Disperindag Bali akan mendorong para wirausahawan untuk menjelajahi pasar Afrika Selatan dan Asia Selatan jika pemerintah Amerika Serikat memberlakukan tarif atas impor produk dari Indonesia.
Kadisperindag Bali, Putu Astawa mengatakan kedua wilayah tersebut memiliki pasar yang belum digarap secara optimal oleh pelaku bisnis dari Bali. Ia yakin kedua wilayah tersebut memiliki daya beli yang mampu menyerap produk ekspor dari Bali.
“Sejauh ini belum ada dampak [untuk ekspor] ke Amerika, tetapi jika ada pasar baru yang kami dorong untuk dieksplorasi oleh pelaku pasar. Kemendag juga telah memberikan instruksi dan menjajaki pasar di dua wilayah ini,” katanya. dijelaskan, Senin (9/7/2018).
Astawa merujuk pada negara-negara Afrika Selatan dan Bangladesh yang belum berhasil dengan baik. Kedua negara sebenarnya memiliki populasi besar yang memungkinkan untuk menjadi pemotretan produk dari Bali. Menurut dia, ekspor ke Afrika Selatan telah dilakukan oleh sejumlah eksportir Bali untuk komoditas perhiasan dan kerajinan.
Namun, nilai ekspor masih kecil dan tidak termasuk dalam daftar 10 negara tujuan teratas. Ditegaskan olehnya, negara-negara Arab juga bisa menjadi negara tujuan jika AS benar-benar mengenakan tarif atas produk impor Indonesia. Daya beli negara-negara di kawasan Timur Tengah juga besar dan cinta keunikan kerajinan tangan dari Pulau Dewata.
“Intinya adalah jika itu terjadi maka tidak ada pilihan lain yang harus meningkatkan kualitas produk agar tetap tertarik,” katanya.
Berdasarkan data dari BPS Bali, 10 tujuan ekspor utama Pulau Dewata adalah Amerika Serikat 28,98%, Australia, 81, Singapura 8,28%, Jepang 6,91% Hongkong 5,45%, Prancis 3,02%, China 2, 73%, Thailand 2,68%, Jerman 2,67%, Inggris 2,35% dan 26,11% diekspor ke negara lain.
Produk-produk dari Bali diekspor ke AS seperti ikan dan udang, pakaian jadi tidak dirajut, kayu, barang dari kayu, penerangan rumah, jerami / anyaman material, dan kapas. (Bisnis.com)