Madrid – Turki telah mengambil keputusan menyetujui untuk mendukung Swedia dan Finlandia bergabung bersama NATO di tengah ketegangan di antara blok militer yang masih terjadi.

Hal itu terjadi setelah satu memorandum trilateral yang membahas masalah keamanan Turki telah disepakati dan ditandatangani saat KTT NATO di Madrid pada Selasa sore.

Memorandum itu membuka jalan bagi permohonan keanggotaan NATO yang diajukan oleh kedua negara Nordik itu.

Keputusan itu terjadi setelah pertemuan yang diperpanjang antara para pemimpin ketiga negara bersama dengan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg.

“Saya senang mengumumkan bahwa kami sekarang memiliki kesepakatan yang memungkinkan Swedia dan Finlandia menjadi anggota NATO,” kata Stoltenberg dalam konferensi pers pada Selasa malam waktu setempat.

Dia menjelaskan kesepakatan tersebut akan mencakup perjanjian tentang ekspor senjata dan perang bersama melawan terorisme.

“Ini akan memperkuat NATO, dan juga akan memperkuat Swedia dan Finlandia,” kata Stoltenberg.

Dia menjelaskan saat ini menjadi waktu bagi 30 parlemen yang berbeda untuk mengambil keputusan.

Menurut NATO, seluruh 30 anggota harus menyetujui permohonan suatu negara agar dapat diterima ke dalam aliansi tersebut.

Meski beberapa negara NATO telah menyetujui permohonan kedua negara Nordik untuk bergabung dalam aliansi militer tersebut pada pertengahan Mei, namun proses tidak semudah yang direncanakan.

Hal itu terjadi karena Turki mengajukan keberatan terkait hubungan Swedia dan Finlandia dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) Suriah yang dicap Turki sebagai kelompok teroris.

Ankara juga menyuarakan ketidakpuasannya terhadap embargo senjata Swedia atas Turki.

Sejumlah perundingan telah diadakan pada beberapa pekan terakhir di Ankara dan markas NATO di Brussel yang bertujuan untuk menyelesaikan perbedaan antara dua negara Nordik itu dengan Turki.

Terlepas dari persetujuan Turki pada Selasa, Kepala NATO mengakui ketegangan di dalam kubu militer tersebut masih tetap ada.

“Masih akan ada konflik dalam aliansi pertahanan ini, tetapi kami telah menunjukkan kekuatan aliansi kami,” jelas Stoltenberg.