Weather , , 0°C

Harian Inhua Online

BERITA INHUA

 Breaking News

Tuntutan atas Tumpahan Minyak di Lautan untuk Petani Rumput Laut Indonesia

Tuntutan atas Tumpahan Minyak di Lautan untuk Petani Rumput Laut Indonesia
November 24
09:49 2017

Ribuan petani rumput laut di Indonesia yang berkata bahwa kehidupan mereka semakin menderita sejak penumpahan minyak terparah oleh Australia akan melaporkan hal ini kepada pengadilan tinggi untuk melawan perusahaan minyak di Perth itu.

Sudah lebih dari 8 tahun sejak sebuah ledakan terjadi di sumber minyak di Montara mengirimkan jutaan liter racunnya ke Laut Timor, sekitar 690 km dari sisi Barat Darwin.

Kebocoran ini akhirnya teratasi pada tanggal 3 november 2009, dan setelah 10 minggu kemudian sebanyak lebih dari 300.000 liter minyak dan gas secara ilegal dibuang ke lautan lepas dan mencemari biota laut.

Berdasarkan hukum teritorial utara, kasus seperti ini harus diputuskan dalam waktu setidaknya 3 tahun, tapi kepala Federal Court David Yates memberikan waktu tambahan kepada salah satu petani, Daniel Sanda, untuk memproses kasus ini kembali.

Pengacara Ben slade berkata bahwa itu merupakan sebuah hari yang bersejarah bagi 15.000 petani rumput laut di Indonesia yang diberikan lampu hijau untuk bisa melaporkan kasus mereka ke pengadilan dan melihat bahwa keadilan masih dapat ditegakkan.

Slade juga menuturkan bahwa kemenangan atas kasus ini akan sangat membantu mereka untuk lebih fokus kepada isu pelanggaran dan kompensasi untuk kelompok petani yang sudah megalami kerugian lebih dari US$200 juta  selama ini.

“Kemenangan ini berarti kami bisa melanjutkan bisnis kami dengan cara yang tepat,” ujarnya.

Di bulan Mei lalu, pemerintah Indonesia sudah meluncurkan tuntutan sebesar US$ 2,7 juta untuk menuntut PTTEP Australasia yang berkantor di Perth dan indup perusahaannya milik Thailand, dengan isi tuntutan bahwa ribuan hektar usaha rumput laut dan mangrove, dan ribuan hektar terumbu karang telah rusak akibat aktivitas mereka.

Perusahaan ini menolak bahwa minyak mereka sudah mencapai Indonesia, dan tidak ada kerusakan jangka panjang yang telah terjadi untuk merusak biodiversitas di daerah Indonesia.

Nakun petani dari Nusa Tenggara Timur berkata bahwa mereka sudah merasakan musibah masalah ekonomi akibat peristiwa tersebut.

Dilaporkan bahwa rumpul laut yang kini mereka tanam akan mudah busuk dan adanya penurunan hasil panen dalam tahun-tahun belakanganmenurun drastis. Di tahun 2015, pengacara dari Aliansi Pengacara Australia menerbitkan beberapa laporan dari para petani rumput laut yang mengalami gangguan pernapasan dan permasalahan kulit akibat peristiwa ini.

Pengacara mereka mengatakan bahwa tindakan ini telah mencemari lingkungan dan merusak ekosistem laut, yang tingkat polusinya sudah menyamai pembuangan limbah kolam renang 10 kolam renang untuk Olimpiade Internasional yang dibuang ke laut selama 74 hari.

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment