Dengan sekali klik orang bisa menemukan kelompok-kelompok yang sesuai dengan kepercayaannya.
Misalnya seseorang percaya bahwa bumi itu datar, maka dengan media sosial dia bisa mencari ribuan grup yang menyebutkan bumi itu datar. Hal itu menyebabkan orang tersebut berada dalam ruang gema “echo chamber” dari informasi-infromasi yang hanya ingin dia ketahui.
“Hal itu juga dapat menciptakan identitas politik yang bahkan belum terlihat. Orang-orang akan terus mengelompok dan mempunyai kepercayaan yang mungkin tidak sesuai dengan BhinekaTunggal Ika,” kata dia.
Identitas suatu negara bisa menjadi pecah akibat kepercayaan-kepercayaan yang terkotak-kotak karena media sosal.
“Akhirnya media sosial malah mengecilkan kita bukan menyatukan kita,” kata dia.