Program Kedaulatan Pangan Pemkot Surabaya Hadapi Pandemi Covid-19

0 4
InhuaOnline,Surabaya – Sebagai bentuk antisipasi jika kebutuhan beras di Kota Surabaya tidak mencukupi, Pemkot Surabaya telah menyiapkan program kedaulatan pangan dalam menghadapi Pandemi. Program kedaulatan pangan dengan menanam makanan pendamping beras, seperti ketela pohon, ketela rambat, talas, sukun, pisang, dan sebagainya, sehingga diharapkan warga Kota Surabaya tidak tergantung pada beras sebagai makanan pokok sehari-hari.
Dalam satu bulan kebutuhan beras warga di Surabaya sekitar 16.682.060 kilogram. Jika kedepannya kebutuhan beras tidak segera diantisipasi, dapat berdampak pada kurangnya bahan pangan di masyarakat, terlebih di masa pandemi seperti ini. Lantas ia pemerintah kota menyiapkan program kedaulatan pangan sebagai antisipasi kebutuhan pangan di Kota Surabaya.
Gubernur Jatim mengunjungi peternakan sapi perah di Pasurua.(InhuaOnline)

 

Antisipasi dilakukannya penanaman di beberapa titik lokasi dengan memanfaatkan lahan kosong yang dimiliki Pemerintah Kota Surabaya. Program penanaman sudah dimulai sejak 28 Mei 2020 lalu, atas arahan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini untuk memanfaatkan lahan kosong milik pemkot guna meningkatkan ketahanan pangan.
Adapun lokasi penanaman beragam, mulai dari Rusun, bantaran sungai hingga Bekas Tanah Kas Desa (BTKD). Penanaman juga dilakukan di Taman Hutan Raya (TAHURA), Kebun Raya Mangrove, sampai Taman Surya di Balaikota. Taman Surya di Balaikota juga ditanami tanaman padi dan ratusan ketela rambat. Masing-masing wilayah beragam yang ditanam. Ada ketela rambat, ketela pohon, pohon pisang, bahkan ada juga ketiganya ditanam di lokasi.
Sementara itu di tempat terpisah, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengunjungi peternakan sapi perah di Nongkojajar, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Minggu (19/7). Khofifah memuji kondisi sapi di tempat tersebut terlihat sehat, besar dan menghasilkan banyak susu.
Melihat kondisi peternakan tersebut, Khofifah mengatakan optimis dengan
industri persusuan di Jatim dapat terus maju dan berkembang. Sehingga dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, termasuk memenuhi pasar dengan produk olahan susu asal Jatim.
Jauh di ujung Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sidat terbaik di Indonesia. Di Jepang dan banyak restoran masakan Jepang, sidat dikenal dengan sebutan unagi. Sidat dari Banyuwangi dikirim ke berbagai negara, terutama Jepang.

Banyuwangi menjadi pilot project
pengembangan sidat di Indonesia oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak 2014, karena kualitas air bakunya yang terjaga. Beberapa tahun ini, selain dikembangkan perusahaan, sidat juga mulai dikembangkan pembudidaya rakyat. Kemitraan antara perusahaan dan pembudidaya rakyat, terjalin. Bupati Banyuwangi Azwar Anas berharap terus berkembang, sehingga menjadi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sidat termasuk jenis ikan Ordo Anguilliformes, bertubuh ramping dan memanjang. Sidat kebanyakan hidup di laut, ada juga yang hidup di air tawar dengan jenis berbeda, seperti kepalanya berbentuk segitiga dan berkepala menyerupai belut. Sidat paling suka makan udang, kepiting, dan berbagai jenis hewan air.

Leave A Reply

Your email address will not be published.