“POTENSI WISATA RELIGI NEGARA KITA”

0 50

InhuaOnline – Jakarta, (31/12) Efendi Hansen mengadakan webinar dengan tema “Potensi Wisata Religi di Negara Kita“ menggunakan aplikasi zoom, bersama para narasumber dan pemerhati yang memiliki kepedulian untuk berdiskusi mengenai WISATA RELIGI di Tanah Air.

bersama nara sumber, para pemerhati dan peserta diskusi “Potensi Wisata Religi di Negara Kita“

Adapun para narasumber dan pemerhati serta peserta yang mengikuti webinar adalah Dr.SD Darmono (Chairman Jababeka Group, Mantan Komut Taman Wisata Borobudur), YM Maha Bhiksu DR ( HC) Dutavira Stavira Kordinator Dewan Sangha Walubi, Ketum Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia Tanah Suci serta Pimpinan Vihara Avalokitesvara), Prof Budi Susilo Soepanji (Mantan Komisaris PT TWC, Mantan Gubernur Lemhannas dll), Prof AB Soesanto (Chairman JCG Indonesia), Bhante Dhammavudho (Ketua Association of Buddhist Tour Operators (ABTO) Indonesia), Dr. Rusmiati (Ketum ASITA), Mrs Lucy Salim (President Of International Buddhis Women Society), Mr Wei Kui Samuil (Filosof), Prof Idris Gautama So (Direktur Binus University), BJP Ricky F Wakanno (Ahli Binmas), Mr Haris Chandra (Tokoh Tionghoa / Waketum INTI), Bpk Sumadi Kusuma (Waketum Perhimpunan INTI, Ketum Marga Koh Indonesia, Dewan Kehormatan Majelis Agama Buddha Mahayana Indonesia Tanah Suci), Ibu Emilia Eny Utari (Corporate Secretary PT TWC), Mr Bambang Suryono (Chinese Media), Mr Sjin Phen, Mr Erwin (Kordinator Sandilogi dan SandiUno Productions, Bendahara Umum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional ).

Para pemerhati menyampaikan pandangannya.

Efendi Hansen selaku pemerakarsa sekaligus menjadi moderator adalah Senior Vice President Association of Buddhist Tour Operators (ABTO) membuka diskusi dengan menjelaskan bahwa dimasa Pandemi ini, bidang ekonomi yang sangat terpuruk dan berdampak luas adalah bidang tourist / Wisata, antara lain mencakup hotel, restoran, objek wisata, transportasi, agent perjalanan dll. Bahkan Perjalanan Religi yang biasanya wajib juga terhenti. Akan tetapi dimasa-masa diam ini, kita tidak harus diam, tapi berusaha berinovasi, agar begitu waktunya tiba, kita langsung terbang dan menggapai hasil.

Efendi Hansen selaku pemrakarsa sekaligus menjadi moderator adalah Senior Vice President
Association of Buddhist Tour Operators (ABTO) membuka diskusi.

Target Pemerintah mendatangkan wisatawan manca negara sebanyak banyaknya, juga merupakan Target bagi Negara lain. Tentu wisatawan akan memilih yang lebih PRIORITAS baginya. Dalam hal ini, kami melihat potensi WISATA RELIGI, sangat menjanjikan dapat cepat menarik Para Wisatawan Manca Negara.

Sebagai anak bangsa, kita coba diskusikan Wisata Religi yg ada di Negara Kita, hasilnya kita berikan ke Pemerintah dan BERSAMA Pemerintah Kita tindak lanjuti. “Potensi Wisata Religi di Negara Kita“ Seperti untuk Buddhis: Borobudur Temple, C. Mendut dll, Hindu: Prambanan Temple, Muslim Tempat Ziarah Walisongo, Moh Zheng Ho dll, Katolik : Gua Bunda Maria dll.
Acara dimulai dengan menyanyikan lagi “Bagimu Negeri” dan dilanjutkan doa pembuka oleh YM Maha Bhiksu DR ( HC) Dutavira Stavira, serta dilanjutkan Bhante Dhammavudho (Ketua Association of Buddhist Tour Operators/ ABTO ), memberikan gambaran mengenai wisata religi di India, Bodh Gaya yang semakin meningkat jumlahnya dari Tahun ke Tahun.

Beliau sendiri sudah membawa ummat ke sana sekitar 200-300 orang, kita dapat belajar dari cara India mempromosikan wisata religi karena kita mempunyai Candi Borobudur yang Agung dan indah, hanya bagaimana mempromosikannya sebagai tempat wisata religi, seperti melalui chanting, perayaan-perayaan International Buddhist event dll.

 

Dr. SD Darmono (Chairman Jababeka Group, Mantan Komut Taman Wisata Borobudur
menyampaikan pandangannya.

