The news is by your side.

Alasan Orang China Bisa Sukses

30

Bangsa Asia Timur, khususnya China, Jepang dan Korea Selatan, telah memperlihatkan dinamikanya yang sangat tinggi. Nilai-nilai budaya serta norma dalam keluarga ternyata telah menjiwai semangat kerja dengan produktivitas tinggi. Dengan menelaah ketiga bangsa tersebut, terbuka peluang untuk berperan membuka diri menyerap yang positif dari mereka.

Bangsa Asia Timur yakni China, Jepang dan Korea Selatan sejak lama memberikan perhatian besar terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Sejak dari lingkungan keluarga, mereka menyerap nilai-nilai moral yang menjunjung tinggi semangat bekerja keras, berdedikasi tinggi dan mampu beradaptasi dengan perubahan sekitarnya. Nilai-nilai itu tertanam dan dijaga dalam perilaku sehari-hari dan bukan sekedar untuk “pencitraan diri”.

Apakah budaya produktivitas tersebut lahir dengan sendirinya atau melalui pendidikan formal dan ditanam oleh lingkungan keluarga dalam masyarakat (society education)? Marilah kita mengamati beberapa unsur yang menarik dalam arti pencerahan diri dalam kelompok-kelompok kecil dari masing-masing ketiga negara tersebut. Dengan langkah-langkah segar dan memperbaharui diri sejak akhir tahun 1990-an, terungkap mereka dapat memantapkan paradigma baru dalam sikap dan sifat beretika dengan etos kerja baru, khususnya di China

Di China, setiap individu di dalam suasana rumah sejak dulu menghayati beberapa hal, yaitu:

1) kewajiban menjunjung tinggi nama keluarga dan bangsa;
2) menerima disiplin kerja;
3) ketakutan berada dalam suasana tidak nyaman (fear of insecurity) memasuki masa depan;
4) orientasi mengelompok, awalnya fungsional dan dengan kemajuan sarana komunikasi, termasuk teknologi informasi, menjadi lintas fungsional;
5) menumbuhkan jaringan kerja yang saling mendukung dan saling menguntungkan atas dasar saling percaya dengan menjunjung tinggi tata krama dan etika. Berprestasi dulu, kemudian baru penghargaan menyusul.

Dalam sejarah bangsa China, khususnya sejak dasawarsa 1980-an, terhitung sebagai bangsa yang tidak banyak “tuntutan hasil prestasi”, baik di tingkat bawah maupun eselon menengah sampai ke puncak pimpinan. Bonus akan mengalir bagi prestasi prima. Umumnya mereka tidak cepat lelah (tireless workers). 

Sejak tahun 1980-an dengan kebijakan terbuka dan reformasi (gaige kaifang), bangsa China mengejar ketinggalan mereka dengan semangat kerja, dalam banyak situasi dan kondisi bekerja dalam semangat berkelompok (group orientation). Sama seperti bangsa Jepang dan Korea, bekerja keras untuk kepentingan dan kesejahteraan kelompok termasuk individual, demi peningkatan kesejahteraan keluarga, termasuk menciptakan harmoni dengan sekelilingnya.

Ajaran Konfusius yang pernah dihambat pada era Mao Zedong (1949-1976), sejak awal 1980-an kembali dengan semangat baru yang melandasi etos kerja dan etika di China. Bekerja keras, tidak hanya karena mereka dididik untuk menghargai kerja keras, tetapi demi peningkatan penghidupan dan derajat sosial (social esteem). Keberhasilan melalui kerja keras, sekalipun hasilnya mengalami kegagalan, namun mereka tetap bangga sebagai upaya untuk menghargai jerih payah leluhur mereka.

Jadi, inilah salah satu alasan yang membuat pandangan Orang China bisa sukses. Orang China memiliki etika dan etos kerja yang sudah diajarkan dari keluarga dan lingkungan.

Sumber: Nabil Foundation

Leave A Reply

Your email address will not be published.