22 Kader Gema Inti menjalani Kaderisasi Tingkat I  

0 10

InHua – Pada tanggal 25-27 Oktober 2019, para kader Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema INTI) menjalani Kaderisasi Tingkat I Gema INTI Tahun 2019 (Kaderisasi Tingkat I). Acara dibuka pada hari Jumat, 25 Oktober 2019 oleh Theresia, selaku Ketua Panitia Kaderisasi Tingkat I. “Alasan kami memilih tema “Keberagaman bukan Keseragaman” adalah karena adanya keresahan di kalangan generasi muda bahwa saat ini masyarakat Indonesia kembali hidup terkotak-kotak. Perlahan-lahan kita lupa untuk menghidupi semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika. Keberagaman adalah sebuah kekayaan yang dimiliki oleh bangsa kita, bukan sesuatu yang harus kita takuti, jauhi, ataupun hindari,” ucap perempuan yang merupakan kader Gema INTI tahun 2013.

Krista Wijaya, Ketua Gema Inti Pusat, juga mengatakan bahwa kita sebagai sebuah bangsa selayaknya turut berperan aktif dalam menjaga keberagaman yang kita miliki. Perbedaan ras, suku, agama, atau pun budaya yang kita miliki adalah keunikan bangsa ini, Bangsa Indonesia. Keberagaman kita yang membuat kita menjadi bangsa yang kuat. “Kami berharap para kader dapat menjadi representasi dari Gema INTI di daerah masing-masingnya, menjadi anak-anak muda yang dapat memberikan manfaat dan dirasakan kehadirannya dalam setiap gerakan yang dilakukannya. Kami ingin memperlihatkan bahwa generasi muda Indonesia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi, menghargai pluralisme, dan memiliki kepedulian sosial,” ucapnya dalam pembukaan yang dia sampaikan kepada para kader Gema Inti.

Acara pembukaan yang dilaksanakan di Sekretariat Gema INTI ini juga dihadiri oleh Ulung Rusman, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI). Pria yang akrab dipanggil Ulung ini membakar semangat para peserta, beliau menceritakan tentang sejarah terbentuknya Perhimpunan INTI pada tahun 1999, dimana para pendiri INTI memiliki harapan agar Indonesia tidak lagi menjadi bangsa yang terkotak-kotak. Sebagai penutup dan pembakar semangat para peserta, Ulung mengingatkan kembali kepada para kader, bahwa kita ini adalah satu, terlepas dari apapun suku, agama, dan ras kita.

 

Briefing acara dilakukan oleh Kurnia Setiawan, Ketua Bidang Pelatihan dan Kaderisasi INTI. Beliau menjabarkan tentang nilai magis yang akan menjadi ground rules “Nilai Magis” selama pelatihan berlangsung. Kaderisasi yang diikuti oleh 22 peserta dari 9 daerah ini, Jakarta, Banten, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dan Lampung ini, akan dilaksanakan selama 3 hari di daerah Bogor. Konsep pelatihan yang telah digodok bersama dengan Bang Kur, panggilan akrabnya, diharapkan akan membentuk kader-kader Gema Inti yang mandiri, memiliki pengenalan yang lebih baik terhadap dirinya sendiri sebelum memberikan manfaat bagi orang lain.

Penugasan pertama kepada para kader adalah mencapai tempat pelatihan dengan menggunakan kendaraan umum. Sesampainya di tempat pelatihan, acara malam dilanjutkan dengan malam keakraban antara Pengurus Pusat, panitia, dan peserta kaderisasi. Selain mengakrabkan peserta, malam keakraban ini juga memberikan refleksi tentang arti dari empati yang dialami setiap peserta. Sesi malam ini berhasil mendekatkan jarak antara peserta dan panitia kaderisasi.

