Meski Sistem Pemilu Berubah Politik Uang Sulit Diberantas

0 3

Jakarta – Mantan Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay menilai perubahan sistem pemilu dari sistem terbuka ke sistem tertutup tidak otomatis menghilangkan politik uang atau money politic. Menurutnya, salah kaprah jika berpandangan politik uang akan hilang dengan sistem proporsional tertutup.

“Pandangan dengan sistem tertutup, politik uang akan hilang, saya kira salah kaprah. Jangan-jangan tidak juga menjamin politik uang akan berkurang. Bisa jadi cuma sekedar pindah saja dari pemilih ke pengurus parpol,” ujar Hadar Nafis Gumay di Jakarta, Minggu (19/1/2020).

Hadar menegaskan persoalan pemilu termasuk politik uang tidak langsung terkait dengan sistem pemilu. Menurut dia, persoalan utama dari pemilu justru terletak pada partai politik. “Demokrasi berbiaya mahal lebih karena pertama ketidakberhasilan parpol mendapatkan keseluruhan calon mereka sendiri cukup berintegritas,” tandas Hadar Nafis Gumay.

Kemudian kurang mampunya parpol mengontrol dan memastikan para calonnya berpemilu sesuai aturan. Selain itu, sistem pengawasan dan penegakan hukum pemilu yang masih lemah. “Ditambah lagi pengaturan dan pertanggungjawaban dana kampanye yang masih longgar,” ungkap Hadar Nafis Gumay.

Menurut Hadar, tidak ada jaminan sama sekali sistem proporsional tertutup dapat mengatasi persoalan permasalahan pemilu di Indonesia. Perubahan sistem pemilu ini hanya menjamin sentralitas dan dominasi pengurus partai akan semakin kuat.

“Repotnya kelemahan sistem tertutup akan muncul. Akuntabilitas wakil rakyat akan lebih kuat ke parpol daripada ke konstituennya atau masyarakat di dapil. Caleg yang disiapkan dan diharapkan terpilih oleh parpol belum tentu menjadi pilihan masyarakat,” tutur Hadar Nafis Gumay.

Kelemahan lain sistem proporsional tertutup, lanjut Hadar adalah para caleg sulit menjadikan kampanye sebagai ajang menunjukkan kualitas, dan sebaliknya bagi masyarakat sulit mengenal calon wakil rakyat melalui kampanye. Selain itu, parpol cenderung menekankan atau memfokuskan pada isu-isu level parpol.

“Lalu caleg-caleg di nomor urut bawah cenderung malas berkampanye karena merasa potensi keterpilihan mereka kecil, demikian juga caleg di nomor urut kecil atau atas akan semangat karena potensi keterpilihan mereka lebih besar,” pungkas Hadar Nafis Gumay.

Leave A Reply

Your email address will not be published.