Tinggal 35% Tahap Pembangunan Kelenteng Khonghucu Ba De Miao di Komplek Tempat Ibadah 6 Agama Ikon Kebanggaan Surabaya

0 16

Bila di Bali ada 5 tempat ibadah agama dalam satu komplek, tepatnya di Pusat Peribadatan Puja Mandala, Nusa Dua. Maka di Surabaya tengah diselesaikan pembangunan 6 tempat ibadah dalam satu komplek di Royal Residence Wiyung yakni Islam, Hindu, Buddha, Kristen, Katolik dan Khonghucu. Atas usul warga setempatlah yang meminta dibangunnya 6 tempat ibadah di atas lahan fasilitas umum milik Royal Residence diharapkan sebagai contoh keberagaman, toleransi wujud Bhineka Tunggal Ika.

Pembangunan Kelenteng Khonghucu Ba De Miao八德廟di komplek tersebut di bawah tanggung jawab MajelisAgama Khonghucu Boen Bio Surabaya. Boen Bio sebagai tempat ibadah Agama Khonghucudidirikan pada 1883 dengan nama Boen Tjiang Soe memiliki keunikan arsitekturdan interior yang khas Tiongkok sarat kebajikan sehingga menjadi salah satudestinasi wisata heritage di kawasan Pecinan Surabaya Utara.

Adapun kegiatan ibadah agama Khonghucu di Boen Bio dilaksanakan setiap hari Minggu pagi untuk anak-anak dan dewasa. Dalam kegiatan tersebut diberikan bimbingan kebajikan, budi pekerti, etika, moral, dan spiritual dari ajaran Suci Nabi Kongzi yang disampaikan para rohaniwan. Selain ibadah Minggu juga diselenggarakan ibadah besar pada hari-hari suci Agama Khonghucu, jelas Handoko Tjokro Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Boen Bio.

Menariknya pula Boen Bio selalu ditunjuk Pemkot Surabaya sebagai tempat penyelenggaraan doa bersama keselamatan bangsa  serentak 6 agama. Handoko Tjokro memberi apresiasi kepada jajaran Pemkot Surabaya dibawah kepemimpinan Walikota Tri Rismaharini yang peduli dengan keadaan bangsa sehingga rutin menggelar doa keselamatan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Lebih lanjut Handoko Tjokro menjelaskan pembangunan Kelenteng Khonghucu Ba De Miao sudah mencapai penyelesaian 65%. Pembangunan yang dimulai akhir 2017 diharapkan selesai pertengahan 2019. Menurut Handoko, keberadaan 6 tempat ibadah dalam satu komplek dengan jarak dekat baru pertama di tanah air, di Surabaya.

“Saya berharap ada kepedulian para donatur untuk turutmenyelesaikan pembangunan Kelenteng Konghucu Ba De Miao sebagai momenbersejarah yang menjadi salah satu ikon Surabaya bila telah diselesaikan pembangunannya dan diresmikan,” tutur Handoko.

Nantinya di dalam Kelenteng Khonghucu Ba de Miao selain Nabi Khonghucu juga terdapat altar Makco dan Kongco karena menerapkan kearifan budaya lokal. Kelenteng tak sekedar tempat ibadah namun juga menunjukkan budaya masyarakat Tionghoa, oleh karenanya membutuhkan partisipasi dari para donatur. Pembangunan kelenteng bisa dihitung jari dibanding tempat ibadah lain seperti masjid dan gereja, imbuh Handoko.

Handoko menjelaskan sejak 30 tahun lalu hak-hak umat Konghucu terbelenggu dengan adanya Inpres 14/1967 yang lantas dicabut oleh Gus Dur. “Ketika Inpres dicabut, anak-anak muda Tionghoa baru mengetahui ajaran Konfusius. Boen Bio salah satu tempat ibadah tertua yang menjadi cagar budaya di Surabaya namun juga sebagai pusat pengajaran Konghucu tertua di Indonesia,” jelas Handoko.

Khonghucu menekankan pendidikan yang tak lepas dari perkembangan manusia, negara, dan moralitas yang menjadi filter dalam kehidupan. Pendidikan harus merata untuk manusia tidak boleh dinikmati golongan tertentu. Majunya negara karena pendidikan memadai termasuk moralitasnya, papar Handoko.

Handoko mengharapkan pada 2019 kondisi bangsa Indonesia membaik karena bencana alam yang terus terjadi. Serta masyarakat Indonesia yang sebentar lagi menggelar pesta demokrasi sebaiknya menyambut positif mengedepankan keamanan bersama agar tidak terjadi hal-hal yang merugikan semuanya. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.