Dr. SD Darmono, memberikan pandangan bahwa type dari wisatawan itu adalah buang uang, buang waktu dan minta dihibur. Untuk religi ada tambahan lagi yaitu mencari sesuatu di tempat yang dikunjungi. Wisata religi terbesar di dunia adalah Mekkah, karena adanya Sabda Nabi Muhammad SAW dan naik haji menjadi kewajiban bagi ummat muslim.

Indonesia perlu mengkaji hal ini apa yang bisa menjadi daya tarik tersendiri, agama apa yang bisa memberikan daya tarik seperti Mekkah, apakah Candi Borobudur bisa? Pentingnya wisata religi selain menarik wisatawan mancanegara perlu juga domestik digiatkan karena kondisi saat ini memang cukup menyulitkan bagi wisatawan asing untuk berkunjung. Wisata religi menarik karena walaupun seseorang mempunyai uang, teknologi, kekuasaan tidak ada jaminan tidak terkena covid-19.

Jaminan ini darimana harus kembali ke Sang Maha Kuasa, Sang Pencipta yang menguasai segalanya, jaminan itu hanya ada dalam religi, untuk itu kembali lagi ke tempat-tempat religi yang bisa memberikan perasaan aman dan tentram, salah satunya candi Borobudur dapat memberikan suasana ini dengan memberikan sentuhan positif, dan hal ini dapat dilakukan terlebih dahulu oleh ummat Buddha dengan berbondong-bondong ke Candi Borobudur untuk melakukan doa untuk mendapatkan kedamaian dan keselamatan, perlunya contoh dari domestik terlebih dahulu dari para ummat Buddha di Indonesia yang mungkin dapat dilakukan
oleh ABTO, ungkapnya.

YM Maha Bhiksu DR ( HC) Dutavira Stavira Kordinator Dewan Sangha Walubi memberikan
pencerahan.

YM Maha Bhiksu DR ( HC) Dutavira Stavira mengatakan bahwa bila ingin Borobudur menjadi icon harus dimulai dari ummat Buddha sendiri agar berbondong-bondong kesana, dan untuk ini perlunya kerjasama dengan pemerintah menjadikan Borobudur sebagai icon kekuatan spiritual dari wisata religi, karena Borobudur dibawah pengawasan pemerintah, perlu panitia yang kuat, bijak dan pamor yang dapat menyampaikannya. Ketiga poin itu berhasil dan secara real terlihat dari adanya umat Buddha yang datang kesana, apalagi ummat Buddha jelas sekali tiap bulan ada 2 hari sakral yaitu CHE IT ( setiap tgl 1 lunar) dan CAP GOH ( setiap tgl 15 lunar) bagaimana dibuat ramai Borobudur dengan peringatan hari sakral ini.

Kalau persyaratan pertama ini sudah tercapai, yang kedua dukungan pemerintah akan lebih mudah, ketiga panitia kerjanya kuat, mampukah dalam tiga tahun ini membuat Borobudur ini terang NILAI SAKRALNYA. Tidak cukup kalau hanya dengan waisak saja, bagaimana waisak itu dipaketkan sehingga ada nilai spritualnya ,menarik, bergema di seluruh dunia.

Sekarang saja borobudur sudah bergeser dibandingkan dengan Angkor Wat, Kamboja, Turisnya sudah melebihi kuota yang ada, sebab itu kita perlu kerja keras. Mengapa Borobudur dibuat 10 tingkat, dari pandangan saya, Borobudur itu dibuat sebagai ilustrasi bagaimana manusia berjuang, mulai dari Kamadhatu; manusia mempunyai keinginan, kehendak, yang menyampaikannya dengan beragam cara, dapat dilihat dari relif yang ada, setelah tiga lantai, masuk lantai ke empat sampai ke tujuh menceritakan Rupadhatu; bahwa hakikinya tiada nilai dan arti kalau manusia hidup itu hanya berjuang dan berkehendak hanya untuk dirinya saja apalagi memaksakan kehendak, itu yang ingin disampaikan dalam cerita relif di Borobudur. Tingkat ke 4-7 juga menceritakan bagaimana manusia menempatkan dirinya mempunyai nilai dan arti berkarya, ini masih dalam keduniawian.

Ini mengingatkan bahwa seseorang itu pada akhirnya akan lenyap dan tinggal cerita, relif di Borobudur memberi pesan yang berbeda sampai pada Arupadhatu; perjalanan spritual pertapaan yang sampai puncak inilah ada relif Buddha. Inilah yang perlu di gemakan, bila ribuan orang menceritakan hal ini berkali-kali maka gaungnya akan mendunia, sehingga pengunjung yang ke Borobudur tidak hanya jalan-jalan saja, tapi juga mendapat PUSAKA bagi rohaninya. Borobudur sebagai salah satu keajaiban dunia, dibawah pengawasan Unesco, jangan hanya dianggap sebagai monumen mati, hanya sebagai hiasan duniawi, hanya sebagai cerita, bagaimana itu membawa manfaat bagi pengunjung, butuh kerja keras, kalau nilai spritualnya sudah bisa dibangkitkan akan berbeda gemanya.

