Wujudkan Anak Istimewa yang Mandiri dan Memiliki Daya Saing Melalui  Pendidikan Transisi

0 13

Singkawang-Harian InHua, Pemerintah Kota Singkawang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara resmi telah menjadikan Pusat Layanan Autis yang terletak di Jalan Demang Akub, menjadi Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Layanan Disabilias dan Pendidikan Transisi (PLDPT), sehingga dapat lebih meningkatkan dan mengembangkan pelayanan kepada anak-anak disabilitas terutama anak-anak berkebutuhan khusus. 

Berdasarkan status perubahan tersebut, maka PLDPT mempunyai tugas dan kewenangan yang lebih besar daripada Pusat Layanan Autis, yang bukan hanya memberikan pelayanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus saja, akan tetapi dalam konteks yang lebih besar, yaitu melayani anak disabilitas dalam menuju pendidikan inklusi.

Kepala Pembina Pusat Layanan Disabilias dan Pendidikan Transisi Kota Singkawang, Hj. Nirwana Ismail mengatakan, pihaknya bersama tenaga terapis akan memberikan pelayanan optimal kepada anak-anak disabilitas terutama anak-anak autis sebagai bentuk dan komitmen untuk mengembangkan dan memberikan pelayanan maksimal, sehingga anak-anak penyandang disabilitas dapat tumbuh menjadi anak yang mandiri dan memiliki daya saing melalui  pendidikan transisi. 

Ia mengatakan, Unit Pusat Layanan Disabilias dan Pendidikan Transisi Kota Singkawang, sudah beroperasi lebih kurang lima tahun dan saat ini, pihaknya tengah melayani 65 anak peserta didik.

“Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Transisi, sebelumnya bernama Pusat Layanan Autis, dibentuk berdasarkan peraturan Walikota tahun 2019. Dengan adanya perubahan itu, kami akan berusaha untuk lebih meningkatkan pelayanan, tidak hanya kepada anak-anak berkebutuan khusus saja, tetapi juga kepada anak-anak disabilitas secara keseluruhan,” kata Nirwana Ismal.

Ia mengungkapkan, saat ini Pusat Layanan Disabilias dan Pendidikan Transisi yang dipimpinnya, masih mengalami keterbatasan tenaga terapi, yaitu Tenaga Terapi Wicara dan Terapi Okupasi.

Begitu juga dengan sarana dan prasarana, PLDPT masih kekurangan taman untuk bermain dan kolam renang, sehingga prioritas yang dijalankan dalam pelaksanaan program kepada peserta didik masih terkendala karena keterbatasan itu.

“Kendati demikian, di PLDPT sendiri saat ini sudah ada program khusus, yaitu Home Program yang diberikan oleh para terapis dan para pendidik yang harus ditindaklanjuti dirumah. Untuk tindak lanjut pendidikan inklusi, kami menyediakan buku penghubung untuk orang tua yang perlu didisi, setelah anak-anaknya menjalani terapi selama 45 menit di PLDPT,” tukasnya.


Ia meminta kepada orang tua untuk menjalankan home program, sehingga anak bisa mengikuti perintah, mengingat peran orang tua sangat penting dan memiliki waktu yang lebih banyak di bandingkan para terapis. (Rio Dharmawan)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.