 

Pada hari kedua, 26 Oktober 2019, acara dimulai dengan tes karakter yang dipimpin oleh Bang Kur. Di dalam sesi ini, peserta diminta untuk menilai karakternya, untuk memahami siapa dirinya, apa kelemahan dan kelebihan yang dimilikinya. Selain itu, para peserta juga belajar untuk memahami bagaimana untuk menjadi lebih baik lagi bagi diri sendiri dan juga orang-orang di sekitarnya. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan penugasan individu tentang nilai-nilai Gema INTI ke luar tempat pelatihan. Dalam kegiatan ini, para peserta memiliki interaksi yang nyata dengan masyarakat. Melalui kegiatan ini diharapkan agara para peserta bisa mendapatkan gambaran tentang realita sosial di sekitar mereka dan dapat menjadi kader yang lebih mandiri. Pada malam hari, acara dilanjutkan dengan refleksi penugasan individu, bagaimana cara mereka menghadapi tantangan yang diberikan kepada mereka. “Dari penugasan ini, kami belajar banyak bagaimana masyarakat Indonesia masih memiliki harapan yang besar untuk Indonesia yang lebih baik,” ucap John, salah satu peserta kaderisasi. “Kami juga di sini belajar bahwa di Kota Bogor ini, masih terdapat banyak orang baik yang bersedia membantu sesamanya,” ucap Hendy, kader yang berasal dari Kalimantan Utara.

Acara pada hari Sabtu ditutup dengan refleksi malam di mana setiap peserta mengucapkan harapan dan doanya untuk Gema INTI. Refleksi ini diawali oleh Hardy Stefanus, salah satu pendiri Gema INTI. Pria yang pernah menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Tarumanegara ini menceritakan tentang latar belakang didirikannya Gema INTI. “Kami berharap agar perjuangan yang selama ini dilakukan oleh Gema INTI dapat diteruskan oleh teman-teman, yang merupakan kader Gema INTI, teruslah menjadi anak muda yang memiliki rasa nasionalis, pluralis dan peduli,” ucapnya kepada para peserta.

Pada hari terakhir, acara diawali oleh Ulung Rusman, yang membagikan tentang nilai-nilai kebangsaan kepada para peserta. Ulung juga menceritakan bagaimana perjalanan INTI sebagai sebuah organisasi massa yang memiliki peran besar dalam memperjuangkan hak orang-orang Tionghoa di Indonesia. Pria yang berasal dari Jambi ini bahwa di dalam sebuah organisasi, kita membutuhkan kepercayaan dan proses. Dalam penutupnya Ulung mengingatkan kita kepada kutipan dari Bapak pendiri bangsa ini, Bung Karno, ”Bercita-citalah setinggi langit, jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” “Bukanlah sebuah kebetulan teman-teman bisa ada di sini saat ini, berkaryalah sebanyak-banyaknya, jangan pernah berhenti,” ucap Ulung dalam kata penutupnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari Pak Teddy, Ketua Umum Perhimpunan INTI. Dalam pesan pembukanya, beliau mengucapkan selamat kepada para peserta kaderisasi. Beliau juga menceritakan bahwa kita sebagai orang Tionghoa di Indonesia, tetap memiliki rasa nasionalis di dalam diri kita. Beliau menceritakan tentang bagaimana anak-anaknya memiliki kecintaan terhadap Indonesia dan tetap berkarya di Indonesia walaupun pernah mendapatkan tawaran yang lebih baik di negara lain.”Kami adalah orang Indonesia, biarlah kami hidup dan mati di tanah ini,” Pak Teddy menceritakan tentang ucapan anaknya kepada orangtuanya. Setelah itu, para peserta daerah diminta untuk membuat action plan yang akan dilaksanakan oleh kader di daerahnya masing-masing dalam 3 bulan ke depan. Setiap daerah dengan bersemangat membagikan cerita tentang aksi yang akan dilakukannya. Acara ditutup dengan pembacaan janji Sumpah Pemuda oleh seluruh peserta kaderisasi, panitia dan perwakilan dari Pengurus Pusat Gema Inti dipimpin oleh Sekretaris Pengurus Pusat Gema Inti, Yusuf Wijaya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.