The news is by your side.

Teladani Patriotisme Qu Yuan Melalui Tradisi Mandi Wushi dan Makan Bacang

32

Singkawang-Harian InHua. Duan Wu Jie adalah salah satu hari raya besar yang setiap tahun diperingati oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia.

Duan Wu Jie yang jatuh pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan kalender imlek, selalu dirayakan oleh masyarakat Tionghoa Kota Singkawang melalui tradisi mandi tengah hari atau mandi wushi dan makan bacang.

Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie menuturkan tradisi mandi wushi dan makan Bacang memiliki makna penting dari perjuangan seorang Menteri besar dari Kerajaan Chu, bernama Qu Yuan dalam melawan korupsi.

Disampaikannya, tradisi mandi wushi dan makan kue Bacang oleh masyarakat Tionghoa, sudah ada pada zaman Zhan Kuo (339 SM-277 SM) untuk mengenang jasa seorang menteri bernama Qu Yuan yang menceburkan diri, di sungai Mi Luo.

Bacang-bacang tersebut, ujarnya dilemparkan ke sungai Mi Luo dengan harapan agar ikan dan udang tidak memakan jasad sang Menteri. Semasa hidupnya, Qu Yuan dikenal sebagai seorang Patriot kerajaan Chu yang berintegritas dan sangat dicintai rakyatnya.

“Hingga saat ini, tradisi makan kue Kicang dan Bacang menjadi budaya turun-temurun yang dilakukan dalam Festival Peh Cun yang jatuh pada tanggal 5 bulan 5, penanggalan Imlek yang bertujuan untuk mengenang perjuangan Qu Yuan dalam memerangi korupsi,” kata Tjhai Chui Mie.

Ia berharap, nilai antikorupsi bisa terus ditanamkan dengan beragam cara, termasuk melalui upacara adat dan kebudayaan.

“Kita berharap generasi muda Kota Singkawang, bisa menjadi bagian dalam penyebaran nilai antikorupsi. Kisah Qu Yuan dapat menjadi inspirasi dalam memerangi korupsi,” tandasnya.

Qu Yuan adalah seorang patriot besar dari kerajaan Chu yang dengan kesetiaannya berkorban untuk rakyat dan negara.

Semasa hidupnya, Qi Yuen berhasil mempersatukan 6 kerajaan untuk menghadapi agresi negeri Qin, sehingga namanya sangat disegani dan dihormati pada zaman itu.

Qu Yuan wafat pada usia 65 tahun, setelah diasingkan selama 9 tahun oleh Raja Chu Hai Wang di daerah Cang Sha.

Qu Yuan melewati kehidupan sebagai orang pelarian dengan sangat memprihatinkan. Kendati demikian, Qi Yuen masih sangat mencintai dan setiap hari memikirkan negeri Chu yang semakin hari semakin berantakan dibawah penjajahan Kerajaan Qin dan para pejabat korup.

Rakyat negeri Chu yang mengetahui Qi Yuen terjun ke dalam sungai Mi Luo, berusaha menyelamatkan, tetapi upaya rakyat Chu yang ingin menyelamatkan Qi Yuen tidak membuahkan hasil. Qi Yuen sudah meninggal dan jenazahnya tidak dapat ditemukan di dasar sunagi Mi Luo yang dalam.

Rakyat Negeri Chu sangat bersedih setelah mengetahui bahwa Qu Yuan, Menteri besar mereka yang sangat mencintai dan setia kepada Negeri Chu telah meninggal.

Rakyat berduyun-duyun mendayung perahu ke Sungai Mi Luo untuk mengungkapkan duka cita yang mendalam dengan membuat kue bacang dan kicang, kemudian melemparkan makanan yang telah dibungkus dengan daun bambu itu, ke sungai Miluo agar jasad Qu Yuan tidak dimakan ikan, udang, kepiting dan binatang sungai lainnya.

“Untuk mengenang jasa dan kesetiaan Qu Yuan, setiap tahun menjelang perayaan Duan Wu Jie yang jatuh pada tanggal 5, bulan 5 penanggalan kalender imlek, rakyat Han membuat kue bacang dan kicang. Tradisi tersebut terus menerus dipertahankan secara turun menurun dari satu generasi ke generasi lainnya hingga sekarang,” ungkap Tjhai Chui Mie.

Pada saat sekarang, setiap perayaan Duan Wu Jie, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia, tidak hanya membuat kue bacang dan kicang, tetapi juga melakukan prosesi mandi Wushi atau mandi di tengah hari, antara pukul 11.00 sampai 13.00 siang dan mengadakan Lomba Dayung Perahu Naga.

“Semua itu dilakukan untuk mengenang jasa kebajikan, kesetiaaan, kejujuran, patriotisme Qi Yuen serta mengembangkan semangat cinta kepada Negara,” pungkas Tjhai Chui Mie. (Rio Dharmawan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.