The news is by your side.

Sudah Pernah Coba Hanbok di Banda Aceh? Pakaian Tradisional Masyarakat Korea yang Makin Diminati

51

BANDA ACEH. Sudah pernah coba hanbok? Belakangan banyak juga perempuan terutama kawula mudi Banda Aceh dan sekitarnya, yang gandrung pakai hanbok.

Hanbok (Korea Selatan) atau Chosŏn-ot (Korea Utara) adalah pakaian tradisional masyarakat Korea.

Biasanya penyuka hanbok datang, pakai, lalu lalu selfie atau wefie, Tak sedikit sengaja membawa perangkat kamera profesional sendiri, atau sekedar android saja, demi sebuah kenangan tentunya.

Terlebih, mereka tak perlu merogoh kocek hingga dalam-dalam.

Cukup Rp 20 ribu saja, sekali pakai.

Sekali waktu ada juga perempuan yang bukan orang Aceh datang menggunakan jasa hanbok.

Misalnya dari Jakarta dan Korea yang singgah ke Banda Aceh.

Mereka tahu keberadaan hanbok ini dari mulut ke mulut atau jalur pertemanan.

 

Kenapa suka hanbok?

“Keren-kerenan aja. Tanpa harus jauh-jauh ke Korea sana, yah kita sudah bisa pakai hanbok. Lagian gak mengganggu tampilan syariah kita kok. Tetap sopan dan indah dipadu jilbab,” kata salah seorang ibu rumah tangga, yang duluan menggilai film-film Korea.

“Kalau saya sih lucu-lucuan aja. Foto istimewa, lain dari yang lainlah. Keren pokoknya,” jawab yang remaja.

Apa sih hanbok? Hanbok, adalah pakaian tradisional Korea Selatan, atau ChosOn-ot (Korea Utara), yang dikenakan pada Era Dinasti Jeoseon (1392-1910 M).

Tapi hanbok sekarang mengacu pada pakaian gaya Dinasti Joseon yang biasa dipakai secara formal atau semi-formal (tentu dalam perayaan atau festival tradisional Korea).

Hanbok pada umumnya memiliki warna yang cerah, dengan garis yang sederhana serta tidak memiliki saku.

Jangan salah di negeri asalnya , warna-warna tersebut punya filosofi sendiri loh.

Tidak asal pakai. Ada perbedaan kelas pemakainya.

Golongan Yangban atau golongan atas mengenakan hanbok berwarna-warni dengan hiasan bordir dan sulaman yang indah dan bahan yang terbuat dari sutra.

Sedangkan golongan masyarakat umum atau rakyat biasa hanya mengenakan hanbok sederhana terbuat dari bahan kain katun dengan pembatasan warna, yakni hanya warna putih, pink muda, hijau muda, dan abu-abu.

Nah di Banda Aceh, di Aman Cafe, itu tentu tak berlaku.

Anda bebas, silakan pilih warna, sesuai kepribadian, baik bagi anak-anak, remaja (laki-laki dan perempuan) maupun dewasa, selama stock ada. Pemandangan latar juga ada.

Jangan heran café ini juga seperti menseting, hidangannya, makanan Koreanya juga.

Sebut saja kimbab, kimchi, dan puchingge, walau mereka masih terkendala bahan baku yang harus dikirim dari Korea.

Hanya dekorasinya saja masih umum, namun ketal krya artistiknya.

Semuanya sumbangan relawan. Misalnya lukisan dan foto, hiasan tiang-tiang, kerajian tangan dari bahan bekas, pustaka mini yang bisa dibaca oleh penginjung, tempat perayaan ulang tahun.

Ada juga kHusus setingan perayaan ulang tahun komunitas, spesial tampil dengan Korean dress n culture.

Rumah relawan remaja

Bagaimana ceritanya café bilangan Kematan Meuraxa Banda Aceh ini sampai bisa menyediakan hanbok segala?

Lalu apa, siapa, dan mengapa Aman Café?

Dari sejarahnya, menurut Ns Lisa Fitriani SKep (relawan yang mengelola Aman Café), Aman Café dibuka pada tahun 2015, oleh LSM Rumah Relawan Remaja (R3) Banda Aceh.

Mereka yang bergerak berbasis kemanusiaan, perdamaian, keadilan dan kehidupan dan pendidikan.

Jargonnya, art and community space.

Jadi memang sarat dengan seni dan komunitas, dengan satu harapan bisa menyentuh kalangan manapun agar tumbuh dan saling berbagi untuk kehidupan yang lebih baik.

Cita-cita R3 sih terbilang mulia.

Selama setahun operasionalnya, harapan sebagian kecil dari hasil penjualan dari cafe disumbangkan untuk kegiatan perpustakaan kecil (terpencil) di Aceh sudah berjalan.

Walau baru sanggup menyumbang 10 % saja.

Rumah baca-rumah baca mungil dengan ratusan buku sudah ada di lima desa di Aceh.

Rinon dan Lapeng (Aceh Besar), Serempah, dan Bah Kecamatan Ketol (Aceh Tengah), dan Desa Baling Karang, Aceh Tamiang.

Hubungannya dengan hanbok yang ada di Aman Café adalah berkaitan dengan R3 (yang sebagian besar relawannya dari Korea), pada tahun 2016 mendapat bantuan sejumlah hanbok.

Tadinya sebagai upaya pengenalan budaya Korea.

Akhirnya, sekira setahun setengah ada di Aceh, banyak orang dari berbagai kalangan masyarakat (bahkan tamu luar Aceh dan luar negeri) pernah “icip-icip” hanbok di Aman Café.

Atau sekadar ngafe lalu baca-baca di perpustakaan mungilnya di lantai II.

Berselerakah Anda mencoba hanbok? (ERAMBINEWS.COM)

1 Comment
  1. Thank you, I’ve just been searching for info approximately this subject
    for a long time and yours is the greatest I have discovered till now.
    But, what in regards to the bottom line? Are you certain in regards
    to the source?

Leave A Reply

Your email address will not be published.