Bangun pabrik baru, Chandra Asri turut hemat devisa hingga Rp8 triliun

0 7
Semua produknya ditujukan untuk kebutuhan dalam negeri dan hasil produksi pabrik ini akan menjadi produk substitusi impor

Cilegon, Banten – PT Chandra Asri Petrochemical (Chandra Asri) turut menghemat devisa negara hingga Rp8 triliun dengan medirikan pabrik baru senilai Rp5,7 triliun yang memproduksi polyethylene (PE) di Cilegon, di mana produknya menjadi subtitusi impor.

“Semua produknya ditujukan untuk kebutuhan dalam negeri dan hasil produksi pabrik ini akan menjadi produk substitusi impor, sehingga Indonesia dapat menghemat devisa sebesar Rp8 triliun per tahun,” kata Presiden Direktur CAP Erwin Ciputra di Cilegon, Banten, Jumat.

Erwin memaparkan sejak didirikan pada 1992, Chandra Asri berupaya maju dan berkembang untuk menjadi mitra pertumbuhan bagi industri, pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Founder PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) Prajogo Pangestu (kedua kanan), Komisaris CAP Agus Salim Pangestu (kedua kanan) dan Preskom CAP Djoko Suyanto (kanan) mendengar penjelasan dari Presiden Direktur Chandra Asri Erwin Ciputra (kiri) usai meresmikan pabrik baru polyethylene (PE) CAP di Cilegon, Jumat (6/12/2019). Dengan penambahan pabrik baru berkapasitas 400 ribu ton per tahun itu total kapasitas produksi Polyethylene CAP keseluruhan mencapai 736 ribu ton per tahun dari sebelumnya hanya 336 ribu ton per tahun yang diharapkan menjadi substitusi impor sehingga mampu menghemat devisa negara mencapai Rp8 triliun dan menyerap 3.000 tenaga kerja selama masa pembangunannya. (ANTARA)
Adapun produk petrokimia yang diproduksi Chandra Asri dapat digunakan sebagai bahan baku untuk barang kebutuhan sehari-hari yang berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.

“Produk polyethylene kami merupakan bahan baku untuk produk pendukung infrastruktur, pipa air, kabel listrik, kemasan makanan, peralatan rumah tangga dan lain-lain,” ungkap Erwin.

Diketahui, dengan beroperasinya pabrik baru PE Chandra Asri, maka kapasitas produksi PE perusahaan bertambah 400 ribu ton per tahun, menjadikan total kapasitas produksi sebesar 736 ton per tahun.

Neraca perdagangan ekspor dan impor untuk seluruh bahan kimia mengalami defisit sebesar Rp193 triliun, di mana nilai ekspornya mencapai Rp124 triliun, sedangkan impor Rp317 triliun.

Sedangkan, kebutuhan PE di dalam negeri mencapai 2,3 juta ton per tahun dan produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi 280 ribu ton PE per tahun. Sehingga, 1,52 juta ton sisanya masih harus diimpor.

Untuk itu, Presiden Joko Widodo mendorong masuknya investasi di sektor petrokimia untuk menekan impor produk ini. Bahkan, Presiden optimistis bahwa Indonesia akan menjadi negara pengekspor produk petrokimia dalam waktu empat tahun ke depan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.