9 Perupa Surabaya Art Society Gelar Pameran Ketiga di Mercure Grand Mirama Hotel

0 41

Berkomitmen rutin menggelar pameran dilakukan Surabaya Art Society yang kali ini diselenggarakan di Mercure Grand Mirama Hotel mulai 7 Agustus hingga 7 September mendatang. Sembilan perupa anggota Surabaya Art Society sengaja membawa masing-masing 6 karya untuk dipamerkan kepada publik pecinta seni.  

Walau usia Surabaya Art Society masih beberapa bulan berdiri, digagas oleh Rasmono Sudarjo tapi setiap pamer karya selalu mendapat apresiasi dari pengusaha dan tokoh masyarakat. Wahyu Setia pemilik Mercure Grand Mirama Hotel memuji peran Rasmono Sudarjo sebagai seniman berdarah Tionghoa memiliki kepedulian tinggi mampu menyatukan semua seniman untuk berkarya bersama. 

“Saya bangga Pak Rasmono Sudarjo sebagai warga KSHK yakni perkumpulan warga Kongfu di Surabaya, memberi kontribusi besar dalam perkembangan dunia seni,” tutur Wahyu Setia yang juga pengurus Karya Surya Harapan Kesejahteraan Surabaya dan secara langsung membuka pameran Seni Rupa.

Senada dikatakan Chandra Wurianto Ketua Yayasan Seni Budaya Indonesia China yang mendukung penuh kegiatan Surabaya Art Society. “Karya para seniman harus diekspose agar masyarakat mengetahuinya. Mau dijual atau tidak yang terpenting masyarakat dapat menikmati karya seni tersebut. Kerjasama yang baik antara seniman, pengusaha dan kolektor sangat dibutuhkan agar pameran seni terus berlangsung. Sehingga budaya semakin berkembang,” tutur Chandra Wurianto.

Rasmono Sudarjo mengungkapkan Pameran Seni Rupa yang digelar Surabaya Art Society adalah ketigakalinya menampilkan karya seni fotografi, seni luki dan seni kaligrafi. Seniman yang berpartisipasi diantaranya pelukis Andreanus Gunawan, Budi BI, Edie Supriyanto, Irene, Rasmono Sudarjo dan Sherly Gunawan. Sedangkan Fotografer yang memamerkan karyanya diantaranya; Astralin,  Denny D’colo, Go Dewi Sonanta, dan Seni Kaligrafi oleh Boby.

Rasmono Sudarjo berharap Pameran Seni Rupa yang diselenggarakannya menggugah semangat berkarya para seniman Surabaya. “Membuat karya terus tapi tidak pernah dipamerkan, akhirnya tidak memiliki semangat lagi. Surabaya Art Society wadah para seniman tak hanya di Surabaya tapi juga tanah air,” tutur Rasmono Sudarjo.

Rasmono Sudarjo mengaku tidak setuju dunia fotografi dikatakan tidak termasuk seni. Ada yang mengatakan memotret itu mudah, hasilnya bisa dicetak berulangkali sehingga karyanya murah. “Kita harus  belajar dari seniman fotografi Amerika yang berkomitmen hanya mencetak satu foto karya seninya, sehingga harganya mahal. Kalau dicetak 50 kali harganya menjadi murah,” tutur notaris kawasan Surabaya.

Go Dewi Sonanta yang memamerkan 6 karya, terkenal sebagai salah satu fotografer traveling. Dewi hobi memotret sejak SMA berawal dari meminjam kamera milik sang Papa yang juga penyuka fotografi. Awal 2013, Dewi mulai mengikuti teman-temannya hunting berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia hingga ke Myanmar, lalu ke China ke Xinjiang, Gui Lin, Long Jie dan Inner Mongolia.

Dewi mengaku selama hunting tidak pernah menemukan duka tapi selalu suka. “Paling berkesan saat memotret di Inner Mongolia karena semangat kehidupan tinggi di sana. Selain itu banyak kuda yang menjadi obyek foto,” tutur Dewi yang memberi tips persiapan sebelum hunting, harus mengenal medan daerah dan cuaca, cukup dengan menggoogling. Kemudian setelah seluruh data didapat, persiapkan lensa kamera yang cocok untuk dibawa.

“Dunia fotografi itu sangat menyenangkan karena menghilangkan stres, sarana refreshing dan memperbanyak teman,” tutur wanita kelahiran Watutulis 10 Oktober 1961 yang masih aktif bekerja di kantor serta selalu meluangkan waktu memotret di Pantai Kenjeran Surabaya dan Banjarmasin. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.