Satu lagi petugas Pemilu 2019 di Medan meninggal dunia

0 9

Medan (ANTARA) – Pemilu serentak 17 April 2019 kembali menambah korban seorang petugas yang meninggal dunia, berasal dari Desa Lama, Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deliserdang.

Seorang anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) meninggal usai bertugas pada Pemilu 2019, yaitu Zainuddin Keliat, warga Jalan Ali Parinduri, Desa Lama, Kecamatan Pancurbatu.

Pria berusia 52 tahun itu merupakan Sekretaris PPS di Desa Lama yang sehari-harinya bekerja sebagai Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan di Kantor Desa Lama

Istri korban Widiawati, saat ditemui di rumah duka pada Rabu, sedang berkumpul bersama sanak saudaranya.

Wajahnya terlihat pucat dengan kantong mata yang tampak membesar dan sembab, dengan senyum di bibirnya, wanita berusia 45 tahun ini bercerita bagaimana Zainuddin yang dikenal sebagai sosok pekerja keras ini berpulang kepada Sang Pencipta.

Sejak Senin (15/4) lalu, kata Widia, Zainuddin sudah bekerja untuk persiapan pencoblosan, mulai mendistribusikan undangan pemilihan kepada warga, dan juga persiapan-persiapan lainnya.

“Sejak sehari sebelum pemilu itulah, dia (Zainuddin) enggak pulang ke rumah,” ujarnya pula.

Menurut Widia, sebanyak 18 tempat pemungutan suara (TPS) menjadi tanggung jawab Zainuddin. Sampai selesai pencoblosan, Zainuddin masih berjaga untuk mengontrol kotak suara itu.

“Katanya yang sudah selesai dihitung dibawa ke kantor lurah baru ke kantor camat untuk direkapitulasi,” ujarnya pula.

Hingga pada hari Senin (22/4) sore, setelah pulang dari Kantor Camat Pancur Batu, lanjut Widya, Zainuddin sempat mengeluh seluruh badannya sakit-sakitan.

“Waktu itu enggak mikir yang aneh-aneh, ya paling capek biasa gitu aja,” ujarnya lagi.

Sampai pada malam hari usai menonton televisi, Zainuddin meminta Widia untuk memijat tubuhnya.

“Itu sekitar jam 02.30. Sempat saya pijat badannya,” ujarnya lagi.

Namun ketika hendak tidur, kata Widia, tiba-tiba badan Zainuddin kejang-kejang dan langsung pingsan.

“Keluar cairan dari mulutnya. Mungkin waktu itulah ajalnya. Waktu itu langsung panik, dan kami larikan ke Rumah Sakit Adam Malik,” kata Widia pula.

Sesampai di RSUP Haji Adam Malik, pihak RS melakukan pertolongan dengan memompa dan membantu korban bernapas.

“Sempat dipasangkan oksigen, dibantu pakai alat juga, karena masih ada sedikit di layar detak jantungnya. Nggak berapa lama dokter bilang kalau nyawanya enggak bisa diselamatkan,” ujarnya.

Widia menunjukkan bingkai foto keluarganya. Terpampang jelas foto kenangan Widia dengan sang suami dan ketiga anaknya Widiawati (45) dan anak keduanya saat memperkenalkan foto “Ini anak yang paling besar namanya Febri Mutia Ramadhani, dan yang kedua M Wendy Andaru, serta yang paling bungsu Bunga Kalista,” ujarnya, sambil menunjuk satu per satu foto tersebut.

Seketika isak tangis pecah saat Widia mengusap lembut foto sang suami. “Padahal baru sama-sama kita loh bang,” ujarnya sambil memeluk erat bingkai foto itu.

Anak kedua Widia yang duduk di sampingnya langsung memeluk erat tubuhnya. “Biasa jam segini bapak di rumah, ini udah enggak ada,” ujarnya terisak.

Sebelumnya, Zulkifli Salamuddin, seorang anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 45 Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor meninggal dunia, akibat kelelahan pada Jumat (19/4) lalu.

Leave A Reply

Your email address will not be published.