Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan Indonesia swasembada solar usai Presiden Prabowo Subianto meresmikan Refinery Development Master Plan (RDMP) di Refinery Unit (RU) V Balikpapan, Kalimantan Timur.
Airlangga mengatakan dengan diresmikannya RDMP oleh Presiden, kebutuhan solar domestik kini dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri sehingga impor tidak diperlukan lagi dan pasokan energi lebih aman.
“Dengan diresmikan RDMP kemarin oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto) maka kita tidak perlu impor solar lagi,” kata Airlangga dalam kegiatan Road to Jakarta Food Security Summit di Jakarta, Selasa.
Ia menegaskan capaian itu menandai swasembada sektor energi serta menjadi fondasi peningkatan kapasitas pengolahan dan kemandirian energi nasional.
Airlangga menambahkan pemerintah terus meningkatkan produksi energi lainnya guna memperkuat ketahanan energi serta mengurangi ketergantungan impor.
“Jadi kita sudah “swasembada” di bidang solar dan tentu kita akan terus tingkatkan untuk energi yang lain,” katanya.
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) di Refinery Unit (RU) V Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1), yang merupakan kilang minyak terbesar di Indonesia.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim pada hari ini Senin, 12 Januari 2026. Saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan,” ujar Prabowo saat meresmikan RDMP Balikpapan dipantau secara daring melalui YouTube Sekretariat Presiden di Jakarta, Senin (12/1).
Prabowo mengatakan peresmian RDMP terakhir dilakukan pada 1994 atau 32 tahun yang lalu. Ia menyambut dengan bahagia kegiatan peresmian itu, karena diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM).
Presiden menyebut Indonesia dikaruniai dengan kekayaan alam yang melimpah, termasuk sumber energi seperti kelapa sawit untuk biodiesel, geotermal, tenaga surya hingga tenaga air.
Oleh karena itu, sumber-sumber tersebut harus dikelola dengan maksimal agar tidak lagi bergantung dari negara lain.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadahlia menyebut bahwa RDMP Kilang Balikpapan merupakan yang terbesar di Indonesia.
RDMP Balikpapan memiliki total investasi setara Rp123 triliun. Proyek tersebut bertujuan untuk memodernisasi kilang yang ada sehingga akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, mendorong hilirisasi industri petrokimia serta memperkuat ketahanan energi nasional.
RDMP Kilang Balikpapan memungkinkan kilang tersebut mengelola hingga 360 ribu barel minyak per hari. Kapasitas itu setara dengan 22-25 persen atau seperempat dari kebutuhan nasional.
Secara ekonomi, RDMP Balikpapan akan memberikan dampak signifikan terhadap kemandirian energi nasional, dengan penghematan impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun, dan kontribusi terhadap PDB nasional mencapai Rp514 triliun.
Peresmian RDMP Balikpapan merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan dan swasembada energi nasional.
Selain itu, proyek tersebut juga ditargetkan bisa meningkatkan kualitas produk BBM menjadi setara Euro V atau kandungan sulfur 10 ppm, dari yang saat ini masih Euro II serta peningkatan yield valuable product menjadi 91,8 persen.
Adapun produk yang akan dihasilkan dari kilang RDMP Balikpapan, yakni BBM, elpiji dan petrokimia.
Bahlil juga mengatakan akan menyetop impor solar untuk stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta di 2026.
Rencana penghentian impor solar pada 2026 disampaikan Bahlil seiring beroperasinya proyek RDMP di Balikpapan, Kalimantan Timur, serta program mandatori biodiesel 50 (B50).
(Antara)