Prof Budi Susilo Soepanji (Mantan Komisaris PT TWC, Mantan Gubernur Lemhannas dll)
memberikan pandangan dalam perspektif Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

Prof Budi Susilo Soepanji menyambut senang akan diskusi yang diselenggarakan dan 3 poin yaitu pertama potensi wisata religi ini memiliki aspek persatuan bangsa karena walaupun dengan adanya wisata tetapi harus menjaga persatuan, dengan melihat keadaan sekitar tempat wisata, apakah ekonominya maju sehingga perlu dibantu dalam arti bukan bantuan uang tetapi bantuan yang bersifat spritual serta sosial yang memberikan wawasan yang sama-sama memberikan sumbangsih kepada tempat wisata religi tersebut sehingga bersama menjaganya dan timbul rasa toleransi. Kedua masalah budaya, seperti di Borobudur di Jawa Tengah yang banyak seperti budaya tembang, hal ini wisata religi bisa menjadi penetrasi budaya ini bisa menjadi perekat ekonomi bangsa. Ketiga yaitu wisata religi ini bisa menjadi pintu masuk selain dengan keyakinan saja tetapi bagaimana juga membawa kesejahteraan bagi masyarakat di sekitar wisata religi tersebut.

Prof AB Soesanto (Chairman JCG Indonesia), memaparkan data dan fakta mengenai wisata yang ada di Indonesia.

Prof AB Soesanto memberikan pandangan mengenai wisata religi, dalam bukunya yang diterbitkan 2017 Word Toursim and Management serta mengutip dari buku Management Bela Negara. Bicara mengenai wisata memiliki banyak hal,salah satunya wisata religi yang dapat menjadi salah satu sumber pemasukan negara, seperti negara Arab Saudi 3% dari PDB dari ibadah naik haji. Tentu Indonesia dapat memanfaatkan Program Wisata Religi baik dari Wisatawan International maupun domestik. Survey mengenai negara yang menarik wisatawan muslim sebelum 2015 adalah Malaysia, Arab Saudi, Turki, Qatar, Uni Emirat Arab dan Indonesia dan survey terakhir 2019 dimana Indonesia sudah di posisi ke dua bersanding dengan Malaysia. Dengan memberikan cuplikan video tentang strategi pengembangan wisata nasional, bahwa perlu juga mengejar kualitas dan bukan kwantitas juga melihat spending yang dikeluarkan oleh turis yang datang.

Melihat perbandingan Borobudur dengan Angkor Wat dalam hal wisatawan asing ini yang sering diteriakan karena kita sangat kekurangan sehingga Borobudur banyak di cap “SINGLE DESTINATION With MULTIPLE MANAGEMENT” inilah perlu mulai dibenahi hingga muncul Badan Otorita Borobudur yang dapat mengkooordinasikan. Perlunya juga mewaspadai adanya Leakage effect yaitu pendapatan dari suatu negara keluar terutama di sektor pariwisata dari misalnya investor asing yang menggunakan biro perjalanan, makanan, cinderamata dari negara asalnya bukan dari negara tujuan, contoh Thailand diduga 70% uangnya mengalir keluar lagi ke negara lain, juga Australia diduga hingga 10% ke negara lain.

Karena itu diperlukan ekonomi kreatif dalam membangun wisata religi. Sebagai penutup perlu
juga melihat wisata gastronomi yaitu memperdayakan kekayaan lokal dalam makanan dan minuman. Kesalahan yang umum adalah membuat pariwisata sebagai destinasi, padahal pariwisata adalah pengalaman yang mana membuat wisatawan itu merasakan pengalaman menarik dari wisatanya yang dapat diceritakan kepada kerabatnya yang akan menjadi telling story yang kuat di masyarakat. Untuk itu diperlukan “ Strategi Planning” yang komprehensif khusus bagi wisata religi, perlunya destinasi khusus untuk masing-masing agama dengan story telling yang kuat, wisata budaya dan gastronominya.

Dr. Rusmiati (Ketum ASITA) menyampaikan harapan para pelaku usaha pariwisata yang
menyambut baik dan mendukung wisata religi segera dapat direalisasikan.

Dr. Rusmiati sangat appreciated dengan Mr Hansen akan penyelenggaraan diskusi yang menarik ini yang paling utama dari sudut pandang Asita adalah maret dan april 2021 dapat berjualan atau dimulai aktifitas pariwisata dapat kembali.

