Kepolisian mengatakan bahwa para petugas menggunakan senjata-senjata tak mematikan untuk membubarkan kerumunan di penghujung sore setelah sejumlah pemrotes membakar area pembangunan, yang akan dijadikan fasilitas rumah tahanan dan pengadilan anak di bawah umur di King County.

Kepolisian Seattle mengatakan di Twitter bahwa mereka berupaya membuka akses bagi pemadam kebakaran kota ke titik kebakaran, yang dikatakan dimulai oleh sekitar 12 orang dari kelompok besar para pendemo.

Hingga pukul 20.00 waktu setempat, ketika kebuntuan terus berlanjut, polisi mengatakan 25 orang telah ditangkap di kota yang terletak di Negara Bagian Washington itu. Satu petugas dilarikan ke rumah sakit dengan cedera di kaki akibat sebuah ledakan.

Presiden Donald Trump mengatakan pada Kamis (23/7) bahwa ia telah mengerahkan lebih banyak polisi federal ke Seattle. Pengumuman soal pengerahan itu membuat pejabat-pejabat setempat murka dan memicu kemarahan para pemrotes.

“Kami melihat apa yang terjadi di Portland dan kami ingin memastikan bahwa kami berdiri dalam solidaritas bersama para ibu lainnya di kota kami,” kata Lhorna Murray, yang hadir mewakili Wall of Moms Seattle yang baru terbentuk.

Mereka meniru taktik yang dilakukan oleh para pemrotes di Portland. Di kota itu, ibu-ibu memakai baju berwarna kuning dan membentuk tameng manusia antara para pedemo dan otoritas keamanan.

Taktik kasar para petugas federal di Portland telah memancing kemarahan pemimpin-pemimpin lokal dan Demokrat di Kongres, yang mengatakan para petugas itu menggunakan kekuatan yang berlebihan. Mereka juga mengeluhkan tindakan berlebihan yang dilancarkan pemerintahan Trump.

Jaksa AS untuk Distrik Barat Washington, Brian Moran, mengatakan dalam  ernyataan pada Jumat bahwa agen-agen federal disiagakan di Seattle untuk melindungi gedung-gedung federal dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di sana.

Pemeirntah Trump juga telah mengerahkan polisi federal ke Chicago, Kansas City dan Alburquerque, New Mexico, tanpa mengindahkan keberatan dari para wali kota.

Reuters