Jakarta – Indonesia dan Afrika Selatan sepakat memperkuat sinergi di berbagai bidang strategis pariwisata. Kesepakatan ini menandai babak baru komitmen kedua negara dalam membangun sektor pariwisata yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Penguatan kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana dan Menteri Pariwisata Afrika Selatan Patricia de Lille di Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Kamis, 5 2026.
Menteri Pariwisata Widiyanti menjelaskan, kerja sama ini berlandaskan kesepakatan pembentukan Komisi Bersama Kerja Sama Bilateral Indonesia–Afrika Selatan yang ditandatangani di Jakarta pada 20 April 2015. Kesepakatan tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara.
“MoU ini mencerminkan komitmen bersama untuk menjadikan pariwisata sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, sarana pertukaran budaya, serta penguatan pemahaman antar masyarakat kedua negara,” ujar Widiyanti dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Kamis, 5 Februari 2026.
Sebelum penandatanganan MoU, kedua menteri menggelar pertemuan bilateral untuk membahas langkah tindak lanjut agar implementasi kerja sama berjalan efektif.
Pembahasan mencakup upaya peningkatan arus kunjungan wisatawan, termasuk fasilitasi visa, penguatan konektivitas udara, serta promosi pariwisata bersama.
Dalam MoU tersebut, Indonesia dan Afrika Selatan sepakat memperkuat kolaborasi di sejumlah bidang strategis, antara lain pengembangan pariwisata berkelanjutan, peningkatan kapasitas dan sumber daya manusia, pemasaran dan promosi pariwisata, investasi sektor pariwisata, penguatan standar keamanan dan layanan pariwisata termasuk manajemen krisis, serta penelitian dan pengembangan pariwisata.
Kedua negara juga menjajaki kerja sama promosi destinasi unggulan dan destinasi tersembunyi, pengembangan gastronomi, serta fesyen sebagai bagian dari penguatan diplomasi budaya yang melibatkan masyarakat kedua negara.
Kemitraan ini dinilai sejalan dengan semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung yang menekankan solidaritas, saling menghormati, dan kolaborasi antarnegara di kawasan selatan global.
“Kami meyakini penandatanganan MoU ini akan membuka peluang pengembangan pariwisata yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan tangguh bagi kedua negara,” kata Widiyanti.
Sementara itu, Menteri Pariwisata Afrika Selatan Patricia de Lille menyambut baik penguatan kemitraan tersebut. Menurutnya, Indonesia dan Afrika Selatan memiliki hubungan historis yang kuat.
“Penandatanganan nota kesepahaman ini akan semakin memperdalam hubungan antara kedua negara,” ucap Patricia.
Dalam kesempatan itu, Patricia juga menyampaikan pemerintah Afrika Selatan tengah mereformasi sistem visa. Warga negara Indonesia kini dapat mengajukan visa secara daring dengan proses kurang dari 24 jam.
Ia juga mengundang agen perjalanan dan operator tur Indonesia untuk mengikuti program familiarization trip ke berbagai destinasi wisata Afrika Selatan.
Patricia menambahkan Afrika Selatan berkomitmen mengembangkan pariwisata halal serta pariwisata berbasis digital dengan melibatkan Muslim Judicial Council dan otoritas terkait guna memastikan kenyamanan wisatawan Muslim.
Berdasarkan data, sekitar 30 ribu wisatawan Afrika Selatan mengunjungi Indonesia pada 2025, sementara jumlah wisatawan Indonesia ke Afrika Selatan tercatat sekitar tiga ribu orang.
“Kami ingin meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di kedua negara. Masyarakat Indonesia akan selalu disambut dengan hangat di Afrika Selatan,” tutur Patricia.
(TVRINews)