Pilih Solo atau Yogyakarta Merayakan Imlek 2570 Menyaksikan Pertunjukkan Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa?

0 37

Solo dan Yogya memiliki agenda rutin dalam perayaan Imlek setiap tahunnya sebagai akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Solo akan memulai agenda Festival Imlek 2019 yang dipusatkan di kawasan Klenteng Tien Kok Sie Pasar Gedhe mulai 25 Januari hingga 5 Februari mendatang. Saat ini Pemkot Solo tengah memasang 5000 lampion guna memeriahkan perhelatan tersebut.

Ada beberapa agenda yang bisa disaksikan wisatawan yakni Solo Imlek Fair dengan suguhan pertunjukkan barongsai di Benteng Vastenburg, kemudian ada Grebeg Sudiro bernuansa toleransi mengingatkan datangnya warga Tionghoa ke Solo jauh sebelum berdirinya Keraton Kasunanan. Grebeg Sudiro mulai digelar pada 2007 merupakan perayaan menyambut Imlek sebagai pembauran budaya etnis Jawa dan Tionghoa di Kelurahan Sudiroprajan Kota Surakarta yang diterima masyarakat luas.

Grebeg Sudiro adalah wujud syukur etnis Tionghoa kepada dewa bumi, oleh karenanya terdapat acara perebutan gunungan berisi makanan khas peranakan seperti kue keranjang, bakpou, dan sebagainya. Tradisi gunungan merupakan adat masyarakat Jawa. Sebelumnya juga digelar kirab di mana para peserta berdandan budaya Tionghoa, selain itu beragam tarian Jawa turut dipertunjukkan.

Sementara itu persiapan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) yang diselenggarakan sejak 2006 telah dilakukan beberapa bulan lalu dengan menggarap konsep acara. Ketua Hoo Hap Hwee Hary Tendean yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan PBTY XIV melaporkan jumlah tenant sebanyak 150 dan terdapat tujuh panggung yang menampilkan beragam kesenian dan budaya masyarakat Tionghoa.

PBTY tak sekedar festival bagi masyarakat Tionghoa tetapi telah menjadi festival kebudayaan bagi seluruh warga Yogya, ujar Hary kepada harianjogja.com.  PBTY sebagai salah satu simbol keberagaman yang tumbuh secara harmonis dan setiap tahunnya diselenggarakan dengan mengusung tema berbeda. PBTY juga menjadi barometer akulturasi budaya yang mewarnai Yogya diharapkan tercipta harmoni antar masing-masing budaya, saling hidup berdampingan, rukun, damai, dan selaras dengan Bhineka tunggal Ika, imbuh Hary.

Selama acara PBTY digelar, masyarakat dimanjakan dengan berderet stan kuliner bertema makanan khas Tionghoa selain menikmati hiburan atraksi barongsai, wayang potehi, kirab budaya dan lomba. PBTY digelar di kawasan Malioboro, Kampung Ketandan dan Alun Alun Utara Yogyakarta. Pada perayaan PBTY tahun lalu disajikan wahana Taman Lampion yang banyak menjadi tempat berswafoto para pengunjung. Selain itu hadir pula pameran wayang potehi lengkap dengan keterangan sejarahnya.

PBTY berjalan dari tahun ke tahun diharapkan menjadi kalender even nasional pariwisata dan Kemenpar telah  memberi dukungan mempromosikan kegiatan tersebut dua tahun berturut-turut.

Bagaimana apakah merayakan Imlek kali ini memilih ke Soloatau Yogyakarta untuk menyaksikan pertunjukkan akulturasi dua budaya menarik.Bila memilih ke PBTY akan mendapati banyak sajian  makanan khas. Sedangkan Festival Imlek di Solomenyajikan pertunjukkan budaya sambil berbelanja dan menikmati keindahan kota berhias ribuan lampion. Unggahan foto-foto para nitizen di media sosial bisa menjadireferensi untuk memilih ke PBTY XIV atau Festival Imlek Solo 2019.

Leave A Reply

Your email address will not be published.