Mrs Lucy Salim mengatakan penting sekali wisata religi, perlunya panduan cerita Borobudur yang mana pegalamannya pernah mengadakan perjalanan wisata religi ke Borobudur, dan mendapat sambutan luar biasa peserta manca negara, untuk kembali lagi.

Mr Wei Kui memberikan pandangan mengenai konsep filsof dan ilmuwan yang saling bertemu untuk berdiskusi dimana dunia ini ada positif dan negatif selalu berdampingan dengan balance maka akan terjadi kebahagiaan. Untuk wisata religi masukan saya adalah perbanyak pemandu yang mengisi batin atau jiwa dari setiap wisatawan itu lebih penting.

Prof Idris Gautama So melihat wisata religi ini, kita perlu strategi yang holistik dalam menghadapi wisata religi oleh 5 pilar yang penting dalam mengisinya yaitu dari pemerintah, asosiasi dan pelaku bisnis, masyarakat, alim ulama, akademis dalam membangun kebersamaan menuju persatuan dan kesatuan bangsa.

BJP Ricky F Wakanno menceritakan pentingnya wisata religi agar wisatawan mendapatkan ketenangan, ketenteraman batin. Kita banyak memiliki tempat-tempat wisata rohani, seperti Pagoda Lumbini, Katedral Taman Wisata Iman, dll yang ada di Sumatera Utarahanya perlu lebih dipopulerkan dan digaungkan.

Mr Haris Chandra berterimakasih atas kesempatan bisa turut dalam diskusi yang sangat bagus ini, dimana dia juga pernah dalam tesisnya membahas mengenai wisata religi, dan akan tetap mendukung kegiatan ini.

Ibu Emilia Eny Utari (Corporate Secretary PT TWC) menjelaskan kondisi Candi Borobudur saat ini
dan berharap dapat bekerjasama dalam memajukan pariwisata khususnya di Candi Borobudur.

Ibu Emilia Eny Utari memberikan informasi terkait dengan managemen dari Candi Borobudur, wisata religi ini sudah lama, yang mana Borobudur sebagai icon yang sudah lama pernah dibuatkan konsep yang menarik, namun sampai saat ini belum terealsasikan secara signifikan, sebagai informasi memang dalam Borobudur itu sendiri terbagi menjadi 2 managemen pengelolaan yaitu zona 2 yaitu zona wisata candi dan zona 1 khusus di candinya konservasinya dari dirjen kebudayaan.

Wisata religi sudah pernah dilakukan tetapi belum dalam hal yang reguler tetapi untuk kepentingan pada saat ada kegiatan acara event waisak di Borobudur. Yang perlu dibicarakan lebih lanjut adalah untuk kepentingan di Zona 1, karena memang untuk saat ini, semenjak covid-19, untuk Zona 1 dibatasi sekali, oleh Gugus Tugas dibatasi hanya untuk di pelataran saja tidak diperbolehkan naik ke monumen candi. Untuk yang naik ke candi tidak bisa semua dan tidak diijinkan membawa hio hal ini benar-benar dibatasi untuk itu perlu diskusikan kembali dengan beberapa pihak terkait untuk bersama-sama memikirkan apa yang dapat dilakukan agar wisatawan religi ini dapat meningkat.

Mr Bambang Suryono dalam pandangannya bahwa tahun 2021 masuk masa emas kerbau yang bagus, banyak kemajuan. Banyak tempat wisata religi yang ada di Tanah air, perlu diciptakan Ungkapan Semangat bagi yang berkunjung. Seperti kalau kita berkunjung ke Tembok Great Wall, ada Semboyan, “Belum Sampai Great Wall, Belum Jadi Pahlawan”, harusnya kita juga bisa CIPTAKAN semboyan, seperti “Belum Sampai Candi, Belum menjadi pahlawan”, maksud candi ini adalah bangunan bersejarah yang ada di Indonesia. Ada 12 wisata religi yang dapat dikembangkan di Indonesia, salah satunya Candi Muaro Jambi di sumatera, yang berhubungan dengan masa Tang Dynasti, ada yang datang ke nusantara belajar bahasa Sansekerta bernama I-Ching. Hal semacam inilah yang dapat dikembangkan untuk menambah wawasan dalam pengembangan wisata religi.

Akhir diskusi, Efendi Hansen yang menyampaikan banyak terima kasih kepada para narasumber dan pemerhati yang telah memberikan kajiannya, kami akan merangkumnya nanti dan diberikan kepada pemerintah terutama institusi yang berkaitan, sebagai wujud kepedulian anak bangsa dalam masa pademi ini. Acara diakhiri dengan foto Bersama dan mengucapkan selamat tahun baru 2021.(sjinphen)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: