The news is by your side.

Aksi Veteran Marinir Djoni Liem Semburkan Jarum dari Mulutnya Pukau Penonton Peserta Upacara Kemerdekaan RI ke-73

0 30

Saat upacara bendera memperingati hari Kemerdekaan RI ke-73 yang digelar Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya berakhir, sosok Djoni Liem muncul diantara barisan para veteran pejuang tanah air, sontak menarik perhatian seluruh hadirin. Semuanya pun menyalami Djoni Liem yang sangat populer dengan keahliannya menyemburkan jarum, silet, mata kail dan paku hingga puluhan meter.

Keahlian Djoni Liem pun bermanfaat dalam operasi Trikora dan Dwikora melawan Malaysia dan gabungan tentara asing. Djoni Liem pun menceritakan ia pernah dipenjara dan disiksa selama 4,5 tahun. Bahkan erulangkali menerjang timah panas dan satu bersarang di tubuhnya. Peristiwa Dwikora yang menyakitkan selalu terkenang dalam benaknya hingga kini.

Djoni Liem merupakan salah satu tokoh dalam operasi Dwikora bersama Kapten KKO Winanto. Djoni Liem bernama asli Djoni Matius dengan pangkat terakhir  Sersan Mayor KKO dari Satuan Intai Amfibi Korps Marinir. Selama menjadi tentara ia ditugaskan dalam operasi penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta, DI/TII, RMS hingga operasi tempur di Aceh dan Operasi Seroja Timor Timur.

Beruntung, Djoni Liem memiliki keahlian menyemburkan paku dan jarum yang dipelajarinya sejak berusia 8 tahun dari guru Kungfu Tan Chin Guang, tak lain teman ayahnya. Keahlian itu terus diasah pria kelahiran Bandung, 3 April 1934. Suami wanita kelahiran Singapura, Tan Mei Hiang kini menghabiskan masa tuanya di Surabaya tepatnya di Jalan Kembang Kuning Gg. Besar 18 Surabaya.

Latihan menyembur dari mulutnya membutuhkan fisik dan mental di atas rata-rata, ungkap Djoni Liem. Kemampuan tersebut sangat berguna tatkala perang dan kehabisan peluru. Maka semburan benda tajam kecil dari mulutnya tak bisa diremehkan. Pasukan sekutu pun terheran-heran dengan banyaknya tentara tewas tapi tak mengalami luka tembak. Ketika Djoni tertangkap pasukan sekutu dan diinterogasi tentara Malaysia dan Singpaura, ia menggunakan nama samara gurunya Than Chin Guan. Sempat divonis mati tapi akhirnya dibebaskan.

Keahlian Djoni Liem tersebut konon dikuasai pasukan dari Dinasti Ming, kalau saat ini hampir tidak ada yang bisa. “Di Indonesia, satu-satunya saya, bahkan di dunia. Keahlian ini sangatlah langka,” ujar Djoni yang berdarah Tionghoa tapi berjuang untuk negara Indonesia. Warga Tionghoa tidak hanya menjadi pedagang tapi juga tentara pejuang, imbunya memuji Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya yang rutin menggelar upacara bendera setiap 17 Agustus.

Tak hanya menggelar upacara bendera di halaman Pasar Atom Mall Surabaya saja, pengurus Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya juga memberikan santunan paket sembako kepada 150 tukang becak,  375 masyarakat tidak mampu di Surabaya dan 55 paket sembako untuk pedagang kaki lima serta 36 penghargaan kepada para veteran. Seluruh peserta upacara berjumlah 3500 orang pun mendapatkan suvenir berupa jam dinding ekslusif selain roti.

“Kegiatan ini rutin diselenggarakan CSR Pasar Atom bersama Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya dalam rangka peringatan HUT RI,” jelas Halim Hermanto Direktur Pasar Atom. Upacara bendera dihadiri seluruh tokoh masyarakat Tionghoa, Wakil Konjen RRT di Surabaya Liu Qian, perwakilan TNI Polri dan pemerintahan juga Indah Kurnia anggota DPR RI Komisi XI. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.