Paduan Budaya Simbol Keharmonisan Keberadaan Klenteng Liong Hok Bio dan Masjid Al Mahdi Magelang

0 22

Magelang salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah dengan luas 18,12 km2, berpenduduk kurang lebih 138.271 jiwa. Letak Magelang sangatlah strategis berada di jalur Semarang Yogyakarta. Banyak wisata yang ditawarkan di Magelang untuk pecinta plesiran. Bila di Yogyakarta memiliki pusat pecinan terkenal yakni Malioboro, maka di Magelang terdapat Jalan Pemuda sebagai pusat pecinan bersejarah.

Kawasan pecinan berada di alun-alun Kota Magelang yang semasa Kolonial Belanda sebagai pusat perdagangan. Masih dalam satu lokasi terdapat masjid terbesar, gereja, pusat pemerintahan dan klenteng. Adapun kuliner khas Magelang adalah getuk dan kupat tahu yang banyak dijual di pasar tradisional.

Magelang memiliki dua klenteng yakni Liong Hok Bio dan Hok An Kiong. Liong Hok Bio didirikan Kapiten Be Koen Wie pada 1864. Be Koen Wie saudagar kaya asal Solo yang pindah tugas ke Magelang semasa pemerintahan Belanda. Semula ia berpangkat letnan kemudian menjadi kapten. Be Koen Wie melimpahkan tanahnya untuk dibangun klenteng yang berada di Jalan Alun Alun Selatan no 2 Magelang.

Keberadaan Klenteng Liong Hok Bio di pusat Kota Magelang menjadi salah satu ikon kebanggaan masyarakat. Hampir semua pengunjung memuji kebersihan klenteng dan keramahan pengurus di sana. “Tempatnya bersejarah masih sangat rapi. Berada di pusat kota, memiliki akses yang mudah, lahan parkir luas. Sangat direkomendasikan untuk menambah feed di instagram kalian,” tulis Anjany Wepe.

Dionna Erlin menuliskan ‘keanekaragaman kebudayaan dan agama yang membuat Indonesia menarik di marta dunia luar’. Hal sama ditulis R. Agung Surono yang pada intinya mengatakan bangunan klenteng dahulu dari kayu dan habis terbakar. Kemudian dibangun ulang dengan bentuk yang mirip. Klenteng memiliki arti penting karena pada zaman perjuangan ikut membantu para pejuang saat menghadapi agresi militer Belanda.

Lensanasrul menambahkan Liong Hok Bio adalah klenteng kebanggaan masyarakat Magelang yang menyimpan banyak sejarah dan menjadi saksi perjuangan masyarakat Tionghoa melawan Belanda dalam perang Jawa dipimpin Pangeran Diponegoro. Koi menuliskan ‘tidak lengkap kalau ke Magelang tidak mampir ke klenteng’.

Klenteng tertua lain di Magelang adalah Hok An Kiong di Jalan Pemuda no 100 Muntilan yang didirikan pada 1878. Di dalam klenteng terdapat tempat hio super besar dengan diameter 188 cm berat 3.8 ton.

Bangunan yang tak kalah menariknya bagi wisatawan adalah keberadaan Masjid Al Mahdi terletak di Jalan Delima Raya, Kramat Utara Kecamatan Magelang Utara. Masjid Al Mahdi berarsitektur khas Tiongkok. Pada sisi kiri masjid terdapat menara setinggi 5 meter. Sedangkan di puncak menara kubah terdapat lafal Allah. Hiasan lampion di langit Masjid Al Mahdi semakin menambah suasana Khas bangunan di Tiongkok.

Luas masjid 290 meter2 dengan ornamen khas Tiongkok berwarna merah dan emas, tapi tetap terasa nuansa Islami. Dinding masjid berhias kaligrafi, terdapat mimbar dan sajadah karpet hijau. Masjid Al Mahdi dibangun oleh Kwee Giok Yong seorang mualaf yang berganti nama menjadi Mahdi.

Masjid Al Mahdi dibangun selama 8 bulan memiliki kegiatan seperti masjid pada umumnya yakni sebagai tempat belajar mengaji Al Qur an untuk anak-anak, pada bulan Ramadhan mengadakan sholat tarawih dan menyediakan takjil. Masjid Al Mahdi diresmikan Walikota Magelang pada April 2017 lalu. Banyak masyarakat yang mengunjungi masjid Al Mahdi tak sekedar ibadah tapi juga berswa foto lalu diunggah di instagram. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.