Warning: call_user_func_array() expects parameter 1 to be a valid callback, function 'ot_custom_fonts' not found or invalid function name in /home/wfjwpsuu/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php on line 286
Weather , , 0°C

印华日报

BERITA INHUA

 Breaking News

Petai dan Jengkol, Penguasa Tanah Jawa

Petai dan Jengkol, Penguasa Tanah Jawa
April 17
21:17 2018

Asam di gunung, garam di laut. Petai di Jawa Tengah, jengkol di Jawa Barat. Dari sejumlah provinsi penghasil petai pada 2015, yang terbesar adalah Jateng (72.757 ton atau 27,86 persen nasional).

Sedangkan untuk jengkol, provinsi penghasil terbesar adalah Jabar (10.929 ton, atau 18,63 persen nasional).

Demikian menurut Statistik Tanaman Buah-buahan dan Sayuran Tahunan 2015, yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik, Oktober 2016.

Petai (Parkia speciosa) dan jengkol (Archidendron pauciflorum) oleh BPS digolongkan sebagai tiga tanaman sayuran tahunan bersama melinjo (Gnetum gnemon).

Dari tiga jenis biji itu, urutan teratas produksi nasional 2015 ditongkrongi petai (261.063 ton), disusul oleh melinjo (213.025 ton), dan kemudian jengkol (58.691 ton).

Perbedaan ketiganya, melinjo cenderung tak membikin malu pemangsanya. Nyaman saja orang mengunyah emping dan menikmati sayur asam. Padahal konsumsi melinjo berlebihan tak dianjurkan bagi pasien berasam urat tinggi.

Sedangkan petai dan jengkol seolah dibutuhkan namun kadang tanpa kebanggaan. Mungkin karena bau napas penyantapnya, dan ehm… bau urine dan buangan lain, yang sangat tidak sedap.

Dari sisi kesehatan, konsumsi jengkol tanpa batas dapat mengakibatkan kejengkolan. Ada rasa sakit saat pipis, bahkan tidak bisa kencing. Menurut Dokter Mega Putri, kejengkolan berat harus ditangani rumah sakit (Klikdokter, 2016).

Menyantap petai atau jengkol — mungkin bisa juga keduanya, berbarengan — dalam jumlah banyak, apalagi saat kencan pertama, dianggap kurang elok. Dari pelacakan sepintas, petai dan jengkol tak dibahas dalam kicauan tentang Hari Velentin.

Sejauh ini hotel hanya melarang tetamu membawa masuk durian ke dalam kamar. Belum ada larangan membawa sekotak besar jengkol untuk dinikmati dalam kamar maupun saat berbaring di atas kursi malas tepi kolam renang.

Lalu bagaimana cara bepergian membawa petai dan jengkol?

Bertanyalah kepada Khatibul Umam Wiranu (50), politikus pecandu jengkol, anggota DPR dari Partai Demokrat. Ia sering bepergian berbekal petai dan jengkol.

“Saya penggemar pete dan jengkol. Selalu saya bawa bila ke luar kota. Istri selalu sediakan dan sudah menaruhnya dalam tas saya,” ia berujar tahun lalu.

Umam berasal dari Cilongok, Banyumas, Jateng, provinsi penghasil petai. Di belakang rumahnya ada pohon petai.

Setelah tinggal di Depok, Jawa Barat, kegiatan akhir pekan Umam adalah, “Hari Sabtu atau Minggu pagi, saya pergi sama istri ke pasar pagi Depok, Beji. Saya beli pete dalam jumlah banyak dan jengkol.” (Antara News, 1/6/2016)

Umam pernah mendirikan Gerakan Perjuangan Anti-Diskriminasi. Belum jelas adakah pertaliannya dengan petai dan jengkol.

BERITAGAR

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment