The news is by your side.

Seminar Solidaritas Untuk Indonesia Lebih Baik Dihadiri Ribuan Warga Surabaya

0 4

Seminar menarik mengambil tema ‘Solidaritas Untuk Bangsa Indonesia Lebih Baik’ dibawakan Dato’ Sri Tahir (Bidang Ekonomi), Jenderal TNI (Purn) Moeldoko (Bidang Politik) dan Airlangga Hartarto (Bidang Sosial Budaya). Acara seminar digelar di Grandcity Convex tepat pukul 7 malam, dihadiri ribuan warga Surabaya berbagai profesi, para pengusaha dan tokoh masyarakat Tionghoa (25/11).

Airlangga Hartarto yang pertamakali menjadi pembicara menerangkan tentang Revolusi Industri ke-4 merupakan perubahan transformative, dinamis dan berkemajuan. Program Making Indonesia 4.0 telah dilaunching bertujuan mentransformasi masyarakat Indonesia yang dipengaruhi oleh teknologi, politik, entrepreneurship, industri pengolahan, dan ekonomi global. Secara sosial budaya mengubah pengambilan keputusan tak lepas dari berbagai faktor terutama kondisi politik.

Masih penjelasan Airlangga Hartarto, Indonesi 4.0 membutuhkan politik stabil. Pembangunan akan berjalan lancar apabila stabilitas politik aman. Tahun depan Indonesia menghadapi Pemilu yang bersifat rutin yakni lima tahun sekali dan seyogyanya antara politik dan ekonomi dipisahkan. Agar Indonesia menjadi bangsa yang semakin matang dalam berdemokrasi, jelasnya.

Wirausaha sangat penting dan kini banyak tumbuh di rumah-rumah kos muncul dari anak-anak muda bertalenta. Mereka berkumpul menghasilkan startup bernilai luar biasa. Indonesia 4.0 menghasilkan beberapa industri yang bernilai lebih dari 1 Miliar Dollars terlihat dari unicorn yang dibangun 4 sampai 5 tahun yang lalu. Bila dahulu industri ada manufaktur dan produksi, kini dalam revolusi industri 4.0 tumbuh dari aplikasi yang memiliki market besar, walau perusahaan belum untung dan membutuhkan sekolah tersendiri.

“Dulu untung baru masuk bursa dan dapat market. Tapi startup mencapai 1 Milliar Dollars dimulai dari ide untuk solusi. Beberapa industri tumbuh menjadi andalan ekonomi Indonesia yakni makanan minuman, alam angkut, kimia, tekstil dan pakaian jadi, merupakan sektor manufaktur penyumbang 60% tenaga kerja dan ekspor. Dalam 15 tahun terakhir Indonesia mengalami pertumbuhan GDP, perubahan konsumen tumbuh 8 kali lebih besar dan 55% ekonomi dari konsumsi,” terang Airlangga Hartarto.

Sedangkan Moeldoko menjelaskan besarnya jumlah penduduk Indonesia yang perlu dijaga, agar tidak terjadi kondisi tidak nyaman. Seperti pergolakan yang terus terjadi di beberapa negara di Timur Tengah yang dulunya aman.

“Menjaga kondisi tersebut tidaklah mudah.  Indonesia sangat dewasa menghadapi dinamika politik yang berjalan luar biasa menuju pesta demokrasi. Demokrasi dikawal dengan instrument yang kuat agar tidak muncul anarkis, sehingga stabilitas politik nyaman dirasakan bagi kehidupan masyarakat Indonesia,” jelas Moeldoko juga menerangkan pencapaian hasil pembangunan infrastruktur dari darat, laut dan udara yang telah dikerjakan pemerintah saat ini.

Narasumer ketiga yakni Dato’ Sri Tahir menerangkan kondisi stabilitas politik di suatu negara yang mempengaruhi kemajuan ekonomi. Dato’ Sri Tahir mengaku bersyukur lahir di Indonesia karena telah berkeliling dan melihat banyak negara di Timur Tengah.

“Indonesia lebih nyaman, ramah dan memberi toleransi kemudahan dan berusaha dengan baik. Saya berterimakasih kepada TNI Polri yang menjaga NKRI,” ujarnya.

Selanjutnya ia menerangkan prospek ekonomi Indonesia yang telah lewat dan mendatang berkaitan dengan kebijakan pemerintah. Ia menilai pemerintah saat ini telah mempermudah perijinan investasi dan memangkas Perda yang tidak efisien terkait dengan investasi.

Dato’ Sri Tahir pun menyontohkan kebijakan Tiongkok pada tahun 2008 saat Amerika mengalami krisis, dimana pemerintah mengambil tindakan mengucurkan dana 4 Triliun RMB guna membangun infrastruktur yang hanya untung 6%. Namun hasil pembangunan infrastruktur pada 2008 mengantarkan Tiongkok menjadi negara ekonomi terbesar kedua di dunia dan rakyatnya menikmati. (AV)

Leave A Reply

Your email address will not be published.