Permit Jatim Gelar Pelatihan BLS Diikuti 8 Perguruan Tinggi

0 306

Perkumpulan Masyarakat dan Pengusaha Tionghoa Indonesia (PERMIT) Jatim kembali menggelar pelatihan Basic Life Support (BLS) atau pertolongan dasar untuk menyelamatkan jiwa yang diikuti 400 mahasiswa dari 8 perguruan tinggi diantaranya Universitas Surabaya (UBAYA), UK. Petra, UNAIR, Univ. Hang Tuah, Univ. Negeri Surabaya, Univ. Machung dan sebagainya. Acara digelar di GrandCity Surabaya dengan pelatih dari perkumpulan dokter anastesi, dokter jantung, Fakultas Kedokteran UNAIR, IDI dan RSUD Dr. Soetomo (17/12).

Josie Halim Ketua PERMIT Jatim mengungkapkan sengaja mengundang peserta dari kalangan akademisi untuk menjadikan Surabaya kota ramah stroke dan jantung. “Di luar negeri, para mahasiswa sebelum lulus wajib memiliki ketrampilan BLS. Demikan pula ketika mengambil ujian SIM, peserta  wajib mengikuti pelatihan BLS. Kami memulai di Surabaya, masyarakat mampu menolong korban yang mengalami tidak sadar di manapun berada sehingga nyawanya tertolong,” terang Josie Halim.

Peserta kali ini tidak hanya para mahasiswa tapi juga relawan dan masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap sesama. Josie Halim menambahkan bahwa pelatihan BLS sangat menarik perhatian pihak kampus dan meminta untuk diberi pelatihan khusus di kampus masing-masing. Josie pun berjanji mendatangkan tim BLS ke berbagai kampus untuk memberikan pelatihan dengan peserta minimal 200 orang.

“Kami juga segera membentuk club untuk relawan maupun masyarakat yang pernah berlatih BLS namun tidak pernah dipraktekkan. Agar mereka tidak lupa tekniknya dengan mengadakan pelatihan kembali,” imbuh Josie.

Pelatihan Penting untuk Bisa Membantu Sesama di Saat Tak Terduga

Eddy Rahardjo salah satu pakar yang menjadi pelatih menceritakan sebuah kejadian dimana keluarga petani di Norwegia suatu hari mengadakan piknik. Namun naas, salah satu anaknya tercebur ke sungai dan terseret arus. Setelah anak tersebut ditemukan namun dalam kondisi tidak sadar, tidak bergerak, tidak bernafas dan membiru dingin. Namun, sang ayah dengan sigap melakukan BLS, dan sang ibu memanggil ambulan. Anak tersebut tertolong jiwanya.

“Ayah tersebut melakukan pemijatan jantung dan memberikan nafas buatan dalam rentangg waktu 5 – 10 menit kondisi si anak mati suri, akhirnya bisa hidup kembali karena takdir. Kita upayakan jika ada peluang menolong korban atas ijin Tuhan. Selama 9 jam pertolongan dilakukan kepada korban supaya kembali hidup normal,” jelas Eddy Rahardjo.

Pesta P.M. Edwar juga salah satu dokter ahli meminta para peserta tidak menjadi penonton tapi penolong ketika ada seseorang mengalami keadaan tidak sadarkan diri, dimanapun berada. Caranya datangi korban, disapa terlebih dahulu sebanyak tiga kali dengan berteriak bila tidak mendengar. Kemudian berteriak meminta pertolongan, selanjutnya tengadahkan kepalanya agar udara bisa masuk ke tubuh, sehingga korban bisa bernafas bebas. Lakukan pemijatan jantung dengan titik tumpu yang benar dan tepat di tengah tulang dada. Tangan saat memijat jantung harus lurus dan saling menyilang.

“Bila tidak bisa melakukan dengan benar maka berbahaya bagi si korban. Jadi pemijatan jantung harus tepat selanjutnya memberikan nafas buatan sambil menunggu tenaga medis datang,” jelas Pesta. (April Lie)

Leave A Reply

Your email address will not be published.