Mengenang Sang Pejuang Bingky Irawan Tokoh Khonghucu Asal Surabaya

0 19
InhuaOnline, Surabaya – Sosok Bingky Irawan bagi warga Surabaya tidaklah asing, karena dikenal tokoh pejuang emansipasi penganut ajaran Konghucu di Indonesia. Bingky Irawan (傅孙铭) menjabat Ketua Umum Parakhin (Perkumpulan Rohaniwan Agama Khonghucu Indonesia).
Bingky Irawan menghembuskan nafas terakhir di RS Delta Sidoarjo, pada pukul 3 dini hari, Hari Senin 31 Mei 2021, setelah beberapa hari rawat inap, karena penyakit auto imun. Bingky Irawan meninggalkan istri Susilowati dan putra putrinya yakni Puspita Sari, Agus Purwanto, Agus Cahyono, dan Agus Kurniawan.

 

Aktivitas terakhir Bingky Irawan turut meresmikan Kelenteng Khonghucu Ba De Miao yang berada di kompleks rumah ibadah 6 agama di Royal Residence Surabaya, pada 13 Oktober 2020. Kala itu Bingky Irawan yang memimpin doa. Bingky Irawan mengucap syukur kepada Tuhan, karena kelenteng Boen Bio mampu menyelesaikan pembangunan Ba De Miao untuk mengembangkan ajaran suci yang berguna bagi umat dan bangsa. Bingky Irawan juga mendoakan Covid19 segera berlalu di bumi Nusantara dan Tuhan melindungi para pemimpin bangsa memiliki keteguhan iman dalam menghadapi permasalahan bangsa.
Bingky Irawan lahir di Surabaya 71 tahun lalu, seorang Haksu pernah menjadi anggota presidium Matakin (2006 – 2010) singkatan dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, semacam Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk agama Islam. Matakin mengurus Konghucu dari Sabang sampai Merauke, seperti ibadah, kelenteng, hingga hubungan antaragama dan pemerintah. Beliau juga mantan Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (Makin) Jawa Timur dan mantan pengurus Kelenteng Boen Bio.

Haksu Bingky Irawan dikenal dekat dengan Gus Dur. Pada era Orde Baru, warga keturunan Tionghoa di Indonesia mengalami diskriminasi. Budaya Tionghoa dilarang, bahkan nama pun wajib berganti nama Indonesia. Rezim Orde Baru hanya mengakui lima agama yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha. Bingky Irawan memperjuangkan hak-hak sipil umat Konghucu dan warga Tionghoa umumnya.
Menjelang kejatuhan Orde Baru, Bingky Irawan bersama umat Konghucu menghadapi masalah hak-hak sipil. Sepasang pengantin beragama Konghucu, Budi Wijaya dan Lanny Guito, tidak bisa mencatatkan pernikahannya di Kantor Catatan Sipil Surabaya, karena Konghucu tidak diakui di Indonesia. Sebagai pemuka Konghucu, Bingky Irawan mendampingi mereka. Gus Dur lantas turun tangan membela umat Konghucu, khususnya Budi dan Lanny.

Bingky Irawan adalah tokoh kunci dibalik layar tentang hari raya Imlek dan agama Konghucu disahkan negara. Bingky Irawan lah yang mengusulkan kepada Gus Dur saat menjadi Presiden RI ke 4. Hingga terbitlah Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mengatur antara lain penyelengaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Pada tahun 2001 Gus Dur menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional fakultatif. Gus Dur pun hadir dalam perayaan Imlek tingkat nasional di Jakarta.
Kebijakan ini diteruskan Presiden Megawati Soekarnoputri yang menetapkan Tahun Baru Imlek alias Sin Cia sebagai hari libur nasional. Ekspresi budaya, agama, seni, bahasa yang berbau Tionghoa kembali eksis di tanah air.
Jenasah Bingky Irawan disemayamkan di Adi Jasa, kemudian dimakamkan di Sentong pada Jumat, 4 Juni 2021. Beberapa perkumpulan hadir memberikan penghormatan terakhir dan mendoakan Alm. Bingky Irawan. Salah satunya Perkumpulan Inti Jatim.

Ketua Perkumpulan INTI Jatim Gatot Seger Santoso mengatakan,”Pak Bingky Irawan adalah penasehat kita di Jatim. Sosok Pak Bingky tak hanya berkiprah di INTI saja, beliau tokoh Tionghoa yang lintas agama dan lintas iman. Hubungan beliau dengan semua agama baik. Pak Bingky menginspirasi kita. Banyak sumbangsihnya khususnya umat Konghucu. Pak Bingky dan kawan-kawannya yang mengusulkan Imlek dan Cap Go Meh.”
Gatot menceritakan berkaitan kasus dua anak beragama Konghucu yang menikah di tempat ibadah Konghucu, sayangnya tidak diterbitkan kutipan catatan sipil, karena Konghucu tidak diakui sebagai agama. “Itu yang kita gugat, jadi bukan agama tapi hak hak sipilnya. Tapi karena UU perkawinan harus dilakukan institusi, akhirnya kita harus membuktikan Konghucu sebagai agama. Akhirnya Gus Dur menjadi presiden, lalu diusulkan dan Inpres 14/1967 dicabut,” imbuh Gatot.
Saat ditanya peran Bingky Irawan terhadap generasi muda. Gatot mengatakan,”Pak Bingky mengkader banyak orang termasuk lintas agama. Semangat dan pemikirannya menginspirasi orang banyak, itu dilanjutkan. Tercermin barisan Gus Durian yang bersama kita mewarisi pemikiran Gus Dur sama saja mewarisi semangat Bingky Irawan.” (Wikipedia & berbagai sumber)

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.