Komentar Ahli Atas Perang Dagang: Proteksionisme Perdagangan Merusak Stabilitas Ekonomi Global

0 10

Proteksionisme perdagangan mengancam stabilitas ekonomi global, dan tingginya tarif impor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat merugikan kepentingan negara lain, para pakar Indonesia memperingatkan dalam wawancara eksklusif dengan Xinhua.

Prof. Fredy BL. Tobing, kepala ahli hubungan internasional di Universitas Indonesia, sangat prihatin dengan gesekan perdagangan antara AS dan China. AS menaikkan tarif impor untuk produk-produk Cina yang lebih kompetitif dan memberikan sanksi tidak adil kepada perusahaan-perusahaan Cina, katanya.

Selain itu, tindakan tersebut akan secara signifikan mempengaruhi ekonomi Indonesia sebagai kerusakan jaminan, karena China dan AS keduanya adalah mitra dagang Indonesia, kata Tobing.

“Jika ketegangan perdagangan AS-China berlanjut, pada akhirnya dapat mengganggu investasi asing dan nilai tukar mata uang Indonesia di masa depan,” katanya, seraya menambahkan bahwa China adalah mitra dagang terbesar Indonesia dan sumber utama modal asing di negara itu saat ini.

Pada ekonomi Indonesia, ia memperkirakan bahwa Indonesia mungkin menghadapi tantangan besar untuk memenuhi target pertumbuhannya sebesar 5,3 persen tahun ini.
“Dunia membutuhkan normalisasi hubungan perdagangan AS-China,” Tobing menunjukkan bahwa ekonomi Asia, yang terkait erat dengan China dalam hal perdagangan dan investasi saat ini, akan segera menderita dari ketegangan perdagangan.

Dia juga memperingatkan bahwa gesekan perdagangan yang dipicu oleh Amerika Serikat bertentangan dengan tren globalisasi ekonomi.

Fithra Faisal, seorang ahli ekonomi dan studi bisnis di Universitas Indonesia, mengatakan bahwa jika ketegangan perdagangan AS-Cina berlanjut, dampaknya akan menjadi bencana besar bagi ekonomi global.

“Berlanjutnya friksi perdagangan antara AS dan China dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,8 persen,” katanya.

Dalam keadaan suram, KTT G20 Osaka diperkirakan akan mengirim sinyal positif kepada ekonomi dunia. Kedua ahli sepakat bahwa ekonomi global harus menggunakan mekanisme kerja sama internasional, seperti G20, untuk mempromosikan liberalisasi dan fasilitasi untuk investasi dan perdagangan sehingga dapat meningkatkan ekonomi global, dan mekanisme tersebut harus mengecilkan proteksionisme perdagangan dan bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi global.

Leave A Reply

Your email address will not be published.