Jakarta – Anggota Civil 20 (C20) dari seluruh dunia mendesak para pemimpin negara kelompok G20 segera menyelesaikan krisis multidimensi yang sedang dihadapi masyarakat global saat ini.

“Penting bagi para pemimpin G20 untuk menempatkan rakyat di atas kepentingan politik,” kata Ketua C20 Indonesia Sugeng Bahagijo melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.

Ia menyebutkan saat ini tercatat 71 juta orang jatuh ke dalam kategori kemiskinan ekstrem pada kuartal pertama tahun 2022. Sementara itu, lebih dari 250 juta jiwa diperkirakan membutuhkan bantuan serta perlindungan kemanusiaan pada akhir 2022.

Desakan untuk menyelesaikan krisis multidimensi itu penting mengingat pertumbuhan ekonomi tidak mungkin terjadi tanpa kontribusi nyata dari suara rakyat dan partisipasi aktif semua lapisan masyarakat, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas.

Keberadaan C20, tambahnya, termasuk membahas gagasan dan rekomendasi yang tidak hanya inklusif, tetapi juga menangani keseluruhan gejolak politik, ekonomi, dan kondisi sosial saat ini.

“Oleh karena itu, mewakili suara masyarakat sipil, kami menyerukan pemimpin G20 untuk melakukan upaya nyata,” tegasnya.

Tindakan nyata itu meliputi ketersediaan dan berbagi sumber daya dalam mencegah dan menanggapi krisis. Selain itu, kelompok G20 juga harus meningkatkan kuantitas dan kualitas pendanaan dalam menghadapi krisis global serta mengakui aktor non-negara sebagai aktor kemanusiaan.

Hingga kini, orang-orang masih membutuhkan bantuan kemanusiaan paling banyak dibandingkan tahun sebelumnya, apalagi dipicu oleh pandemi COVID-19, bencana alam, krisis iklim, ketidakadilan sosial ekonomi, konflik sosial politik, krisis pangan dan energi, inflasi, dan pemerintahan buruk.

Senada dengan itu, Steering Committee (SC) C20 Indonesia Binny Buchori mengatakan isu perubahan iklim juga menjadi salah satu pemicu terbesar dari eskalasi gejolak kemanusiaan secara global.

Ada kemungkinan masyarakat dunia gagal memenuhi target Perjanjian Paris, yaitu membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat celsius, kata Binny.

Hal tersebut berdampak pada berbagai aspek kehidupan termasuk kelangkaan pangan dan air yang berujung pada malnutrisi dan peningkatan kesenjangan di berbagai negara. Selain itu, perekonomian dunia juga akan menjadi 10 hingga 18 persen lebih kecil.

“Krisis pangan yang memperparah krisis kemanusiaan juga dipicu oleh lonjakan inflasi dan spekulasi pasar,” katanya.

Menurut laporan Bank Dunia, lebih dari 80 persen negara berpenghasilan rendah maupun negara berpenghasilan rendah dan menengah melihat tingkat inflasi di atas lima persen.

“Kami menyaksikan penderitaan besar yang dialami banyak orang karena pandemi berkepanjangan, krisis ekonomi, dan kemanusiaan global,” ujarnya.