The news is by your side.

Relawan Tzu Chi Bersama Panitia Waisak Memandikan Buddha Rupang

26

Singkawang-Harian InHua. Yayasan Buddha Tzu Chi Kantor Penghubung Kota Singkawang menyelenggarakan kegiatan pemandian Buddha rupang, dalam rangka perayaan Tri Suci Waisak 2562 BE.

Kegiatan yang diselenggarakan di ruang bakti puja kantor penghubung Tzu Chi, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat, Minggu, 13 Mei 2018 ini diikuti ratusan umat Buddha dari berbagai Majelis Agama Buddha yang ada di Kota Singkawang.

Prosesi pemandian Buddha rupang, tidak hanya dihadiri oleh relawan Tzu Chi Kota Singkawang, tetapi juga dihadiri Panitia Perayaan Waisak Bersama yang berjumlah 30 orang.

Inilah semangat kerukunan, kekeluargaan, dan kebersama yang terjalkin dengan baik antara relawan Tzu Chi dengan umat Buddha yang tergabung dalam panitia Waisak Bersama, dengan tidak mempedulikan perbedaan aliran, demi mengikuti 3 peristiwa penting di hari Tri Suci Waisak.

Suasana khidmat menyelimuti prosesi pemandian Buddha rupang. Hal tersebut terlihat dari kekompakan yang ditampilkan oleh relawan She Xiung dan She Cie, diikuti panitia perayaan Waisak Bersama Kota Singkawang yang berbaris dengan rapi sembari membawa  kembang, dan air hingga prosesi menyiramkan air suci ke rupang Buddha Sakyamuni semasa kecil.

Ketua Tima Yayasan Buddha Tzu Chi kantor penghubung Kota Singkawang, Bong Sui Khim menyampaikan, prosesi memandikan Buddha rupang diawali dengan penghormatan kepada sang Buddha, dilanjutkan penyalaan pelita, persembahan air suci, dan bunga.

Dijelaskannya, memandikan Buddha rupang, sama artinya dengan membersihkan noda-noda kekotoran batin, sehingga terpancarlah kebijaksanaan dalam diri.

“Prosesi pemandian Buddha rupang, dalam rangka perayaan hari Tri Suci Waisak 2562 ini memiliki makna, yakni membersihkan noda kekotoran yang bersemayam di hati, sehingga batin kembali menjadi suci, penuh cinta kasih, dan bijaksana, karena sebenarnya di dalam hati kita telah ada sifat Buddha. Yang kita perlukan untuk mengembangkannya ialah dengan merasa bersyukur, menghormati dan saling mengasihi, saling menghormati, dan saling menyayangi tidak hanya antar umat Buddha, tetapi juga sesama makhluk hidup di alam semesta,” ujarnya.

Prosesi memandikan Buddha rupang dibagi menjadi delapan blok yang membentuk persegi. Barisan pertama dari setiap persegi terdiri dari relawan komite dan komite kehormatan. Mereka mempersembahkan lilin dan air.

Sedangkan relawan barisan kedua dari setiap persegi mempersembahkan bunga. Setelah mempersembahkan lilin, air, dan bunga, para relawan mengarahkan peserta memandikan rupang Buddha.

Usai prosesi pemandian Buddha Rupang, dilanjutkan dengan melakukan pradaksina yaitu meditasi berjalan mengitari barisan dengan konsentrasi diiringi lagu Jing Ji Qing Cheng.

“Dengan mengitari Buddha yang diiringi lagu Jing Ji Qing Cheng, kita berharap semoga doa cinta kasih yang dipanjatkan terdengar oleh Buddha, sehingga kehidupan di dunia ini menjadi damai sentosa, aman, dan sejahtera, terbebas dari bencana dan musibah. Semoga Dharma ajaran Buddha bisa berkembang, dan kita semua berjalan di jalan Bodhisatwa untuk menjalani hidup yang bajik dan benar,” pungkasnya.

Ritual pemandian Buddha rupang diakhiri dengan ramah tamah, foto bersama dan menikmati hidangan masakan vegetarian. (Rio Dharmawan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.