Rayakan Waisak 2565 Buddhis Era, Gemabudhi Kalbar Ziarah Ke Makam Pahlawan

0 9

InhuaOnline, Kubu Raya – Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi) Kalimantan Barat melakukan karya bakti dan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Dharma Patria Jaya, Kubu Raya, Rabu 26 Mei 2021.
Kegiatan ini dipimpin Pembimas Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat Naryoto, dalam rangka memperingati Hari Tri Suci Waisak 2565 Buddhis Era.

Ketua DPD Gemabudhi Steven Greatness mengucapkan terima kasih kepada sejumlah pihak yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, dengan penerapan protokol kesehatan.

Ketua Gemabudhi Kalimantan Barat, Steven Greatness mengatakan, karya bakti dan ziarah makam dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih umat Buddha kepada para pahlawan yang telah berjuang mengorbankan jiwa dan raga untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.

“Kegiatan yang kita laksanakan ini bertujuan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang menegakkan kedaulatan bangsa dan negara, sehingga sampai hari ini kita semua dapat hidup tenang, damai, tenteram, dan sejahtera di negeri yang kita cintai ini. Sebagai umat Buddha, tentunya kita juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar untuk mengenang dan menghormati jasa para pahlawan melalui ziarah dan karya bhakti yang kita lakukan,” ujar Steven Greatness.

Ia mengatakan, umat Buddha yang tergabung dalam Gemabudhi bukan hanya wajib menghormati jasa para pahlawan, tetapi juga senantiasa melakukan perbuatan baik dan luhur untuk menjaga dan menegakkan kedaulatan NKRI, dan siap mewarisi semangat pengorbanan para pahlawan demi menegakkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang lebih baik di masa-masa mendatang.

Ia menambahkan, kegiatan ziarah dan karya bakti ke makam Pahlawan tidak melibatkan umat yang banyak, mengingat masih dalam masa pandemi COVID-19.

Adapun yang ikut dalam kegiatan tersebut, disebutkan dia diantaranya Pembimas Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalbar, Kasi Bimas Buddha Kubu Raya, perwakilan Permabudhi, Wandani, Hikmahbudhi, dan KBMB Untan yang jumlahnya tidak lebih 30 peserta.

“Saya mengajak seluruh umat Buddha agar bersama-sama berdoa meminta segera berakhir pandemi COVID-19, serta selalu bersyukur dan dekatkan diri kepada Tuhan sang Pencipta. Selain itu diimbau umat Buddha selalu mematuhi protokol kesehatan,” ajaknya.

Ditempat yang sama, Pembimas Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat, Naryoto mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang dipelopori Gemabudhi Kalbar.

Menurutnya hal ini sangat terpuji dan menjadi aspirasi tidak hanya bagi umat Buddha, dan masyarakat secara umum, tetapi juga bagi pemerintah.

“Kegiatan ziarah dan karya bakti ini adalah wujud penghormatan kepada para pahlawan yang telah memperjuangkan dan membawa negeri ini merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Harapan kita dengan ada kegiatan seperti ini bisa menjadi tauladan serta mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan,” ungkap Naryoto.

Dia berharap, seluruh umat di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat dapat menjaga kerukunan dan toleransi, serta turut serta dalam mewujudkan kehidupan yang aman, damai, dan kondusif.

“Hidup rukun itu dama dan tentram. Saling menghargai sebagai sesama manusia. Jangan sampai ada gesekan yang dapat memecah persatuan dan kesatuan,” ucapnya.

Adapun tema dalam perayaan tri Suci Waisak 2565 Buddhis Era, tahun 2021 adalah “Bangkit Bersatu Untuk Indonesia Maju” yang menggaris bawahi pentingnya moderasi beragama dan peningkatan nilai-nilai toleransi.

“Moderasi beragama dan toleransi dinilai mampu mewujudkan persatuan di antara perbedaan-perbedaan yang ada di Indonesia. Persatuan menjadi modal dasar bagi kemajuan bangsa,” ungkapnya.

Melalui tema tahun ini, Naryoto mengajak, umat memanfaatkan peringatan Hari Raya Tri Suci Waisak sebagai momentum untuk menumbuhkan komitmen bersama menghilangkan sekat perbedaan dan amalkan moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Moderasi beragama merupakan bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Umat Buddha tentu perlu untuk meninjau unsur pendukung persatuan ini” pungkasnya. (Rio Dharmawan)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.