Penerapan RIPH untuk Pengembangan Cocok Tanam Bawang Putih di Batang, Jateng

0 2

Sekretariat Tim MoU (Memorandum of Understanding) Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melihat perlunya perhitungan cermat pada penerapan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) khususnya bawang putih, sehingga importir dan petani sama-sama untung. Sekretariat sudah menerapkan RIPH pada proyek budidaya di kecamatan Bawang, kabupaten Batang Jawa Tengah yang melibatkan perusahaan konsultan PT Bulir Padi Lintas Nusantara. “Kami sudah menerapkan RIPH untuk pengembangan cocok tanam bawang putih di Batang. Karena ketentuannya, importir harus menanam 5% (lima persen) dari kuota impor yang diajukan. Importasi kami sebesar 10.000 ton dibagi lima persen, hasilnya 83 hektar (untuk ditanam bawang putih). Penanaman harus tuntas,” Iman Heoruman dari Sekretariat mengatakan kepada Redaksi.

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 16/2017 tentang RIPH ditujukan untuk pencapaian target swasembada bawang putih. Importasi produk hortikultura terutama yang bernilai ekonomis dan strategis termasuk bawang putih harus dengan pengaturan, yakni RIPH. Selain, produk bernilai ekonomis dan strategis juga mempengaruhi inflasi. “Ketentuan RIPH sudah bagus. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga me-review (hasil penerapan RIPH). Kami juga yakin, RIPH simultan dengan target swasembada bawang putih,” tegas Iman.

Sebelumnya Kementerian Pertanian menyatakan sedikitnya 60.000 ton bawang putih asal Tiongkok sudah masuk ke Indonesia awal Mei yang lalu, melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Tanjung Priok Jakarta. Jumlah tersebut merupakan tahap awal dari persetujuan impor yang telah dikeluarkan Kementerian Perdagangan bagi perusahaan swasta mencapai 115.675 ton. Bawang putih tersebut diprioritaskan untuk mengamankan pasokan di bulan puasa dan Lebaran. Pasokan bawang putih akan segera normal seiring dengan masuknya impor asal China sebanyak 60.000 ton pada minggu pertama Mei. Pemerintah telah melakukan berbagai langkah konkret untuk menstabilkan pasokan bawang putih. “Kami sempat gelar Bazar Ramadan di Pasar Santa (Kebayoran Baru, Jakarta Selatan). Kami jual bawang putih impor untuk stabilisasi harga. Kami juga juga bawang hasil cocok tanam dari Batang. Harga kan tinggi, (yakni) Rp 45 ribu. Kami jual Rp 28 ribu per kilo. Bawang impor hanya untuktrigger selain kami mengedukasi, mengalihkan teknologi khususnya dari China untuk pertanian di Indonesia. Bawang putih local tetap berkualitas lebih bagus, terutama rasa yang lebih pedas dan aromanya. Kekurangan kita disbanding Tiongkok, produktivitas kita yang rendah,” tegas Iman.

PT Bulir Padi bersama Kadin juga secara simultan mengubah pola pertanian, dari yang tradisional menjadi semi modern. Sehingga PT Bulir Padi juga sempat mengundang tenaga ahli pertanian dari Taiwan yang memang lebih unggul termasuk teknologinya. Kapasitas produksi petani bawang hanya sekitar 6 ton per hektar per masa panen. Hasil tersebut, 6 ton masih dalam kondisi basah. Untuk menghasilkan bawang yang kering, rata-rata hanya 60 persen dari 6 ton tersebut. Sehingga PT Bulir Padi juga berupaya mencari lahan cocok tanam yang lebih tinggi. “Idealnya, ketinggian lahan sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Semakin tinggi, semakin bagus. Daerah dingin di Jawa Tengah terutama kabupaten Karanganyar, Batang sudah ideal. Selain, di Sembalun Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), kabupaten Mamasa (Sulawesi Barat), Bromo (kota Batu Jawa Timur), Solok (Sumatera Barat), Samosir, Berastagi Karo, Rantau Prapat (Sumatera Utara) bisa dipertimbangkan,” kata Iman.(Fendy /Liushi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.