PLN Siap Rogoh Kantong Bayar Kompensasi Ke MRT

0 2

Jakarta – MRT atau moda raya terpadu ikut terkena dampak padamnya listrik pada Minggu (4/8) lalu. Kerugiannya ditaksir mencapai Rp 507 juta. PLN menyatakan siap membayar kerugian PT MRT.

GM PLN Distribusi Jakarta Raya (Disjaya) Ikhsan Asaad mengaku telah membicarakan hal ini dengan Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar. Tinggal dilanjutin tim dari kedua belah pihak untuk memformulasikannya.

Kata Ikhsan, rincian ganti ruginya masih dalam proses penghitungan. Sesuai ketentuan dalam Service Level Agreement (SLA) antara MRT Jakarta dan PLN. Kedua belah pihak pun diprediksi masih akan melakukan beberapa kali pertemuan.

“Kalau pelanggan premium kan diberikan dua sumber pasokan. Tapi dia membayar lebih. Kalau MRT itu dipasok dari dua pembangkit. Ini memang kemarin semuanya fail, sehingga kita harus berikan kompensasi. Hanya kita lagi ketemu ini, siang ini ketemu dengan timnya,” ungkapnya di PLTD Senayan, Jakarta, kemarin.

Pihaknya juga memberi penjelasan kepada MRT bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Senayan akan segera selesai dibangun. Itu akan menjadi pemasok listrik cadangan untuk MRT sehingga akan meningkatkan pelayanan ke moda transportasi massal tersebut.

 “Kemarin saya sampaikan ke beliau kesiapan kami untuk mem-backup MRT ke depan,” tambahnya.

PLN menjamin transportasi massal tersebut akan dapat beroperasi meskipun terjadi blackout sistem kelistrikan. Sebab pihaknya menambah penyokong daya dari pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) Senayan berkapasitas 100 megawatt (MW).

Adapun selama ini, kebutuhan listrik MRT Jakarta hanya disuplai dari dua sistem, yakni Unit Pusat Pengatur Beban (UP2B) Gandul dan Gardu Induk Priok.

Ketika blackout atau listrik padam terjadi, kedua sistem kelistrikan tersebut sama sekali tidak dapat memasok listrik ke MRT Jakarta. PLN sejak Juli 2018 lalu, memang sedang menyiapkan PLTD Senayan yang dapat menjadi penyokong cadangan listrik untuk MRT Jakarta.

Pembangkit ini memiliki kemampuan blackstart atau hidup tanpa aliran daya dari arah sebaliknya sehingga bisa masuk ke sistem dengan mudah.

Menurut Haryanto, dengan kebutuhan listrik maksimal MRT Jakarta yang sebesar 60 MW, PLTD Senayan akan cukup andal dalam menyokong kebutuhan daya transportasi tersebut.

Tidak hanya itu, PLTD Senayan juga diyakini akan mencukupi kebutuhan listrik MRT Jakarta tahap II yang sedang dibangun. Hingga saat ini, konstruksi PLTD Senayan telah mencapai 95 persen dan dipastikan mampu beroperasi komersial pada 20 Oktober 2019.

PLTD dengan nilai investasi Rp 1 triliun ini digadang-gadang membutuhkan waktu hanya sekitar tujuh sampai 10 menit untuk masuk ke dalam sistem.

Fungsi maksimal pembangkit tersebut untuk menyokong kebutuhan MRT adalah selama delapan hingga 10 jam, menyesuaikan dengan pasokan bahan bakar yang tersimpan.

“Waktu kejadian (blackout), MRT kan padam, 17.30 WIB baru beroperasi, kemudian pada waktu itu semua suplai alternatif tidak masuk,” katanya.

Dia mengakui beberapa pembangkit listrik di Jawa bagian barat memang telah memiliki kemampuan blackstart seperti pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) Muara Karang. Hanya saja, saat terjadi blackout, PLTGU Muara Karang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Meskipun demikian, dia berani menjamin PLTD Senayan tidak akan mengalami masalah dalam kemampuan blackstart.

Sebelumnya, Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin menyebut, pihaknya ikut kena dampak dari padamnya listrik. Mengingat MRT tidak bisa beroperasi selama listrik padam. Pendapatan kurang, karena penumpang anjlok.

“Kerugian finansial akibat terputusnya pasokan listrik dari PLN ke MRT Jakarta diperkirakan mencapai Rp 507 juta per tanggal 4 Agustus 2019,” kata Kamaluddin.

Ia juga mengatakan, potensi kehilangan penumpang mencapai 52.898 orang pada hari tersebut. Ini belum termasuk berbagai kerugian moril dan materil yang diderita penumpang dan publik yang menggantungkan perjalannya kepada MRT Jakarta.

Leave A Reply

Your email address will not be published.