The news is by your side.

Suasana Lebaran di Beijing yang Jatuh Pada 16 Juni 2018

0 31

“(Perayaan Hari Idul Fitri di Beijing jatuh) Pada tanggal 16,” Abdul Hakim Ma Jie, juru bicara Asosiasi Islam China (CIA) mengatakan pada Kamis (6/6), menjawab pesan singkat Bara di Beijing melalui WeChat pada Idul Fitri di negara itu dengan populasi tertinggi dunia itu kepada tim Antaranews.com.

Ketika ditanya lebih lanjut mengapa Lebaran lebih lambat sehari dibandingkan dengan beberapa negara lain, tokoh Muslim Tionghoa muda hanya menulis karakter Cina, “Jie ri yu kuai!” yang kurang lebih berarti Happy holiday.

Nama Hakim sangat dikenal oleh perwakilan asing di China karena salah satu eksekutif CIA berbicara bahasa Inggris.

Tidak heran bahwa orang yang sehari-hari melakukan kewajibannya di daerah Masjid Niujie di Beijing adalah subjek pertanyaan dan referensi tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan di negara di mana jumlah umat Islam diperkirakan mencapai 20 juta (0,45 persen).

Bahkan jika dia tidak menjawab pertanyaan lebih lanjut, dapat dimengerti bahwa semua kegiatan keagamaan (bukan hanya Islam) harus tunduk pada hukum dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah China.

Pemerintah Cina memberikan kebebasan ruang dan waktu untuk semua kegiatan keagamaan, selama tidak melanggar aturan yang berlaku.

Beberapa hari sebelumnya, CIA telah mengedarkan jadwal puasa Ramadhan 1439 Hijriah. Pada jadwal resmi yang dibagikan kepada Muslim itu ditulis waktu puasa selama 30 hari.

Dengan demikian, telah dijawab mengapa Idul Fitri 1439 Hijriah di China jatuh pada Sabtu 16 Juni 2018.

Tapi ada satu hal yang banyak orang tidak tahu tentang sholat Idul Fitri tahun ini di China yang lebih banyak dihadiri oleh jamaah dibandingkan tahun lalu.

Masjid-masjid di berbagai daerah daratan Cina penuh selama sholat Idul Fitri diadakan pada Sabtu pagi, meskipun beberapa umat Islam di sana yang pertama kali melakukan ibadah sunnah muakkadah.

Bahkan, halaman Wisma Kedutaan Besar Indonesia di Beijing juga penuh dengan peziarah. Di antara mereka juga ada beberapa orang asing yang berpartisipasi dalam melakukan ibadah id di kompleks perwakilan RI di Dongzhimen Wai Da Jie No. 4 di Beijing.

“Ini jauh lebih ramai sekarang daripada tahun lalu,” kata Koordinator Fungsi Konsul dan Konsulat Kedutaan Besar Beijing Ichsan Firdaus yang juga Ketua Komite Ramadhan dan Idul Fitri Kedutaan Besar Indonesia di Beijing.

Jumlah warga Indonesia yang melakukan sholat Idul Fitri ditambah dengan halalbihalal dengan Duta Besar Indonesia untuk China bersamaan dengan Mongolia Djauhari Oratmangun di Wisma Indonesia adalah salah satunya karena bertepatan dengan dimulainya liburan tiga hari “Duan Wu Jie” atau Festival Perahu Naga, Sabtu .

“Duan Wu Jie” adalah tradisi balap perahu naga yang diperingati setiap tanggal 5 bulan 5 kalender Tiongkok.

Tradisi ini diikuti oleh berkembangnya kue “lepet” di daratan Cina dan pulau-pulau serta sebagai penanda masuknya musim panas.

Karena itu, suasana Kota Beijing mulai Sabtu (16/6) hingga Senin (18/6), tidak seperti biasanya. Mungkin suasananya mirip dengan di Jakarta saat Lebaran. Beberapa jalan protokol di ibu kota Cina ditinggalkan karena beberapa migran ke kampung halaman mereka untuk merayakan “Duan Wu Jie” dengan keluarga besarnya.

Pada hari Sabtu dan Senin, liburan sekolah. Kantor, termasuk Departemen Luar Negeri, pada hari Senin juga hari libur. Kecuali kantor layanan publik, seperti perbankan, operator telekomunikasi, dan lainnya yang tetap buka, meskipun tenang tanpa antrian seperti pada hari-hari biasa.

Perayaan berlangsung meriah

Setelah shalat Idul Fitri, suasana halaman Wisma Indonesia riuh. Kadang-kadang ada teriakan menjerit dan bersorak di sinar matahari pagi.

