Pernyataan bersama tokoh agama terkait polemik RUU HIP

0 15

InhuaOnline – Para tokoh agama yang mewakili organisasi masing-masing mengeluarkan pernyataan bersama terkait polemik Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) pada jumat, 3/7/2020 bertempat di Auditorium KH Ahmad Dahlan PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat.

Organisasi agama yang sepakat mengeluarkan pernyataan bersama a.l Pimpinan Pusat Muhammadiyah diwakili oleh KH. Abdul Mu’ti, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) oleh KH Helmy Faisal Zaini, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) oleh Pendeta Jacky Manuputty, Romo Agustinus Heri Wibowo dari Komisi HAK Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) oleh KS Arsana, Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) oleh Pandita Citra Surya, dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) oleh Xs. Budi S. Tanuwibowo.

Pada kesempatan tersebut Sekjen Muhammadiyah, KH. Abdul Mu’ti membacakan empat poin
pernyataan bersama para tokoh agama,

Poin pertama, “Bahwa Pancasila adalah dasar negara dan sumber segala sumber hukum negara Republik Indonesia. Secara konstitusional kedudukan dan fungsi Pancasila sudah sangat kuat sehingga tidak memerlukan aturan lain yang berpotensi mereduksi dan memperlemah Pancasila”

Kedua, “Bahwa rumusan Pancasila sebagai dasar negara, adalah sebagaimana termaktub dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Rumusan-rumusan lain yang disampaikan oleh individu atau dokumen lain yang berbeda dengan Pembukaan UUD 1945 adalah bagian dari sejarah bangsa yang tidak seharusnya diperdebatkan lagi pada masa kini karena berpotensi menghidupkan kembali perdebatan ideologis yang kontra produktif Yang lebih diperlukan adalah internalisasi dan pengamalan Pancasila dalam diri dan kepribadian bangsa Indonesia serta implementasi dalam perundang-undangan, kebijakan, dan penyelenggaraan negara,"

Ketiga, “Bahwa pemerintah menyatakan menunda pembahasan RUU HIP oleh karena itu DPR hendaknya menunjukkan sikap dan karakter negarawan dengan lebih memahami arus aspirasi masyarakat dan lebih mementingkan bangsa dan negara di atas kepentingan partai politik dan golongan,

Kempat, “Bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi wabah pandemi Covid-19 serta berbagai dampak yang ditimbulkan terutama sosial dan ekonomi. Karena itu semua pihak hendaknya saling memperkuat persatuan dan bekerja sama untuk mengatasi wabah pandemi Covid-19 dan dampak yang ditimbulkannya serta menjaga situasi kehidupan bangsa yang kondusif, aman, dan damai.”

Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum MATAKIN yang hadir saat itu mengatakan bahwa Pancasila adalah kesepakan dasar yang telah digodok sekian lama dan telah melalui perdebatan yang panjang didalam sejarah. Menurut Budi Pancasila sudah final, namun penerapannya memang masih belum maksimal.

“Pancasila adalah kesepakan dasar yang telah digodok sekian lama, melalui perdebatan panjang dalam sejarah. Dan apa yang kita mengerti tentang Pancasila saat ini adalah kristalisasi dari kesadaran berbangsa, dan ada ruang untuk saling memberi dan meminta dari kita semua yang semuanya sudah kita sepakati plus minusnya. Jadi kalau nilai-nilai itu ingin kita implementasikan didalam realita hidup itu sangat baik, tapi tentu ada acara dan mekanisme yang sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia,
nah itulah yang sebenarnya kita minta. Pancasilanya sudah selesai, penerapannya semua kita sepakat belum, itu perlu kita wujudkan” kata Budi

Lebih lanjut Budi menyebut saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan hal yang bisa menimbulkan permasalahan baru. Menurutnya lebih baik berkonsentrasi menghadapi bahaya akibat pandemic covid 19.

“Sekarang adalah waktu yang sangat penting untuk kita semua sebagai bangsa konsentrasi penuh menghadapi bencana yang mungkin kita sekarang merasakan tidak apa-apa, tapi angka demi angka yang kita lihat setiap hari menunjukkan bahwa ada masalah besar.

Ada proyeksi yang mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa minus 4 persen dan bahkan minus 6 persen. Tumbuh saja sudah kurang baik kalau tumbuhnya kecil untuk sebuah negara sekelas Indonesia, apalagi kalau turun. Jadi kita semua ingin mengajak semuanya untuk lebih berkonsentrasi pada masalah yang paling mendasar, masalah yang sangat berat, yang benar-benar memerlukan perhatian kita. Dan kita disini lebih baik mengurangi segala sesuatu yang bisa menimbulkan persoalan baru, ketimbang mencoba membuat sesuatu yang sudah baik menjadi kurang baik hanya karena kita tergesa-gesa.” Lanjut Budi.

Terakhir Budi berharap DPR bisa menyerap asprasi para tokoh agama dalam mengambil keputusan.

“ Saya berharap semua pihak terutama para pengambil keputusan di DPR bsa menyerap aspirasi yang datang dari kami agar bisa mengambil langkah yang terbaik bagi bangsa ini.” Tutup Budi.

(Edited.Rully)

Leave A Reply

Your email address will not be published.