biayanya antara paling murah Rp30 juta per pasien.
Meski mengundang pro dan kontra di kalangan praktisi dan akademisi kedokteran, banyak pasien yang merasakan terapi cuci otak. Setelah kabar pemecatan, dukungan terhadap dokter Terawan dan testimoni cuci otaknya terus mengalir dari berbagai kalangan.
Di media sosial, akun @mohmahfudmd yang dipercaya milik mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, mengatakan pernah menjadi pasien Terawan dan tak ada masalah dalam pengobatannya itu.
“Saya bukan dokter. Mungkin saja pemecatan dokter Terawan oleh IDI benar. Tetapi saya dan istri pernah berobat kpd dr. Terawan dan hasilnya terasa baik. Mudah2an semua berakhir baik,” cuit akun @mohmahfudmd.
Dukungan terhadap dokter Terawan pun muncul dari politisi Aburizal Bakrie. Mantan Ketua Umum partai Golkar ini menilai metode Terawan telah menolong puluhan ribu orang penderita stroke.
“Metode cuci otak-nya dipermasalahkan, padahal dengan itu dia telah menolong baik mencegah maupun mengobati puluhan ribu orang penderita stroke,” tulis dia melalui akun terverifikasi @aburizalbakrie.
Ical -panggilan Aburizal– mengatakan, bukan hanya dirinya melainkan masih ada rekannya yang juga merasakan manfaat pengobatan Terawan. Dia menyebut nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Tri Sutrisno dan AM.Hendropriyono pernah dirawat dokter Terawan.
Testimoni dan dukungan serupa muncul dari Brigadir Jenderal Krishna Murti. Kepala Biro Misi Internasional Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri menuliskan pengalamannya menjalani terapi dengan dokter Terawan sembari melampirkan fotonya di akun Instagram.
“Saya pernah dilakukan perawatan dengan metode DSA oleh Dokter Terawan di RSPAD Gatot Subroto. Dari sisi medis dll saya tidak paham. Yang saya rasakan adalah kesehatan saya pulih dan lumayan membaik saat itu,” tulis Krisna.
Pembelaan pada Terawan juga mengalir dari kolega sang dokter, Letnan Jenderal TNI (Purn.) J.S. Prabowo melalui akun yang dipercaya sebagai miliknya @marierteman. Prabowo yang pernah menjadi atasan Terawan mempertanyakan keputusan IDI memecat Terawan.
“Hakikat dokter adalah pekerja kemanusiaan dalam sektor medis. Jika ada dokter yang memiliki kemampuan menyembuhkan tapi dihalangi oleh perkumpulan dokter, ini tidak sesuai dengan semangat kemanusiaan. Karena itu perlu gerakan,” tulis Prabowo.
BERITAGAR