Suasananya tidak jauh berbeda dengan festival 17 Agustus yang rutin diadakan setiap tahun di Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Duta Besar Djauhari Oratmangun yang membawa suasana pagi benar-benar meriah. Bukan hanya gayanya yang suka swafoto dengan siapa saja atau memimpin yel-yel di keramaian, tetapi juga bertemu dengan Ustaz Ahmad Mukhlisin yang merupakan kesempatan langka sehingga suasana Lebaran di pagi itu bertambah.

Mukhlisin, muda dai dari Selat Riau, sejak bertemu dengan duta besar di Wisma Indonesia saat berbuka puasa bersama di awal Ramadhan kemudian menahbiskan keduanya sebagai “musuh”.

Sebagai seorang Melayu keturunan Jawa, Mukhlisin sangat senang menyanyi. Hampir setiap kali memberikan aliran sesat, termasuk saat di-host oleh Duta Besar, dia selalu memasukkan rima. Jalan akrab, responsif dan egaliter tidak boleh kalah.

Puncaknya ada di halaman Wisma Indonesia pada hari Sabtu. Tidak tanggung-tanggung, Mukhlisin memberondongnya dengan empat pantun yang ditulisnya secara khusus.

“Anak burung dara belajar terbang, susah payah tetap dia lewati. Di hari raya maaf terbentang, agar kita kembali fitri,” demikian dia membuka tantangan.

“Bujang dan dara berpakaian rapi, aroma parfum menghias diri. Meskipun keluarga jarak membatasi, tapi seakan sirna di dalam hati,” ujarnya melanjutkan.

“Hidup di rantau tak selamanya susah, meskipun selalu memendam rindu. Demi cita-cita tugas harus ada yang mengalah, jika semua sudah maka indah saat bertemu,” katanya membacakan pantun ketiganya.

“Idul Fitri 1439 Hijriah masih sendiri, menatap jauh penuh arti. Akankah datang tambatan hati, saat 1440 Hijriah datang nanti,” ujarnya menutup pantun yang disusul sorakan dan teriakan jamaah yang mayoritas mahasiswa-mahasiswi “jomblo” itu memekakkan telinga.

“Saya nggak mau kalah,” kata Djauhari yang pagi itu mengenakan batik lengan panjang dipadu bawahan warna gelap seraya mengambil pelantang dari Mukhlisin.

“Kabaena gunung yang tinggi, ombak di laut sama ratanya. Sungguh enak Pak Ustaz yang pergi, kita yang ditinggal apa rasanya,” balas diplomat karier kelahiran Beo, Sulawesi Utara, 60 tahun silam itu, disambut sorakan penonton lainnya.

Meskipun hanya satu pantun, ungkapan Dubes saat itu sangat berarti karena ajang tersebut sekaligus perpisahan bagi Mukhlisin yang akan pulang ke Indonesia setelah menjalankan tugas mengisi acara keagamaan selama bulan Ramadhan di lingkungan KBRI Beijing.

Namun sebelum meninggalkan daratan China, Mukhlisin menyampaikan pesan pentingnya menjaga ukhuwah dengan siapa pun tanpa mempersoalkan perbedaan penetapan 1 Syawal 1439 Hijriah.

Menurut dia, jika Shalat Idul Fitri di Beijing dipaksakan pada hari Jumat, maka dipastikan tidak banyak umat Islam yang bisa melaksanakannya karena bukan hari libur kerja dan sekolah.

“Oleh sebab itu, mayoritas Muslim di sini mengambil pendapat Hanafi (Imam Abu Hanifah RA) yang memperbolehkan mengakhirkan Shalat (Id) pada hari berikutnya yang kebetulan hari libur,” kata lulusan Universitas Al Azhar, Mesir, itu.

Demikian pula, dibenarkan bagi umat Islam yang berpuasa pada hari Jumat (15/6) untuk menggenapkan bulan Ramadhan menjadi 30 hari.

Mukhlisin pun mengajak umat Islam di Indonesia untuk melihat sisi positif terkait aktivitas keagamaan di China yang diberikan tempat, bahkan difasilitasi oleh pemerintahan setempat di bawah rezim komunis itu.

“Perbedaan bukan ajang perpecahan antarumat Islam di seluruh dunia. Berbeda itu ada sisi nikmat yang kemudian harus kita ambil hikmahnya,” ujar pria dengan gelar akademik Lc dan MA itu berpesan. (AntaraNews)

Leave A Reply

Your email address will not be published.