Peringatan Hari Jadi Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) ke-96

0 11

Tiong Hoa Hwee Kwan (Zhong Hua Hui Guan) yang berdiri pada tanggal 17 Maret 1900 merupakan cikal bakal berdirinya MATAKIN yang mana bertujuan ingin memurnikan kehidupan keagamaan umat dan menghapuskan sinkretisasi di dalam pengajaran Agama Khonghucu serta membangun lembaga pendidikan bagi anak-anak keturunan Tiong Hoa.

Perkembangan Tiong Hoa Hwee Kwan kemudian ternyata lebih cenderung hanya menggeluti masalah pendidikan umum, oleh karena itu seksi keagamaan dalam tubuh Tiong Hoa Hwee Kwanberkembang dan memisahkan diri, selanjutnya mendirikan lembaga agama yang diberi nama Khong Kauw Hwee (Kong Jiao Hui). Pada tahun 1923 di Yogyakarta diselenggarakan kongres pertama dan dibentuk Khong Kauw Tjong Hwee (Kong Jiao Zong Hui / Majelis Pusat Agama Khonghucu) yang mana seiring perkembangan beberapa kali berganti nama hingga pada tahun 1967 diputuskan menggunakan nama “Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)” sampai sekarang.

Dalam rangka memperingati hari jadi ke-96, Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) pada tanggal 24 April 2019, bertempat di Redtop Hotel & Convention Center Jakartamenggelar acara “Syukuran Peringatan 96 Tahun MATAKIN”. Tema yang diusung adalah: “Bersalah tapi tak mau memperbaiki, ini benar-benar kesalahan”. Kesalahan yang sebenarnya dalam kehidupan adalah saat sadar telah berbuat salah, namun tidak berniat memperbaiki diri. Maka tema ini bertujuan mengingatkan kita semua, bahwa untuk dapat membangun Indonesia menjadi lebih baik, tiada lain dengan senantiasa memeriksa diri, jujur terhadap diri sendiri, selalu memperbaharui diri agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Dalam acara ini akan diselenggarakan Talk Show bertajuk “Bakti Pada Negeri” dengan narasumber Xs. Budi S. Tanuwibowo (Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat MATAKIN) yang membahas bakti pada bangsa dan negara menurut ajaran agama Khonghucu, Victor R. Hartono (CEO Djarum Foundation) akan memaparkan Kiprah Djarum Foundation sampai dengan saat sekarang.

Selain dua tokoh tersebut, MATAKIN pun mendatangkan penggiat kesenian dan budaya Tionghoayang tetap bertahan meskipun mengalami masa “pelarangan” di era orde baru yaitu Toni Harsono/Tok Hok Lay yang merupakan penggiat dan pelestari budaya Wayang Potehi asal Gudo, Jombang, Jawa Timur. Beliau merupakan cucu dari yang merupakan “Dalang”tersohor pada abad ke-20 dan anak dari yang menjadi penerus warisan leluhur tersebut. Satu lagi yang tak kalah menarik adalah dengan dihadirkannya salah satu tokoh penggiat dan pelestari Lenong, yaitu Lim Ping Liang. Seperti diketahui Lenong merupakan kesenian teater budaya betawi yang diringi dengan musik gambang kromong yang merupakan perpaduan alat musik daerah dengan alat musik Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong.

Dengan dihadirkannya para narasumber yang membagi pengalaman mengenai kiprah dan kontribusi mereka ketika berupaya menjadi bagian dalam membangun negara tercinta Republik Indonesia diharapkan akan menginspirasi peserta yang hadir dalam acara ini.

Leave A Reply

Your email address will not be published.