The news is by your side.

Rotasi Berubah, Diramal akan Lebih Banyak Gempa Besar di 2018

37

Para ilmuwan memprediksi bahwa pada 2018, aktivitas seismik Bumi dengan gempa bumi bermagnitudo besar akan makin sering terjadi. Peningkatan ini akan terjadi di seluruh dunia, terutama di daerah tropis. Peningkatan frekuensi guncangan sendiri diyakini terjadi karena perubahan kecepatan rotasi Bumi.

Padahal perubahan rotasi ini mungkin tak terlalu terasa oleh manusia. Sebab, perubahan rotasi ini sangat kecil, mengubah panjang waktu dalam sehari dalam hitungan mili detik.

Hubungan erat antara meningkatnya magnitude guncangan dan aktivitas seismik Bumi dengan kecepatan rotasi Bumi diteliti oleh Roger Bilham of the University of Colorado dan Rebecca Bendick of the University of Montana. Meski tak tahu persis mengapa mereka berhubungan, kedua ilmuwan menduga bahwa perubahan pada perilaku inti bumi adalah alasannya.

“Korelasi antara rotasi Bumi dan aktivitas gempa sangat kuat dan menunjukkan akan terjadi peningkatan jumlah gempa bumi yang hebat tahun depan,” kata Bilham kepada Observer pekan lalu.

Kedua ilmuwan telah merekam seluruh gempa bumi dengan magnitude 7 Skala Richter atau lebih besar sejak 1900. Mereka menemukan bahwa gempa lebih sering terjadi ketika kecepatan rotasi Bumi berubah.

“Perputaran Bumi memang sedikit berubah, kadang-kadang hanya dalam hitungan milidetik. Itu bisa diukur dengan sangat akurat oleh jam atom,” kata Bilh.

Mereka juga menemukan bahwa rotasi Bumi melambat signifikan secara periodik dalam lima tahun sekali selama satu setengah abad terakhir. Pada periode tersebut frekuensi gempa Bumi meningkat lebih sering dan dahsyat.

“Kita akan menghadapi gempa bumi lima tahunan. Tahun depan kita akan melihat peningkatan yang signifikan dalam jumlah gempa bumi yang parah. […] Sejauh ini kita hanya memiliki sekitar enam gempa bumi dahsyat. Kita bisa memiliki 20 gempa di 2018,” terang Billham seperti dilaporkan The Guardian, Senin (20/11).

Sayangnya, sulit untuk memprediksi di mana gempa hebat akan terjadi. Kendati demikian, Bilham mengatakan bahwa mereka menemukan sebagian besar gempa bumi hebat akan terjadi di dekat khatulistiwa. Sekitar satu miliar orang tinggal di daerah tersebut.

Namun, para ahli dari Selandia Baru telah menentang pandangan kedua ilmuwan Amerika tersebut. Dr Virginia Toy, seorang profesor Geologi di Universitas Otago mengatakan bahwa bukan hal baru jika korelasi dibuat antara satu peristiwa alam dan fenomena lainnya.

“Beberapa dari ilmuwan membuat korelasi yang dapat dipertahankan secara statistik, sementara yang lain tidak,” katanya. “Makalah dari Amerika ini terdengar seperti kita akan mengalami lompatan dari enam ke 20 gempa besar per tahun. Saya kira ini tidak mungkin,” tambahnya kepada Indian Express.

Dosen geologi tektonik lain dari Universitas Canterbury, Dr Tim Stah, juga mengatakan bahwa terlalu dini untuk mencapai sebuah kesimpulan tanpa pengujian tambahan yang dilakukan oleh kelompok penelitian lain.

(CNN)

Leave A Reply

Your email address will not be published.