Jakarta – Universitas Pancasila meresmikan Klenteng Kebajikan Agung (Da De Miao) yang berada di lingkungan kampus tersebut untuk dapat digunakan sebagai tempat peribadatan Konghucu.

“Pembangunan ini adalah hasil kerja sama Yayasan Universitas Pancasila dengan Majelis Tinggi Agama Khonghucu yang diketuai Xs. Budi S. Tanuwibowo,” kata Rektor Universitas Pancasila Edie Teot Hendratno di sela-sela peresmian Klenteng Kebajikan Agung di lingkungan Universitas Pancasila Jakarta, Minggu.

Universitas Pancasila membangun enam tempat peribadatan yaitu Masjid yang telah berdiri terlebih dahulu, Klenteng (Konghucu), Gereja Kristen Protestan, Gereja Kristen Katolik, Pure (Hindu), dan Vihara (Budha) yang letak bangunannya saling berdampingan di lingkungan kampus tersebut.

Kong Hu Cu merupakan agama keenam yang diakui di NKRI berdasarkan Kepres No 6 Tahun 2000 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Dipilihnya hari ini untuk melaksanakan peresmian Kelenteng adalah bertepatan dengan Ulang Tahun Kong Hu Cu yang ke-2572.

“Semua agama mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang baik. Sehingga Kampus Universitas Pancasila akan ditebari nilai-nilai baik dalam menjalankan kehidupan. Yaitu rasa tanggung jawab, hidup sederhana/bersahaja, dapat dipercaya, adil, dan disiplin,” ujar Edie Toet.

Sementara itu Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Xs. Budi S. Tanuwibowo mengatakan Klenteng Kebajikan Agung di Universitas Pancasila ini merupakan klenteng pertama yang diresmikan di lingkungan kampus.

“Walaupun di Universitas Sebelas Maret telah lama terbangun namun hingga kini belum diresmikan,” katanya.

Ia berharap kebiasaan yang baik Universitas Pancasila dengan membangun enam rumah peribadatan secara berdampingan ini diikuti perguruan tinggi lainnya.

“Saya dengar Universitas Indonesia juga akan membangun klenteng, selain itu Institut Teknologi Nasional Malang, Universitas Sam Ratulangi Manado juga akan membangun enam tempat peribadatan,” katanya.

Menurut dia mudah-mudahan ini sebagai pertanda bahwa ke depan masalah agama akan lebih banyak maslahatnya ketimbang mudaratnya semoga apa yang telah dicanangkan dan diterapkan di universitas pancasila ini benar-benar adalah pengejawantahan Pancasila yang sejati.

Budi juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada Ketua Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila Siswono Yudo Husudo yang menggagas ide yang brilian ini dan mudah-mudahan menjadi “pupuk” yang subur bagi kebhinekaan Indonesia.